Saham BRIS: Laba BSI Tumbuh 10%, Asing Mulai Akumulasi

Saham BRIS: Laba BSI Tumbuh 10%, Asing Mulai Akumulasi

Oleh: Supardi,SE,CFP
Branch Manager .MNC SEKURITAS CABANG PADANG

KabaSumbar -- Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat laba bersih Rp5,30 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 10,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada perdagangan 3 November 2026, saham BRIS juga mencatat pembelian bersih investor asing sekitar Rp47,2 miliar setelah lima hari mengalami net sell.

Dua perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar. Kinerja keuangan BSI masih tumbuh, sementara transaksi asing mulai menunjukkan perubahan arah. Namun, pergerakan harga saham BRIS belum memperlihatkan tanda pembalikan tren yang kuat.

Kinerja BSI Tumbuh, Laba Mencapai Rp5,30 Triliun

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk merupakan hasil merger tiga bank syariah milik negara, yakni Bank BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah. BSI mulai beroperasi pada 1 Februari 2021.

Perusahaan menjalankan usaha perbankan berdasarkan prinsip syariah. Layanannya mencakup tabungan, giro, deposito, pembiayaan rumah, kendaraan, modal kerja, investasi, pembiayaan mikro, hingga gadai emas.

BSI juga mengembangkan layanan transaksi digital melalui BYOND by BSI. Nasabah dapat membuka rekening secara daring dan melakukan berbagai transaksi tanpa harus datang ke kantor cabang.

Dari sisi jaringan, BSI memiliki lebih dari 1.130 kantor cabang dan sekitar 6.000 ATM. Perusahaan juga mengembangkan jaringan agen yang menjangkau wilayah pedesaan, perbatasan, hingga pulau-pulau terluar Indonesia.

Kinerja keuangan menjadi salah satu perhatian investor. Hingga Agustus 2026, BSI membukukan laba bersih Rp5,30 triliun, meningkat 10,07 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Pada semester pertama 2026, laba bersih perusahaan mencapai Rp4,16 triliun dengan pertumbuhan sekitar 11 persen YoY.

Manajemen BSI mengandalkan pertumbuhan pembiayaan, pengelolaan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA), bisnis emas, serta pendapatan berbasis biaya atau fee based income untuk menopang kinerja perusahaan.

Pertumbuhan laba tersebut memberikan gambaran positif mengenai aktivitas bisnis BSI. Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan kualitas pembiayaan dan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan pada periode berikutnya.

Investor Asing Kembali Membeli Saham BRIS

Perdagangan saham BRIS pada Selasa, 3 November 2026, memperlihatkan perubahan aktivitas investor asing. Setelah mencatat net sell selama lima hari perdagangan sebelumnya, investor asing kembali melakukan pembelian bersih sekitar Rp47,2 miliar.

Aktivitas tersebut menarik perhatian karena terjadi ketika harga saham masih menghadapi tekanan jual.

Pada perdagangan yang sama, BRIS bergerak dalam rentang Rp1.000 hingga Rp1.050. Harga penutupan berada di sekitar Rp1.010, turun sekitar 0,49 persen.

Data transaksi broker yang menjadi bahan analisis menunjukkan aktivitas pembelian besar terkonsentrasi di kisaran Rp1.025, dengan rata-rata pembelian sekitar Rp1.020. Sementara itu, transaksi penjualan terbesar berada di sekitar Rp1.035.

Rentang harga tersebut dapat menjadi bahan pengamatan untuk melihat aktivitas pelaku pasar pada perdagangan selanjutnya.

Namun, net buy asing belum cukup untuk memastikan BRIS memasuki tren kenaikan. Investor perlu mengamati apakah pembelian berlanjut dan mampu mengangkat harga melewati area transaksi sebelumnya.

Analisis Teknikal BRIS: Support Rp970, Resistance Rp1.070

Tim Analis MNC Sekuritas memberikan pandangan Speculative Buy untuk saham BRIS dengan level support Rp970 dan resistance Rp1.070.

Analisis tersebut masih mencatat BRIS berada dalam tren penurunan yang kuat. Tekanan jual juga meningkat, sehingga investor perlu memperhitungkan risiko sebelum mengambil posisi.

Indikator MACD masih bergerak di area negatif. Kondisi tersebut memperlihatkan momentum pelemahan belum berakhir. Sementara itu, Stochastic belum memberikan sinyal pembalikan arah yang kuat.

Level teknikal saham BRIS:

  • Support: Rp970
  • Resistance pertama: Rp1.070
  • Target pemulihan berikutnya: Rp1.145
  • Rata-rata pembelian broker: Rp1.020

Tim Analis MNC Sekuritas menilai investor dapat mencermati area Rp970 untuk strategi Speculative Buy. Skenario tersebut berlaku selama harga mampu bertahan di atas support.

Jika pembeli kembali mendominasi transaksi, BRIS berpeluang bergerak menuju Rp1.070. Pergerakan selanjutnya dapat mengarah ke Rp1.145 sekaligus menguji garis Moving Average 20 (MA20).

Sebaliknya, jika harga menembus Rp970 ke bawah, investor perlu mewaspadai tekanan jual lanjutan. Kondisi tersebut dapat menggagalkan skenario pemulihan jangka pendek.

Peluang dan Risiko Saham BRIS

Pertumbuhan laba BSI menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek fundamental perusahaan. Ekspansi pembiayaan dan pengembangan bisnis digital juga menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas layanan perbankan syariah.

Di pasar saham, kembalinya net buy asing dapat menjadi perhatian investor. Namun, aktivitas tersebut perlu dilihat dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya untuk mengetahui apakah pembelian berlangsung konsisten.

Investor jangka pendek sebaiknya memperhatikan pergerakan harga di sekitar Rp970 dan Rp1.070. Kedua level tersebut menjadi acuan dalam membaca peluang pemulihan maupun risiko pelemahan.

Bagi investor jangka panjang, laporan keuangan berikutnya dapat memberikan gambaran mengenai kemampuan BSI mempertahankan pertumbuhan laba. Perkembangan pembiayaan bermasalah, biaya dana, dan pendapatan operasional juga layak masuk dalam pertimbangan.

Perluas wawasan investasi Anda.

Ikuti Grup Edukasi Saham IDX dan MNC Sekuritas Padang secara gratis. Anda dapat berdiskusi, mengikuti kelas pasar modal, serta memperoleh informasi mengenai sertifikasi BEI.

Gabung Group: Klik di sini untuk bergabung

Disclaimer On: Artikel ini merupakan informasi dan analisis pasar modal, bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

saham BRIS Bank Syariah Indonesia BSI saham perbankan BEI net buy asing analisis saham investasi saham