Saham SRTG Masuk Fase Recovery, Resistance Rp1.700 Jadi Penentu
Oleh: Supardi,SE,CFP
Branch Manager .MNC SEKURITAS CABANG PADANG
KabaSumbar -- Saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mulai menunjukkan tanda pemulihan pada perdagangan 5 November 2026. Peningkatan volume pembelian dan keberhasilan harga menembus MA20 menjadi sinyal yang menarik perhatian investor. Kini, pelaku pasar mencermati level Rp1.700 sebagai batas penting untuk melihat peluang penguatan berikutnya.
Tim Analis MNC Sekuritas menilai SRTG sedang berada dalam fase recovery. Jika harga mampu melewati resistance Rp1.700 sekaligus MA200, saham ini berpeluang melanjutkan kenaikan menuju Rp1.740 hingga Rp1.835.
Namun, investor masih perlu memperhatikan kondisi fundamental perusahaan dan aktivitas transaksi di pasar.
Asing Berbalik Net Sell, Broker Besar Terpantau Akumulasi
Pada perdagangan 5 November 2026, investor asing mencatatkan net sell setelah empat hari berturut-turut membukukan net buy, mulai 30 Oktober hingga 4 November 2026.
Berdasarkan data perdagangan yang menjadi acuan analisis, saham SRTG dibuka pada Rp1.605. Harga tertinggi mencapai Rp1.690, sedangkan posisi terendah berada di Rp1.595.
Di tengah perubahan arus dana asing, sejumlah broker besar tercatat melakukan akumulasi dengan harga rata-rata sekitar Rp1.650. Pembelian terbesar berada di Rp1.660, sementara transaksi penjualan terbesar tercatat pada Rp1.650.
Aktivitas tersebut memperlihatkan adanya transaksi dalam jumlah besar di sekitar area Rp1.650. Investor tetap perlu mencermati perkembangan volume dan arah transaksi pada perdagangan berikutnya sebelum mengambil keputusan.
Saratoga Mengandalkan Portofolio Investasi di Berbagai Sektor
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk berdiri pada 1997. Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Salahuddin Uno mendirikan perusahaan investasi ini sebelum membawa SRTG melantai di Bursa Efek Indonesia pada 26 Juni 2013.
Saratoga menempatkan investasi pada perusahaan yang bergerak di sektor energi, pertambangan, infrastruktur, konstruksi, otomotif, hingga gas industri.
Beberapa perusahaan terbuka yang masuk dalam portofolio investasinya antara lain:
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), perusahaan yang bergerak di sektor energi dan sumber daya mineral.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), perusahaan pertambangan emas dan tembaga.
- PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan yang mengembangkan bisnis bahan baku baterai kendaraan listrik.
- PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), penyedia infrastruktur menara telekomunikasi.
- PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), perusahaan konstruksi dan pembangunan infrastruktur.
- PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), perusahaan di sektor otomotif dan layanan mobilitas.
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), produsen dan pemasok gas industri.
Kinerja perusahaan-perusahaan tersebut ikut memengaruhi nilai investasi Saratoga. Ketika harga saham dalam portofolio menguat, nilai aset investasi berpotensi meningkat. Sebaliknya, koreksi pasar dapat menekan valuasi dan laba perusahaan.
Rugi Rp3,87 Triliun pada Semester I 2026
Kinerja keuangan menjadi salah satu perhatian investor terhadap saham SRTG.
Pada semester pertama 2026, Saratoga membukukan rugi bersih sekitar Rp3,87 triliun. Kerugian tersebut terutama berasal dari rugi neto investasi pada saham dan efek lainnya yang mencapai Rp4,83 triliun.
Perubahan nilai pasar portofolio menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil tersebut. Karakter bisnis Saratoga membuat pergerakan harga saham perusahaan investasinya memiliki pengaruh besar terhadap laporan laba rugi.
Namun, laporan keuangan periode sembilan bulan hingga 30 September 2026 memperlihatkan perkembangan berbeda. Saratoga mencatat laba periode berjalan sekitar Rp3,47 triliun, dengan keuntungan neto investasi saham dan efek lainnya mencapai sekitar Rp3,22 triliun.
Perubahan tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh fluktuasi nilai investasi terhadap kinerja keuangan SRTG. Investor perlu membaca laba bersih bersama komposisi aset, arus kas, dan keuntungan investasi yang sudah direalisasikan.
Saratoga Bagikan Dividen Rp1,40 Triliun
Selain hasil investasi, Saratoga juga membagikan dividen tunai sekitar Rp1,40 triliun atau setara Rp103,3 per saham.
Perusahaan membayarkan dividen tersebut pada 12 Juni 2026 untuk tahun buku 2025.
Bagi pemegang saham, dividen menjadi salah satu komponen imbal hasil investasi. Meski demikian, investor tetap perlu memperhitungkan harga beli, potensi perubahan harga saham, dan risiko penurunan nilai portofolio.
Analisis Teknikal SRTG: Resistance Rp1.700 Jadi Perhatian
Tim Analis MNC Sekuritas menempatkan saham SRTG dalam kategori Buy If Break. Strategi ini mengacu pada peluang pembelian setelah harga berhasil menembus resistance yang telah ditentukan.
Dari indikator teknikal, SRTG sudah melewati MA20 dan mendapat dukungan peningkatan volume pembelian.
MACD juga mulai memperlihatkan penyempitan jarak di area negatif. Kondisi tersebut membuka peluang terbentuknya golden cross. Sementara itu, Stochastic bergerak naik mendekati area overbought.
Berikut level teknikal SRTG yang perlu diperhatikan:
| Indikator | Level |
|---|---|
| Support | Rp1.625 |
| Resistance | Rp1.700 |
| Target pertama | Rp1.740 |
| Target berikutnya | Rp1.835 |
| Strategi | Buy If Break |
SRTG perlu melewati Rp1.700 sekaligus MA200 untuk mengonfirmasi peluang penguatan. Volume transaksi juga perlu mendukung penembusan tersebut agar kenaikan harga memiliki konfirmasi yang lebih kuat.
Jika harga gagal melewati resistance, investor perlu mencermati support Rp1.625. Penurunan di bawah area tersebut dapat melemahkan skenario pemulihan jangka pendek.
Peluang dan Risiko yang Perlu Dicermati Investor
Pergerakan saham SRTG berkaitan erat dengan kondisi perusahaan-perusahaan dalam portofolio investasinya. Perubahan harga saham ADRO, MDKA, MBMA, dan emiten lainnya dapat memengaruhi nilai investasi Saratoga.
Investor juga perlu memperhatikan perkembangan arus dana asing. Peralihan dari net buy menjadi net sell pada 5 November 2026 menjadi salah satu data yang layak masuk dalam pertimbangan perdagangan.
Dari sisi teknikal, penembusan Rp1.700 menjadi konfirmasi penting bagi peluang kenaikan menuju Rp1.740 hingga Rp1.835. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan support Rp1.625 dapat mengubah prospek jangka pendek.
Dengan kondisi tersebut, investor sebaiknya memperhitungkan risiko fundamental dan teknikal sebelum mengambil posisi pada saham SRTG.
Mulai perjalanan investasi Anda dari edukasi yang tepat.
Gabung gratis di Grup Edukasi Saham IDX dan MNC Sekuritas Padang untuk mendapatkan materi pembelajaran, informasi kelas, diskusi pasar modal, dan kesempatan mengikuti program sertifikasi BEI.
Gabung Group: Klik di sini untuk bergabung
Disclaimer On: Informasi ini merupakan bahan edukasi dan analisis pasar modal, bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor dengan mempertimbangkan profil risiko.