include "breadcrumb.php" ?>
Ribuan warga datang menyaksikan.
Bagi sebagian masyarakat, perlombaan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit untuk setiap pertandingan. Namun bagi mereka yang telah lama menunggu, setiap kayuhan dayung membawa kembali kenangan tentang masa ketika Selaju Sampan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tradisi yang Dirindukan
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani mengatakan, Selaju Sampan Tapian Batanghari Kampung Pulai sebelumnya merupakan kegiatan yang selalu dinantikan masyarakat, terutama setelah Lebaran.
Namun, pandemi COVID-19 membuat tradisi tersebut harus berhenti.
Waktu berjalan. Sungai tetap mengalir, tetapi suara sorak penonton dan hentakan dayung yang dahulu memenuhi tepian Batanghari tak lagi terdengar.
Hingga akhirnya, tahun ini tradisi tersebut kembali dihidupkan.
“Kembali digelarnya Selaju Sampan Badunsanak saat ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi dan potensi wisata berbasis budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Dharmasraya,” kata Annisa.
Kalimat itu seolah menggambarkan apa yang dirasakan masyarakat Kampung Pulai. Mereka bukan hanya sedang menyaksikan sebuah perlombaan, tetapi sedang menyambut kembali bagian dari identitas mereka.
Dari Sungai, Menghidupkan Ekonomi
Keramaian di tepian Batanghari ternyata tidak hanya menghadirkan kegembiraan bagi penonton dan peserta.
Di sekitar arena, pelaku UMKM ikut merasakan berkah dari ramainya pengunjung.
Lapak-lapak makanan dan minuman dipenuhi pembeli. Pedagang yang biasanya menjalankan usaha dalam skala kecil mendapatkan kesempatan menjangkau lebih banyak konsumen.
Satu kegiatan, tetapi memberikan banyak cerita.
Bagi peserta, Selaju Sampan adalah pertarungan gengsi dan keterampilan. Bagi penonton, ia menjadi hiburan. Bagi masyarakat, ia adalah tradisi. Sementara bagi pelaku UMKM, keramaian tersebut menjadi peluang untuk menambah penghasilan.
Karena itulah, Selaju Sampan Badunsanak tidak berhenti sebagai olahraga tradisional.
Ia tumbuh menjadi ruang pertemuan antara budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Ketika Sampan dari Riau Menjadi yang Tercepat
Persaingan tahun ini juga semakin menarik karena arena Kampung Pulai tidak hanya diisi tim-tim dari Dharmasraya.
Tim dari daerah tetangga ikut datang menguji kemampuan. Salah satunya Tim Harimau Buas dari Kuantan Singingi, Riau.
Hasilnya, tim tersebut keluar sebagai juara pertama Selaju Sampan Badunsanak 2026 dan berhak membawa pulang uang pembinaan sebesar Rp10 juta.
Juara kedua diraih Tim Harok Cameh dari Padang Laweh, Kabupaten Dharmasraya, dengan hadiah Rp7 juta.
Sedangkan posisi ketiga ditempati Tim Saduduak Sapamainan dari Nagari Pulau Mainan, Kabupaten Dharmasraya, yang menerima uang pembinaan sebesar Rp5 juta.
Bupati Annisa Suci Ramadhani kemudian memberikan bonus tambahan masing-masing Rp2 juta kepada tiga tim terbaik sebagai bentuk apresiasi.
Namun, hadiah bukan satu-satunya yang dibawa pulang para peserta.
Mereka juga membawa pulang pengalaman, persaudaraan dan cerita dari sebuah perlombaan yang kembali menemukan denyutnya.
Kampung Pulai Ingin Lebih Besar
Di tengah suasana meriah itu, muncul harapan agar Selaju Sampan tidak kembali menjadi kegiatan sesaat.
Bupati Annisa menyatakan Pemkab Dharmasraya mendukung keberlanjutan kegiatan tersebut. Bahkan, pemerintah daerah merencanakan alokasi anggaran sebesar Rp150 juta untuk pelaksanaan tahun depan.
Harapan serupa disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy.
Menurut Vasko, Selaju Sampan Badunsanak Kampung Pulai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi agenda tahunan dengan skala yang lebih besar.
Ia bahkan mendorong agar pemerintah provinsi ikut memberikan dukungan melalui APBD Sumatera Barat tahun 2027.
“Mohon perhatian bagi Kepala Dinas Pariwisata Sumbar agar mengalokasikan dana dalam APBD tahun 2027 dengan skala lebih besar. Sehingga kegiatan Selaju Sampan Kampung Pulai menjadi ikon wisata Sumatera Barat,” kata Vasko.
Ia berharap arena pacu Kampung Pulai kelak tidak hanya menjadi tempat bertanding bagi tim dari Dharmasraya dan daerah sekitar, tetapi mampu menarik peserta dari berbagai daerah di luar Sumatera Barat, bahkan luar Sumatera.
