include "breadcrumb.php" ?>
Dalam rapat tersebut, Kalaksa BPBD Kabupaten Solok Khairul memaparkan kondisi terkini akibat bencana. Laporan itu menyebutkan satu orang meninggal dunia, satu orang masih dalam pencarian, sementara empat warga mengalami luka-luka.
Tak hanya korban jiwa, bencana juga memaksa 474 warga mengungsi.
Kerusakan turut menyentuh tempat tinggal dan fasilitas publik. Sebanyak 52 rumah mengalami rusak ringan, 16 rumah rusak sedang, dan 19 rumah rusak berat. Satu rumah ibadah juga dilaporkan mengalami rusak ringan. Selain itu, 10 kantor dinas terdampak akibat bencana tersebut.
Angka-angka itu menjadi gambaran betapa berat dampak yang harus dihadapi masyarakat Kabupaten Solok. Di balik setiap angka pengungsi, terdapat keluarga yang untuk sementara harus meninggalkan rumah dan kehidupan mereka demi keselamatan.
Karena itu, rapat bersama BNPB tidak hanya membicarakan kondisi darurat, tetapi juga langkah konkret yang harus segera dilakukan di lapangan.
Sejumlah agenda menjadi pembahasan, mulai dari evakuasi dan keselamatan masyarakat, pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, penanganan sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan, hingga langkah pemulihan pascabencana.
Bupati Solok Jon Firman Pandu menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Kita terus berupaya memastikan keselamatan dan kebutuhan masyarakat menjadi prioritas utama. Melalui koordinasi bersama BNPB, kita berharap penanganan bencana di Kabupaten Solok dapat berjalan cepat, terpadu dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak,” ujar Jon Firman Pandu.
Menurut Bupati, koordinasi dengan pemerintah pusat menjadi bagian penting agar berbagai kebutuhan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus memastikan masyarakat terdampak mendapat penanganan terbaik.
Dari pemerintah pusat, dukungan juga ditegaskan Sestama BNPB Dr. Rustian. Ia menyampaikan bahwa BNPB akan berupaya memenuhi kebutuhan yang diperlukan Pemerintah Kabupaten Solok dalam penanganan bencana.
“BNPB Pusat akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan oleh Pemerintah Kabupaten Solok guna penanggulangan bencana banjir bandang, khususnya di Arosuka. Karena itu, mari kita mulai bergerak untuk ke depannya agar lebih baik,” ujar Rustian.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. BNPB, BPBD, Basarnas, Forkopimda, DPRD, OPD, serta seluruh unsur terkait diharapkan dapat bergerak dalam satu koordinasi untuk mempercepat penanganan.
Sebab, setelah air surut dan situasi darurat mulai terkendali, pekerjaan besar belum selesai. Rumah-rumah yang rusak harus dipulihkan, fasilitas publik perlu ditangani, dan warga yang kehilangan tempat tinggal harus kembali mendapatkan kepastian.
Pemerintah Kabupaten Solok bersama seluruh jajaran berkomitmen terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan BNPB serta instansi terkait.
Di Arosuka, penanganan bencana kini berpacu dengan waktu. Bagi masyarakat yang terdampak, setiap bantuan, setiap evakuasi, dan setiap langkah pemulihan bukan sekadar program pemerintah—melainkan harapan untuk kembali menjalani kehidupan seperti sediakala. (Irman Kuto)
Bupati Solok
dan BNPB
Bahas
Langkah Darurat
hingga Pemulihan
Dampak Galodo Arosuka
Bupati Solok dan BNPB Bahas Langkah Darurat hingga Pemulihan Dampak Galodo Arosuka
KabaSumbar - Banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Solok meninggalkan kerusakan kawasan Kota Arosuka. Ratusan ratusan warga Kayu Aro, harus meninggalkan rumah, sementara satu orang dinyatakan meninggal dunia dan satu lainnya masih dalam pencarian.
Di tengah situasi darurat itu, pemerintah bergerak. Posko Utama Penanggulangan Bencana Kabupaten Solok menjadi pusat koordinasi untuk memastikan warga terdampak mendapat pertolongan dan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Rabu malam, 23 September 2026, Pemerintah Kabupaten Solok menggelar rapat koordinasi bersama Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr. Rustian, S.Si, Apt, M.Kes. Pertemuan tersebut membahas langkah penanganan bencana sekaligus upaya mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak, khususnya Arosuka.
