Beranda Budaya Orasi Budaya Syarifuddin Arifin: Sebuah Taman Ditumbuhi Beton Tak Berdaun

Orasi Budaya Syarifuddin Arifin: Sebuah Taman Ditumbuhi Beton Tak Berdaun

Orasi Budaya
(Orasi Budaya, disampaikan di Panggung Ekspresi Seniman Budayawan ke Ill, tgl. 13 Maret 2023 di Taman Budaya Sumbar)

Forum Peduli Rumah Seniman Budayawan, pada Senin (13/2/2023) menggelar kegiatan Panggung Ekspresi Kesenian dan Orasi Budaya di plataran parkir Taman Budaya Sumatera Barat.

Panggung Ekspresi ini merupakan respon dari para seniman Sumatera Barat terhadap alih fungsi Taman Budaya Sumatera Barat.

Orasi Budaya ini salah satu bentuk penolakan seniman dan budayawan terkait rencana pembangunan hotel di kawasan taman budaya ini.

Taman Budaya merupakan sarana bagi para seniman untuk mengembangkan dan melahirkan inovasinya dalam berkesenian.

Taman Budaya juga merupakan fasilitator antara seniman dengan penggemarnya. Untuk itu Forum Peduli Rumah Seniman Budayawan Sumatera Barat berharap fungsi Taman Budaya tersebut diperuntukkan bagi seluruh seniman di Indonesia.

Dalam panggung kesenian dan orasi kebudayaan tersebut, juga melibatkan seluruh para seniman di Sumatera Barat, yang dipadukan dalam bentuk orasi, tarian, puisi dan teater.

Panggung kesenian dan orasi budaya ini, juga dihadiri seniman dari Jakarta dan seluruh seniman di Sumatera Barat.

Orasi Budaya oleh Syarifuddin Arifin

Bila tak ada api, tentu tak ada asap. Sepantun langit biru tak berawan, siang menjadi terik.
Akhir-akhir ini, jika menyimak berita mainstream, para pejabat di Kementerian Keuangan lagi hobi mencuci uang. Gaya hidup keluarga yang hedonis, membuat orang yang tak, jadi muak. Yang dicuci ya uang. Kerennya money loundry. Berita ini mengalahkan popularitas permainan lato-lato. Mentri Keuangan, Sri Mulyani berang. Pada bagian lain, Menteri BUMN, Erick Tohir tiba-tiba  manut, tampak mengalah demi keselamatan masyarakat Depo Minyak di Plumpang dipindah dan Direktur Penunjang Teknisnya, Dedi Sunardi dicopot.
Musibah Tanah Merah Bawah yang makan korban terbakar belasan orang akibat depo Pertamina Plumpang dimamah sigulambai
Muncul berbagai tanggapan dari kaum “nyinyiran”, pro dan kontra. Apa pun itu, tindakan ke dua menteri tersebut, untuk sementara dapat jempol.
Hmmm…. yang hobi ngomongpun kian nyinyir. Buka lapak: beli dan jual lagi.
Seharusnya di sebuah taman, orang merasa adem. Sesuai fungsinya sebagai ruang publik.
Fasilitas untuk bermain tercukupi, sejalan dengan jenis dan pemanfaatan taman tersebut. Misal, Taman Budaya. Di sana ada fasilitas aneka bentuk dan jenis seni budaya, seperti panggung pertunjukan, gallery, ruang latihan, ruang bacaran (diskusi). Peralatan kesenian dan senimannya yang giat berlatih, berkreasi, mengolaborasi, inovatif, dan menggelar, mempertunjukkannya.
Ketika Taman Budaya diserahkan ke provinsi,  berubahlah kebijakan pengelolaannya. Gedung lama dibongkar dan bikin baru. Biar lebih mentereng, termegah di Indonesia bagian barat.
Ternyata? Mangkrak!
Pemborongnya berulah.
Tiang-tiang beton meranggas, dan sebagiannya tampak murung, diam menghitam.
Bagaikan hutan yang dibabat, pohon-pohon beton itu tak berdaun.
Eh, tiba-tiba sebagiannya,  pada Zone C terjadi perubahan fungsi menjadi hotel. Muncul polemik.
Pihak Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat, mengundang 10 orang seniman dan budayawan untuk diskusi terpumpun. Di undangan tertulis Forum Group Discussion (FGD) DED Reviu Gedung Kebudayaan Sumatera Barat, tentang perubahan fungsi Zona C GKSB.
Pada hal, ketika lahan bangunan dipagar dan pekerjaan sudah dimulai, para seniman-budayawan yang diundang itu tidak merasa ada keganjilan. Justru, FGD 22 Desember 2022 itulah yang memicu adrenalin, karena merasa diranjau. 8 orang menolak, satu orang tidak komentar, dan satu orang tidak hadir. Uraian dan komentar peserta FGD tersebut sudah diekspos oleh Yulizal Yunus. Mubazir bila diulang lagi di sini.
Selang 2 hari kemudian, 24 Desember 2022, saya diundang Joni Andra, host podcast  Pod Bungo, Yuang Tagie. Youtuber itu berhasil memancing komentar.
Saya tidak menolak pembangunan. Tapi bila terjadi perubahan fungsi dengan mengabaikan Zone B, rumah kreatif bagi seniman, ini pelecehan. Muncul kesan, Pemprov telah melakukan penipuan publik. Kesan ini semakin nyata ketika Gubernur Mahyeldi menyebut baru tahap wacana.
Hidayat, anggota DPRD Sumbar menelpon saya dan ditindaklanjuti dengan turun ke bawah, mendengar aspirasi seniman. Sastrawan Gustf di Payakumbuh pun ikut memberi jempol. Pencipta lagu Minang Pop yang legendaris, DR. Agusli Thaher menelepon saya dan memberi dukungan. Beberapa hari kemudian muncul tulisannya di inspirationcorner.com yang mengkritisi bahwa hotel di Padang sudah berlebih, dibanding dengan jumlah wisatawan yang menginap.
Menurut Agus Thaher, wisatawan yang berkunjung ke Padang hanya separuh dari kunjungan ke Bukittinggi. Selebihnya menyebar ke kota-kabupaten lain. Terbanyak memilih Bukittinggi sebagaimana data DTW tahun 2021 yakni 748.074 kunjungan, Kab. Pessel 703. 300, Kab 50 Kota, 625.155, Kab Agam, 509.428 dan  ke Kota Padang hanya 376.534 kunjungan. Selain itu, jumlah penginapan, hotel di sekitar Taman Budaya saat ini lebih dari 50.

Teks Asli Syarifuddin Arifin

Facebook Comments