Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.338 per Dolar AS
KabaSumbar -- Mata uang Garuda kembali mencatat sejarah kelam. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot hingga menyentuh level psikologis baru di angka Rp17.338 pada perdagangan Kamis (30/4/2026), menjadi titik terlemah sepanjang sejarah pergerakan rupiah, melampaui rekor-rekor sebelumnya di tengah ketidakpastian pasar global dan penurunan cadangan devisa nasional.
Pelemahan ini membawa rupiah melewati ambang batas Rp17.300 per dolar AS yang telah dipantau ketat oleh para pelaku pasar sejak awal pekan.
Depresiasi Berlanjut, Tekanan Dalam dan Luar Negeri
Kemerosotan nilai tukar kali ini didominasi oleh faktor internal. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan kuat pada rupiah lebih mencerminkan kekhawatiran domestik mulai dari keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga, penurunan cadangan devisa, hingga belum adanya upaya pemerintah yang jelas untuk memangkas anggaran yang tidak mendesak.
Dari sisi eksternal, situasi tak kalah berat. Lonjakan harga komoditas energi global meningkatkan beban impor nasional yang secara langsung menekan ketersediaan likuiditas dolar di dalam negeri.
Pelaku pasar juga tengah mencermati hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan AS, sebuah sinyal hawkish yang semakin menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Cadangan Devisa Terus Menyusut
Cadangan devisa Indonesia turun US$8,3 miliar dari posisi akhir tahun lalu sebesar US$156,5 miliar, sehingga ruang intervensi menggunakan “amunisi” devisa semakin terbatas jika tekanan berlanjut.
Cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar menandai level terendah sejak Juli 2024, terutama didorong oleh upaya Bank Indonesia menstabilkan rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar global.
Meski demikian, posisi tersebut masih setara dengan 6,0 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor.
Bank Indonesia: Rupiah Masih Undervalued
Di tengah tekanan ini, Bank Indonesia tetap memilih bertahan. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan pihaknya akan terus berada di pasar untuk memastikan volatilitas tetap terkendali sesuai mandat stabilitas moneter, seraya menyatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalued atau di bawah nilai semestinya jika dilihat dari sisi fundamental.
Menurut Perry, secara fundamental rupiah seharusnya ditopang oleh ketahanan ekonomi domestik, inflasi yang terjaga, imbal hasil domestik yang menarik, serta berbagai langkah stabilisasi yang ditempuh BI.
Selain intervensi langsung di pasar valas, BI mengandalkan strategi baru dengan memperkuat instrumen pasar melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga daya tarik aset rupiah sekaligus meredam gejolak.
Dampak Nyata bagi Masyarakat
Pelemahan rupiah ke level rekor ini bukan sekadar angka di layar pedagang valas — dampaknya langsung terasa di kehidupan sehari-hari. Harga barang-barang impor berpotensi naik, mulai dari elektronik, bahan baku industri, hingga komponen kendaraan bermotor.
Melambungnya harga dolar AS juga berdampak pada biaya perjalanan ke luar negeri, termasuk melonjaknya harga tiket pesawat internasional akibat kenaikan biaya avtur dan suku cadang yang dihargai dalam dolar.
Bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, situasi ini memaksa mereka menaikkan harga jual atau memangkas margin keuntungan.
Kilas Balik Sejarah
Terakhir kali rupiah menyentuh kisaran level Rp17.000 per dolar AS adalah saat krisis moneter 1998. Meski angkanya serupa, konteks depresiasi kali ini berbeda.
Rata-rata nilai tukar pada Juni 1998 sekitar Rp14.860 per dolar AS, melemah lebih dari 600 persen dibanding Juni 1997 yang berada di level Rp2.431 per dolar AS.
Sementara pelemahan saat ini bersifat gradual dan dipicu kombinasi tekanan geopolitik global serta faktor fiskal domestik.
Prospek ke Depan
Meski Bank Indonesia tetap optimis rupiah dapat menguat ke level Rp16.400, realitas pasar saat ini masih menunjukkan tren depresiasi yang kuat akibat tekanan eksternal.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang dijadwalkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam waktu dekat.
rupiah melemah kurs rupiah hari ini nilai tukar rupiah dolar AS Bank Indonesia cadangan devisa ekonomi Indonesia 2026 Perry Warjiyo FOMC inflasi