Bukan Sekadar Sampan
Sore itu, ketika perlombaan berakhir dan sebagian penonton mulai meninggalkan tepian Batanghari, mungkin yang tersisa bukan hanya jejak kaki di tanah atau sampan yang kembali ditambatkan.
Ada sebuah ingatan yang kembali hidup.
Tentang sungai yang menjadi bagian dari kehidupan.
Tentang tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tentang masyarakat yang berkumpul, bersorak dan kembali merasakan kebersamaan.
Selaju Sampan Badunsanak pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis.
Ia tentang bagaimana sebuah tradisi yang sempat terdiam dapat kembali menemukan suaranya.
Tentang bagaimana sungai bukan sekadar aliran air, tetapi ruang yang menyimpan cerita masyarakat.
Dan tentang harapan agar suara dayung yang kembali terdengar di Batanghari Kampung Pulai tidak berhenti sampai di sini.
Sebab ketika sampan kembali melaju, sesungguhnya yang sedang bergerak bukan hanya perahu di atas sungai.
Tradisi, kebersamaan dan harapan masyarakat juga sedang kembali menemukan jalannya. (Irman Kuto)
Setelah Lama Senyap
Batanghari
Kembali Menyala
Selaju Sampan
Hidupkan Ingatan
dan Harapan Warga
Kampung Pulai
Dharmasraya
Setelah Lama Senyap, Batanghari Kembali Menyala: Selaju Sampan Hidupkan Ingatan dan Harapan Warga Kampung Pulai Dharmasraya
KabaSumbar – Sejak pagi, tepian Batanghari di Kampung Pulai, Nagari Sitiung, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, tak lagi seperti biasanya.
Suara riuh penonton terdengar dari berbagai sudut. Anak-anak berlarian, warga berdesakan mencari posisi terbaik untuk menyaksikan perlombaan, sementara pedagang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di tengah sungai, sampan-sampan melaju membelah arus. Para pendayung mengerahkan tenaga, berpacu menuju garis akhir. Sorak-sorai penonton pecah setiap kali dua sampan melaju beriringan dan persaingan semakin ketat.
Hari itu, Batanghari kembali bergemuruh.
Bukan sekadar karena pertandingan. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar adu cepat sampan. Ada tradisi yang kembali pulang setelah sekian lama menghilang dari tepian sungai.
Itulah Selaju Sampan Badunsanak Kampung Pulai 2026.
Digelar selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (15–16/8/2026), kegiatan tersebut menghadirkan puluhan tim dari Dharmasraya dan daerah lainnya, termasuk Riau, Jambi serta sejumlah daerah di Sumatera Barat.
Suara riuh penonton terdengar dari berbagai sudut. Anak-anak berlarian, warga berdesakan mencari posisi terbaik untuk menyaksikan perlombaan, sementara pedagang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di tengah sungai, sampan-sampan melaju membelah arus. Para pendayung mengerahkan tenaga, berpacu menuju garis akhir. Sorak-sorai penonton pecah setiap kali dua sampan melaju beriringan dan persaingan semakin ketat.
Hari itu, Batanghari kembali bergemuruh.
Bukan sekadar karena pertandingan. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar adu cepat sampan. Ada tradisi yang kembali pulang setelah sekian lama menghilang dari tepian sungai.
Itulah Selaju Sampan Badunsanak Kampung Pulai 2026.
Digelar selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (15–16/8/2026), kegiatan tersebut menghadirkan puluhan tim dari Dharmasraya dan daerah lainnya, termasuk Riau, Jambi serta sejumlah daerah di Sumatera Barat.
Bupati Annisa diantara riuh penonton saksikan selaju sampan badunsanak
Ribuan warga datang menyaksikan.
Bagi sebagian masyarakat, perlombaan itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit untuk setiap pertandingan. Namun bagi mereka yang telah lama menunggu, setiap kayuhan dayung membawa kembali kenangan tentang masa ketika Selaju Sampan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tradisi yang Dirindukan
Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani mengatakan, Selaju Sampan Tapian Batanghari Kampung Pulai sebelumnya merupakan kegiatan yang selalu dinantikan masyarakat, terutama setelah Lebaran.
Namun, pandemi COVID-19 membuat tradisi tersebut harus berhenti.
Waktu berjalan. Sungai tetap mengalir, tetapi suara sorak penonton dan hentakan dayung yang dahulu memenuhi tepian Batanghari tak lagi terdengar.
Hingga akhirnya, tahun ini tradisi tersebut kembali dihidupkan.
“Kembali digelarnya Selaju Sampan Badunsanak saat ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi dan potensi wisata berbasis budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Dharmasraya,” kata Annisa.
Kalimat itu seolah menggambarkan apa yang dirasakan masyarakat Kampung Pulai. Mereka bukan hanya sedang menyaksikan sebuah perlombaan, tetapi sedang menyambut kembali bagian dari identitas mereka.
