include "breadcrumb.php" ?>
Bagi Pemko Payakumbuh, transformasi tersebut tidak cukup hanya dengan mengubah metode mengajar. Kapasitas gurunya juga harus diperkuat.
Salah satu bentuk dukungan itu diwujudkan melalui penyerahan bantuan beasiswa pendidikan strata satu (S1) kepada 14 guru PAUD. Masing-masing menerima bantuan senilai Rp1 juta, hasil kolaborasi HIMPAUDI dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Payakumbuh.
Bunda PAUD Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta, menilai guru PAUD memiliki posisi yang tidak kalah penting dibandingkan lingkungan keluarga. Ketika anak mulai mengenal lingkungan di luar rumah, guru menjadi salah satu sosok yang ikut membentuk cara mereka berinteraksi dan memahami dunia.
“Guru PAUD adalah fondasi pertama pembentukan karakter. Karena itu, penguatan kompetensi mereka harus menjadi prioritas bersama, bukan sekadar tanggung jawab satu pihak,” tegas Eni.
Ia mendorong agar pengembangan PAUD dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Dengan begitu, layanan pendidikan anak usia dini tidak hanya berkualitas, tetapi juga inklusif dan menyenangkan bagi anak.
Pelatihan nasional tersebut menghadirkan Guru Besar Bidang PAUD Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Gunarti Dwi Lestari, M.Si., sebagai narasumber utama.
Ketua HIMPAUDI Kota Payakumbuh, Elfriza Zaharman, mengatakan kehadiran akademisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna kepada para guru.
Menurutnya, guru perlu memiliki growth mindset agar tidak berhenti pada pola mengajar yang sama. Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan juga diharapkan dapat diteruskan kepada sesama pendidik di daerah masing-masing.
“Melalui penguatan growth mindset, para guru diharapkan mampu melakukan impact sharing di wilayah masing-masing. Ilmu ini tidak boleh berhenti di ruang pelatihan, melainkan harus diterapkan secara konsisten di kelas,” kata Elfriza.
Yang menarik, peserta pelatihan tidak hanya datang dari Payakumbuh. Sebanyak 240 peserta juga berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Bukittinggi, dan Tanah Datar.
Kehadiran peserta lintas daerah itu menunjukkan bahwa upaya memperkuat pendidikan anak usia dini membutuhkan kerja bersama. Sebab, kualitas PAUD pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan anak mengenal angka dan huruf, tetapi juga bagaimana mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, mampu berpikir, dan siap menghadapi perubahan.
Payakumbuh pun mencoba menanamkan perubahan itu sejak awal—dari guru, masuk ke ruang kelas, lalu tumbuh bersama anak-anak yang kelak menjadi bagian dari generasi masa depan. (debby)
Membangun
Generasi Emas
dari Usia Dini
Payakumbuh
Perkuat Deep Learning
dan Growth Mindset
Membangun Generasi Emas dari Usia Dini, Payakumbuh Perkuat Deep Learning dan Growth Mindset
KabaSumbar - Perubahan besar dalam pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang kelas yang megah. Di Payakumbuh, langkah itu justru didorong dari ruang-ruang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), tempat anak-anak pertama kali belajar mengenal dunia.
Pemerintah Kota Payakumbuh kini mendorong para pendidik PAUD meninggalkan pola pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan. Sebagai gantinya, pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam dan growth mindset atau pola pikir tumbuh mulai diperkuat.
Komitmen itu terlihat dalam Pelatihan Nasional yang digelar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) bersama Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh di Aula Josrizal Zain, Balai Kota Payakumbuh, Sabtu (19/9/2026).
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Erizon, membuka kegiatan yang diikuti 240 peserta tersebut.
Erizon mengatakan, PAUD memiliki posisi penting karena berada pada fase awal pembentukan karakter anak. Pada masa golden age, anak bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga lingkungan belajar yang mampu membangun rasa percaya diri, kreativitas, dan cara berpikir positif.
“Pendidikan Anak Usia Dini adalah fondasi paling menentukan. Sesuai visi Wali Kota Zulmaeta dan Wakil Wali Kota Elzadaswarman, melalui pelatihan ini kita ingin mendorong transformasi pembelajaran di ruang-ruang kelas PAUD,” ujar Erizon.
