KabaSumbar – Sabo Dam Gunung Marapi resmi dibangun sebagai langkah serius pemerintah menekan risiko banjir lahar dan dampak erupsi di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pembangunan ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade, Selasa (3/3/2026).
Sabo Dam Gunung Marapi dibangun di Nagari Kampung Jambu dan menjadi bagian dari sistem pengendali sedimen untuk menahan material vulkanik seperti batu, pasir, dan lumpur yang terbawa aliran sungai dari lereng gunung.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pembangunan lima unit sabo dam ini merupakan tahap awal yang sangat penting. Wilayah sekitar Gunung Marapi dinilai memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi, terutama saat terjadi hujan deras bersamaan dengan aktivitas vulkanik.
Menurutnya, sabo dam berfungsi memperlambat dan menampung material vulkanik agar tidak langsung menerjang permukiman warga serta infrastruktur di bagian hilir.
“Ini bukan sekadar proyek konstruksi, tetapi upaya nyata melindungi nyawa masyarakat,” tegas Dody.
Ia juga menyebut pembangunan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto agar negara hadir secara konkret di wilayah rawan bencana.
Pemerintah Kabupaten Tanah Datar diketahui telah mengusulkan pembangunan sabo dam sejak hampir dua tahun lalu. Realisasi lima unit ini menjadi fondasi awal sistem pengendalian lahar yang lebih menyeluruh.
Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air akan melakukan kajian teknis lanjutan terkait tambahan pembangunan pada 2025. Kajian tersebut akan memastikan sistem sabo dam terintegrasi di seluruh aliran sungai yang berisiko.
Dody menekankan proyek harus dikerjakan dengan standar kualitas tinggi dan tepat waktu, mengingat fungsinya yang sangat vital bagi keselamatan masyarakat.
Andre Rosiade menyebut sabo dam bukan sekadar bangunan beton, melainkan benteng perlindungan bagi ribuan warga di kaki Gunung Marapi.
Menurutnya, proses menghadirkan proyek ini tidak singkat. Dimulai dari pembahasan di Jakarta, pengawalan anggaran, hingga peninjauan langsung ke lapangan.
“Sabo dam ini agar warga tidak lagi dihantui ketakutan saat hujan lebat turun,” ujarnya.
Andre juga memastikan akan mengawal tambahan sekitar 13 titik sabo dam baru pada 2025. Titik tersebut berada di sejumlah aliran sungai berisiko, termasuk Batang Malalo dan kawasan lain yang berpotensi membawa material lahar.
Ia menegaskan komitmen pengawalan anggaran akan dilakukan melalui Badan Anggaran dan Komisi V DPR RI agar seluruh aliran sungai rawan memiliki perlindungan memadai.
Bupati Tanah Datar Eka Putra menyampaikan apresiasi atas dimulainya pembangunan lima sabo dam tersebut. Ia menilai kebutuhan infrastruktur pengendali lahar masih sangat besar karena terdapat sejumlah aliran sungai aktif yang berhulu di Gunung Marapi.
“Kami sudah mengusulkan sekitar 13 titik tambahan. Ini kebutuhan mendesak demi keamanan masyarakat,” katanya.
Eka berharap dukungan pemerintah pusat terus berlanjut hingga seluruh titik rawan memiliki perlindungan permanen.
Senada, anggota DPR RI Zigo Rolanda menegaskan mitigasi bencana tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Ia berkomitmen mengawal tambahan anggaran agar seluruh sungai berisiko dilengkapi sabo dam.
Acara groundbreaking turut dihadiri sejumlah pejabat pusat dan daerah, termasuk perwakilan Kementerian PU serta pimpinan DPRD Tanah Datar.
Pembangunan sabo dam ini menjadi langkah konkret dalam sistem mitigasi bencana di kawasan Gunung Marapi. Dengan adanya bangunan pengendali sedimen, risiko korban jiwa dan kerusakan infrastruktur akibat banjir lahar diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
Proyek ini sekaligus menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana di Sumatera Barat.

Facebook Comments