Mewaspadai Ikan Sapu-sapu di Sumatera Barat
Mewaspadai Ikan Sapu-Sapu di Sumatera Barat
Oleh: Kurniadi Ilham
(Dosen Departemen Biologi, Fakultas MIPA Unand Padang)
Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirim foto melalui WA. Foto seekor ikan yang didapatkan anak-anak sekitar rumahnya di salah satu banda (selokan) yang ada di Kota Padang. “Pak, ikan apa ini? Bentuknya menyeramkan tapi seperti sudah pernah saya lihat sebelumnya.” begitu kalimat pembuka yang disertakannya. Saya terkejut melihatnya, karena kemungkinan itu adalah ikan Sapu-sapu.
Ikan Sapu-sapu biasanya kita temukan dalam akuarium di rumah-rumah. Dia dipelihara karena penampilannya yang keren, eksotik dan memiliki kemampuan membersihkan lumut-lumut dan alga di dinding akuarium.
Jika benar ikan ini ditemukan di saluran air (banda) bisa jadi ini adalah sinyal dari bahaya besar yang mulai mengancam keselamatan lingkungan kita. Mengapa? Mari kita bahas.
Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) bukan ikan asli negeri kita. Dia pendatang dari negeri yang jauh. Beberapa literatur mengatakan ikan ini adalah ikan liar yang berasal dari daerah aliran Sungai Amazon dan Orinoko di Amerika Selatan. Diekspor ke berbagai negara untuk menjadi ikan hias karena bentuknya yang eksotis dan fungsional sebagai vacum cleaner di akuarium.
Meskipun pada awal kehadirannya dimaksudkan untuk menjadi penghuni akuarium, tetapi fakta menunjukkan ikan Sapu-sapu sudah ditemukan di selokan-selokan, saluran irigasi, sungai dan danau. Mungkin terbuang tidak sengaja pada saat membersihkan akuarium, atau dibuang dengan sengaja ketika ukurannya bertambah besar dan tidak cocok lagi dengan akuarium di rumah.
Ketika ikan Sapu-sapu memasuki selokan di sekitar perumahan, di sinilah bencana itu bermula.
Di saat banyak spesies ikan asli (native fish) mengalami penurunan populasi akibat degradasi lingkungan seperti air selokan yang kotor dan bau, ikan Sapu-sapu justru berkembang pesat. Tidak banyak ikan yang mampu bertahan hidup di sungai yang keruh, miskin oksigen, penuh limbah, bahkan nyaris tidak lagi layak dihuni oleh ikan-ikan lokal. Namun, ikan Sapu-sapu justru menjadikan kondisi seperti itu sebagai "rumah" yang ideal.
Tubuhnya diselimuti pelat tulang (armored plates) yang berfungsi seperti baju zirah alami sehingga relatif aman dari predator. Mulutnya berbentuk cakram pengisap (suckermouth) yang memungkinkan ikan ini menempel kuat pada batu, kayu, maupun dinding sungai, bahkan ketika arus deras mengalir. Ia juga memiliki sirip dada dan sirip punggung yang kuat, serta duri-duri tajam yang membuatnya sulit dimangsa ikan lain. Kombinasi karakter tersebut menjadikannya salah satu ikan air tawar dengan tingkat adaptasi paling tinggi di dunia.
Keunggulan biologis ikan ini tidak berhenti di situ saja. Ia mampu berevolusi pada lingkungan yang sangat dinamis. Ia mampu mentoleransi kadar oksigen terlarut yang rendah dengan memanfaatkan modifikasi saluran pencernaannya untuk mengambil oksigen dari udara (facultative air-breathing). Ketika musim kemarau datang, ikan ini bahkan dapat bertahan berjam-jam di luar air yang lembap dan menggali liang di tebing sungai sebagai tempat berlindung maupun lokasi pemijahan. Kemampuan tersebut membuatnya tetap hidup pada kondisi yang mematikan bagi banyak spesies ikan lokal.
Sifat reproduksinya pun mendukung keberhasilan invasi. Induk jantan menggali terowongan sepanjang puluhan sentimeter di tepian sungai sebagai sarang, kemudian menjaga telur dan larva hingga menetas. Tingkat keberhasilan hidup anak ikan ini menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan banyak spesies ikan air tawar lainnya. Ditambah pertumbuhan yang cepat, toleransi lingkungan yang luas, dan pola makan yang sangat fleksibel—mulai dari alga, detritus, perifiton hingga berbagai bahan organik—populasinya dapat meningkat secara eksplosif ketika memasuki ekosistem baru.