Pemerintah Kota Payakumbuh kini mendorong para pendidik PAUD meninggalkan pola pembelajaran yang hanya berorientasi pada hafalan. Sebagai gantinya, pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam dan growth mindset atau pola pikir tumbuh mulai diperkuat.
Komitmen itu terlihat dalam Pelatihan Nasional yang digelar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) bersama Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh di Aula Josrizal Zain, Balai Kota Payakumbuh, Sabtu (19/9/2026).
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Erizon, membuka kegiatan yang diikuti 240 peserta tersebut.
Erizon mengatakan, PAUD memiliki posisi penting karena berada pada fase awal pembentukan karakter anak. Pada masa golden age, anak bukan hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga lingkungan belajar yang mampu membangun rasa percaya diri, kreativitas, dan cara berpikir positif.
“Pendidikan Anak Usia Dini adalah fondasi paling menentukan. Sesuai visi Wali Kota Zulmaeta dan Wakil Wali Kota Elzadaswarman, melalui pelatihan ini kita ingin mendorong transformasi pembelajaran di ruang-ruang kelas PAUD,” ujar Erizon.
Bunda PAUD Kota Payakumbuh Eni Muis Zulmaeta
Bagi Pemko Payakumbuh, transformasi tersebut tidak cukup hanya dengan mengubah metode mengajar. Kapasitas gurunya juga harus diperkuat.
Salah satu bentuk dukungan itu diwujudkan melalui penyerahan bantuan beasiswa pendidikan strata satu (S1) kepada 14 guru PAUD. Masing-masing menerima bantuan senilai Rp1 juta, hasil kolaborasi HIMPAUDI dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Payakumbuh.
Bunda PAUD Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta, menilai guru PAUD memiliki posisi yang tidak kalah penting dibandingkan lingkungan keluarga. Ketika anak mulai mengenal lingkungan di luar rumah, guru menjadi salah satu sosok yang ikut membentuk cara mereka berinteraksi dan memahami dunia.
“Guru PAUD adalah fondasi pertama pembentukan karakter. Karena itu, penguatan kompetensi mereka harus menjadi prioritas bersama, bukan sekadar tanggung jawab satu pihak,” tegas Eni.
Ia mendorong agar pengembangan PAUD dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Dengan begitu, layanan pendidikan anak usia dini tidak hanya berkualitas, tetapi juga inklusif dan menyenangkan bagi anak.
Pelatihan nasional tersebut menghadirkan Guru Besar Bidang PAUD Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Gunarti Dwi Lestari, M.Si., sebagai narasumber utama.
Ketua HIMPAUDI Kota Payakumbuh, Elfriza Zaharman, mengatakan kehadiran akademisi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna kepada para guru.
Menurutnya, guru perlu memiliki growth mindset agar tidak berhenti pada pola mengajar yang sama. Pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan juga diharapkan dapat diteruskan kepada sesama pendidik di daerah masing-masing.
“Melalui penguatan growth mindset, para guru diharapkan mampu melakukan impact sharing di wilayah masing-masing. Ilmu ini tidak boleh berhenti di ruang pelatihan, melainkan harus diterapkan secara konsisten di kelas,” kata Elfriza.
Para guru PAUD kota Payakumbuh
Yang menarik, peserta pelatihan tidak hanya datang dari Payakumbuh. Sebanyak 240 peserta juga berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota, Bukittinggi, dan Tanah Datar.
Kehadiran peserta lintas daerah itu menunjukkan bahwa upaya memperkuat pendidikan anak usia dini membutuhkan kerja bersama. Sebab, kualitas PAUD pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang kemampuan anak mengenal angka dan huruf, tetapi juga bagaimana mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, kreatif, mampu berpikir, dan siap menghadapi perubahan.
Payakumbuh pun mencoba menanamkan perubahan itu sejak awal—dari guru, masuk ke ruang kelas, lalu tumbuh bersama anak-anak yang kelak menjadi bagian dari generasi masa depan. (debby)