Wagub Sumbar Vasko Ruseimy Kunjungi Kepulauan Mentawai, Nikmati Kuliner Lokal Lobster dan Toek yang Kaya Protein
KabaSumbar - Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Vasko Ruseimy, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kepulauan Mentawai pada hari Senen (11/8).
Dijamu oleh Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, beserta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kunjungan Vasko Ruseimy ini tidak hanya membahas potensi wisata dan budaya daerah, tetapi juga menjadi ajang promosi kekayaan kuliner lokal.
Dalam kunjungan tersebut, wagub, Vasko Ruseimy disuguhkan hidangan khas berupa masakan lobster segar dan Toek, sejenis ulat kayu yang merupakan bagian integral dari tradisi kuliner masyarakat adat Mentawai.
Acara ini mencapai puncaknya dengan pemecahan rekor Indonesia untuk memasak lobster terbanyak, mencapai 300 kg, yang melibatkan Kapolda Sumbar Gatot Tri Suryanta dan Wagub Vasko Ruseimy, serta berhasil masuk ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Kunjungan Vasko Ruseimy ini menjadi momen penting untuk menyoroti kekayaan pangan lokal yang lezat sekaligus bernilai gizi tinggi, sambil mempromosikan wisata dan budaya Mentawai.Kepulauan Mentawai dikenal luas sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang memikat wisatawan domestik maupun internasional. Di balik pesona pantai dan adat istiadatnya, wilayah ini menyimpan cerita kuliner unik, termasuk Toek yang berasal dari kayu Tumung, Bak-Bak, dan Etet.
Selain Toek, ada juga Batra atau ulat sagu dari pohon sagu. Toek kaya akan protein tinggi dan lemak baik bagi tubuh, serta memiliki nilai ekonomi signifikan, di mana satu batang kayu Tumung dengan diameter besar bisa dijual hingga ratusan ribu rupiah.
"Harganya berkisar Rp50.000 per batang dengan panjang lebih dari 70 cm, bahkan ada yang mencapai Rp200.000. Sehingga, satu pohon Tumung utuh bisa bernilai hingga Rp1 juta," ujar Riki salah seorang warga Tuapejat.
Proses pembuatan Toek memerlukan kesabaran dan pengetahuan tradisional masyarakat adat. Kayu-kayu pilihan direndam di sungai selama sekitar tiga hingga empat bulan hingga membusuk, sehingga menghasilkan ulat kayu di dalamnya.
"Biasanya kayu dipotong setengah meter, lalu direndam di sungai dan diikat agar tidak hanyut," tambah Riki.
Setelah direndam, kayu dibelah dengan kapak, dan Toek yang mirip cacing tanah berwarna putih pucat kemerahan pun siap dikonsumsi.
Masyarakat Mentawai biasanya menyantap Toek secara mentah, dengan rasa gurih seperti susu. Beberapa menambahkan perasan jeruk nipis, garam, bawang merah iris, dan cabai rawit untuk menambah cita rasa.
Proses ini sangat bergantung pada musim; pada musim kemarau, Toek kurang berisi karena air sungai sedikit, sementara musim hujan bisa memengaruhi kualitas air.
Toek bukan hanya makanan, tapi juga simbol kebersamaan, kekompakan, dan keharmonisan masyarakat. Indah (19), menjelaskan bahwa aktivitas "Mutoek" “ makan Toek bersama para perempuan “ menjadi ajang bertukar informasi.
"Kandungan proteinnya tinggi, rasanya gurih. Bagi kami, ini bukan sekadar makan, tapi saling berbagi cerita tentang rumah tangga, ladang, dan anak-anak. Bisa dibilang seperti gosip, tapi kami saling belajar," katanya.