Ironisnya, kemampuan luar biasa tersebut bukan berkembang di habitat asalnya, melainkan di berbagai negara akibat aktivitas manusia. Ikan Sapu-sapu pertama kali menyebar melalui perdagangan ikan hias. Ketika ukurannya membesar dan tidak lagi menarik dipelihara, banyak pemilik akuarium melepaskannya ke sungai atau waduk. Dari pelepasan yang tampak sepele itulah lahir salah satu spesies invasif air tawar yang kini telah tercatat mengkolonisasi sedikitnya 21 negara di lima benua, termasuk Indonesia.
Masalahnya bukan sekadar jumlahnya yang banyak. Kehadiran ikan Sapu-sapu mengubah struktur ekosistem. Mereka bersaing dengan ikan-ikan asli dalam memperebutkan ruang dan sumber makanan, mengikis komunitas perifiton yang menjadi sumber pakan organisme lain, menggali lubang-lubang pada tebing sungai sehingga mempercepat erosi, serta membentuk biomassa yang sangat besar sehingga mengubah siklus nutrien perairan. Penelitian terbaru bahkan menunjukkan bahwa keberadaan ikan Sapu-sapu mampu menurunkan tingkat kelangsungan hidup (survival) dan pertumbuhan ikan-ikan lokal pada fase telur hingga larva melalui kompetisi dan gangguan ekologis secara langsung.
Tidak mengherankan jika para ahli Biologi menempatkan ikan Sapu-sapu sebagai salah satu spesies invasif yang perlu dikendalikan. Di Indonesia, peningkatan populasinya telah dilaporkan di Sungai Ciliwung, Brantas, Bengawan Solo, Musi, Siak, hingga berbagai waduk dan danau di Pulau Jawa maupun Sumatera. Kehadirannya bahkan sering dianggap sebagai indikator bahwa kualitas suatu perairan telah mengalami degradasi, sebab spesies ini justru berkembang ketika banyak ikan asli tidak lagi mampu bertahan hidup.
Di kali Ciliwung Jakarta telah terjadi “Ledakan” populasi ikan Sapu-sapu. Menurut Gubernur DKI Pramono Anung pada Siaran Pers Resmi Pemda DKI 18 April 2026, peningkatan populasinya terjadi secara cepat dan bahkan telah menguasai 80-90% biota Kali Ciliwung. Ikan-ikan asli sudah sangat sulit ditemukan. Untuk itu mulai tanggal 17 April 2026, pemerintah DKI memulai operasi pembersihan ikan Sapu-sapu di kali Ciliwung. Dengan menerjunkan 640 orang personil, dalam satu hari saja berhasil ditangkap sekitar 68.880 ekor dengan total berat 6,98 ton. Hanya sedikit ikan dari spesies lain yang didapatkan. Ini membuktikan bahwa memang hampir seluruh Biota di kali Ciliwung telah dikuasai oleh ikan Sapu-sapu.
Secara ekologis, beberapa sungai di Sumatera Barat mengalami tekanan yang serupa dengan sungai-sungai di Pulau Jawa sebelum mengalami invasi, yakni peningkatan beban pencemaran, perubahan tata guna lahan, dan penurunan kualitas habitat. Kondisi seperti ini merupakan lingkungan yang sangat sesuai bagi Pterygoplichthys, spesies yang dikenal mampu bertahan pada perairan dengan kadar oksigen rendah dan tingkat pencemaran tinggi.
Oleh karena itu, Sumatera Barat seharusnya tidak menunggu hingga ikan sapu-sapu menjadi dominan seperti di kali Ciliwung. Yang dibutuhkan saat ini adalah pemantauan dini (early detection) melalui survei biodiversitas sungai, pelaporan temuan oleh masyarakat, serta inventarisasi berkala oleh perguruan tinggi dan instansi pengelola sumber daya perairan. Pencegahan hampir selalu lebih murah dan lebih efektif dibandingkan pengendalian setelah invasi terjadi