Wagub Sumbar Vasko Ruseimy diatas sampan menyapa penonton
Dari Sungai, Menghidupkan Ekonomi
Keramaian di tepian Batanghari ternyata tidak hanya menghadirkan kegembiraan bagi penonton dan peserta.
Di sekitar arena, pelaku UMKM ikut merasakan berkah dari ramainya pengunjung.
Lapak-lapak makanan dan minuman dipenuhi pembeli. Pedagang yang biasanya menjalankan usaha dalam skala kecil mendapatkan kesempatan menjangkau lebih banyak konsumen.
Satu kegiatan, tetapi memberikan banyak cerita.
Bagi peserta, Selaju Sampan adalah pertarungan gengsi dan keterampilan. Bagi penonton, ia menjadi hiburan. Bagi masyarakat, ia adalah tradisi. Sementara bagi pelaku UMKM, keramaian tersebut menjadi peluang untuk menambah penghasilan.
Karena itulah, Selaju Sampan Badunsanak tidak berhenti sebagai olahraga tradisional.
Ia tumbuh menjadi ruang pertemuan antara budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Ketika Sampan dari Riau Menjadi yang Tercepat
Persaingan tahun ini juga semakin menarik karena arena Kampung Pulai tidak hanya diisi tim-tim dari Dharmasraya.
Tim dari daerah tetangga ikut datang menguji kemampuan. Salah satunya Tim Harimau Buas dari Kuantan Singingi, Riau.
Hasilnya, tim tersebut keluar sebagai juara pertama Selaju Sampan Badunsanak 2026 dan berhak membawa pulang uang pembinaan sebesar Rp10 juta.
Juara kedua diraih Tim Harok Cameh dari Padang Laweh, Kabupaten Dharmasraya, dengan hadiah Rp7 juta.
Sedangkan posisi ketiga ditempati Tim Saduduak Sapamainan dari Nagari Pulau Mainan, Kabupaten Dharmasraya, yang menerima uang pembinaan sebesar Rp5 juta.
Bupati Annisa Suci Ramadhani kemudian memberikan bonus tambahan masing-masing Rp2 juta kepada tiga tim terbaik sebagai bentuk apresiasi.
Namun, hadiah bukan satu-satunya yang dibawa pulang para peserta.
Mereka juga membawa pulang pengalaman, persaudaraan dan cerita dari sebuah perlombaan yang kembali menemukan denyutnya.
Tim Harimau Buas dari Kuantan Sengingi Riau foto bersama dengan Wagub Sumbar dan Bupati Dharmasraya
Kampung Pulai Ingin Lebih Besar
Di tengah suasana meriah itu, muncul harapan agar Selaju Sampan tidak kembali menjadi kegiatan sesaat.
Bupati Annisa menyatakan Pemkab Dharmasraya mendukung keberlanjutan kegiatan tersebut. Bahkan, pemerintah daerah merencanakan alokasi anggaran sebesar Rp150 juta untuk pelaksanaan tahun depan.
Harapan serupa disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy.
Menurut Vasko, Selaju Sampan Badunsanak Kampung Pulai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi agenda tahunan dengan skala yang lebih besar.
Ia bahkan mendorong agar pemerintah provinsi ikut memberikan dukungan melalui APBD Sumatera Barat tahun 2027.
“Mohon perhatian bagi Kepala Dinas Pariwisata Sumbar agar mengalokasikan dana dalam APBD tahun 2027 dengan skala lebih besar. Sehingga kegiatan Selaju Sampan Kampung Pulai menjadi ikon wisata Sumatera Barat,” kata Vasko.
Ia berharap arena pacu Kampung Pulai kelak tidak hanya menjadi tempat bertanding bagi tim dari Dharmasraya dan daerah sekitar, tetapi mampu menarik peserta dari berbagai daerah di luar Sumatera Barat, bahkan luar Sumatera.
Bukan Sekadar Sampan
Sore itu, ketika perlombaan berakhir dan sebagian penonton mulai meninggalkan tepian Batanghari, mungkin yang tersisa bukan hanya jejak kaki di tanah atau sampan yang kembali ditambatkan.
Ada sebuah ingatan yang kembali hidup.
Tentang sungai yang menjadi bagian dari kehidupan.
Tentang tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tentang masyarakat yang berkumpul, bersorak dan kembali merasakan kebersamaan.
Selaju Sampan Badunsanak pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis.
Ia tentang bagaimana sebuah tradisi yang sempat terdiam dapat kembali menemukan suaranya.
Tentang bagaimana sungai bukan sekadar aliran air, tetapi ruang yang menyimpan cerita masyarakat.
Dan tentang harapan agar suara dayung yang kembali terdengar di Batanghari Kampung Pulai tidak berhenti sampai di sini.
Sebab ketika sampan kembali melaju, sesungguhnya yang sedang bergerak bukan hanya perahu di atas sungai.
Tradisi, kebersamaan dan harapan masyarakat juga sedang kembali menemukan jalannya. (Irman Kuto)