Rapat dipimpin langsung Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama Wakil Bupati H. Candra. Hadir pula Bupati Pariaman John Kenedy Azis, Ketua DPRD Kabupaten Solok Ivoni Munir, Pj. Sekda Kabupaten Solok Masheri Yanda Boy, Basarnas Tipe A Padang, anggota DPRD Kabupaten Solok, jajaran BNPB, Forkopimda, OPD terkait, serta unsur lainnya yang terlibat dalam penanganan bencana.
Di tengah situasi darurat itu, pemerintah bergerak. Posko Utama Penanggulangan Bencana Kabupaten Solok menjadi pusat koordinasi untuk memastikan warga terdampak mendapat pertolongan dan kebutuhan dasar mereka terpenuhi.
Rabu malam, 23 September 2026, Pemerintah Kabupaten Solok menggelar rapat koordinasi bersama Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dr. Rustian, S.Si, Apt, M.Kes. Pertemuan tersebut membahas langkah penanganan bencana sekaligus upaya mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak, khususnya Arosuka.
Rapat dipimpin langsung Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama Wakil Bupati H. Candra. Hadir pula Bupati Pariaman John Kenedy Azis, Ketua DPRD Kabupaten Solok Ivoni Munir, Pj. Sekda Kabupaten Solok Masheri Yanda Boy, Basarnas Tipe A Padang, anggota DPRD Kabupaten Solok, jajaran BNPB, Forkopimda, OPD terkait, serta unsur lainnya yang terlibat dalam penanganan bencana.
Sestama BNPB bahas pendanagnan dampak bencana Galodo Arosuka dengan Bupati Solok di Posko Utama
Tak hanya korban jiwa, bencana juga memaksa 474 warga mengungsi.
Kerusakan turut menyentuh tempat tinggal dan fasilitas publik. Sebanyak 52 rumah mengalami rusak ringan, 16 rumah rusak sedang, dan 19 rumah rusak berat. Satu rumah ibadah juga dilaporkan mengalami rusak ringan. Selain itu, 10 kantor dinas terdampak akibat bencana tersebut.
Angka-angka itu menjadi gambaran betapa berat dampak yang harus dihadapi masyarakat Kabupaten Solok. Di balik setiap angka pengungsi, terdapat keluarga yang untuk sementara harus meninggalkan rumah dan kehidupan mereka demi keselamatan.
Karena itu, rapat bersama BNPB tidak hanya membicarakan kondisi darurat, tetapi juga langkah konkret yang harus segera dilakukan di lapangan.
Sejumlah agenda menjadi pembahasan, mulai dari evakuasi dan keselamatan masyarakat, pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, penanganan sarana dan prasarana yang mengalami kerusakan, hingga langkah pemulihan pascabencana.
Bupati Solok Jon Firman Pandu menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
“Kita terus berupaya memastikan keselamatan dan kebutuhan masyarakat menjadi prioritas utama. Melalui koordinasi bersama BNPB, kita berharap penanganan bencana di Kabupaten Solok dapat berjalan cepat, terpadu dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat terdampak,” ujar Jon Firman Pandu.
Menurut Bupati, koordinasi dengan pemerintah pusat menjadi bagian penting agar berbagai kebutuhan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti. Pemerintah daerah, kata dia, akan terus memastikan masyarakat terdampak mendapat penanganan terbaik.
Dari pemerintah pusat, dukungan juga ditegaskan Sestama BNPB Dr. Rustian. Ia menyampaikan bahwa BNPB akan berupaya memenuhi kebutuhan yang diperlukan Pemerintah Kabupaten Solok dalam penanganan bencana.
“BNPB Pusat akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan yang dibutuhkan oleh Pemerintah Kabupaten Solok guna penanggulangan bencana banjir bandang, khususnya di Arosuka. Karena itu, mari kita mulai bergerak untuk ke depannya agar lebih baik,” ujar Rustian.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. BNPB, BPBD, Basarnas, Forkopimda, DPRD, OPD, serta seluruh unsur terkait diharapkan dapat bergerak dalam satu koordinasi untuk mempercepat penanganan.
Sebab, setelah air surut dan situasi darurat mulai terkendali, pekerjaan besar belum selesai. Rumah-rumah yang rusak harus dipulihkan, fasilitas publik perlu ditangani, dan warga yang kehilangan tempat tinggal harus kembali mendapatkan kepastian.
Pemerintah Kabupaten Solok bersama seluruh jajaran berkomitmen terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan BNPB serta instansi terkait.
Di Arosuka, penanganan bencana kini berpacu dengan waktu. Bagi masyarakat yang terdampak, setiap bantuan, setiap evakuasi, dan setiap langkah pemulihan bukan sekadar program pemerintah—melainkan harapan untuk kembali menjalani kehidupan seperti sediakala. (Irman Kuto)