Petani Berdasi Mulai Bergerak, ASN Payakumbuh Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

Petani Berdasi Mulai Bergerak, ASN Payakumbuh Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

KabaSumbar - Biasanya, halaman kantor pemerintahan dipenuhi kendaraan dinas, aktivitas pelayanan, dan lalu-lalang aparatur. Pada Jumat (18/9/2026), suasananya sedikit berbeda di Pemko Payakumbuh.

Di antara kesibukan itu, polybag-polybag berisi media tanam mulai berjajar. Bibit bawang merah dan cabai ditanam. Tangan yang sehari-hari sibuk dengan dokumen dan pelayanan publik, hari itu ikut menyentuh tanah.

Itulah wajah baru gerakan “Petani Berdasi”, inovasi Pemerintah Kota Payakumbuh untuk ikut mengendalikan inflasi sekaligus membangun ketahanan pangan dari lingkungan paling dekat: kantor dan rumah.

Gerakan yang digagas berdasarkan arahan Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta itu memasuki tahap pelaksanaan setelah diluncurkan pekan sebelumnya. Kali ini, Pemko Payakumbuh menggandeng Kementerian Pertanian RI untuk memperkuat langkah tersebut.

Penanaman bawang merah dan cabai dilakukan serentak di halaman Balai Kota Payakumbuh. Sekretaris Daerah Payakumbuh Rida Ananda memimpin kegiatan tersebut, mewakili Wali Kota Zulmaeta, bersama Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) Kementan RI Dr. Tedy Dirhamsyah.

Bagi Pemko Payakumbuh, menanam cabai dan bawang merah bukan perkara sederhana soal bercocok tanam.

Ada pesan yang ingin disampaikan: ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari lahan yang luas. Ia bisa tumbuh dari satu polybag, satu rumah, bahkan dari meja kerja para aparatur.

“Petani Berdasi adalah gerakan kolaborasi. Sesuai visi Bapak Wali Kota, kita ingin ASN Payakumbuh menjadi role model. Tidak hanya disiplin dalam pelayanan publik yang berbasis Trilogi Zuzema (Jujur, Loyal, dan Profesional), tetapi juga memelopori kepedulian terhadap ketahanan pangan,” tegas Rida.

Seluruh ASN yang berkantor di Balai Kota kemudian dibekali polybag, media tanam, serta bibit bawang merah dan cabai. Tanaman itu akan dirawat di lingkungan kantor masing-masing.

Barisan petani berdasi di Pemko Payakumbuh
Barisan petani berdasi di Pemko Payakumbuh

Bukan Melulu Mengejar Panen 

Rida menyadari, hasil dari beberapa polybag tentu tidak akan serta-merta mengubah angka produksi pangan Kota Payakumbuh.

Namun, menurutnya, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar berapa kilogram cabai atau bawang yang nantinya dipanen, yakni kebiasaan.

Kebiasaan untuk menanam. Kebiasaan untuk memanfaatkan lahan yang tersedia. Dan yang tak kalah penting, kebiasaan untuk tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pangan dari luar.

“Satu polybag adalah simbol. Ketika masyarakat melihat ASN mau turun tangan menanam, akan muncul kesadaran kolektif: kalau ASN saja mau menanam, kita di rumah pasti bisa,” kata Rida.

“Kita tidak semata mengejar volume panen, melainkan membangun mentalitas kemandirian pangan,” sambungnya.

Dari sinilah Petani Berdasi hendak bergerak lebih jauh. Apa yang dimulai di halaman Balai Kota diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Dari kantor ke rumah. Dari ASN ke keluarga. Dari keluarga ke lingkungan. Hingga akhirnya menjadi kebiasaan masyarakat.

Langkah Payakumbuh tersebut mendapat respons positif dari Kementerian Pertanian RI.

Kepala Puslatan Kementan RI Dr. Tedy Dirhamsyah memberikan penguatan kepada para ASN melalui konsep “Urban Farming dalam Upaya Pemenuhan Pangan dan Peningkatan Pendapatan Keluarga.”

Pesannya sederhana: keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti menghasilkan pangan.

Hidroponik, vertikultur hingga penggunaan polybag dapat menjadi pilihan untuk memanfaatkan ruang-ruang sempit di sekitar rumah maupun kantor.

Menurut Tedy, urban farming juga dapat memberi manfaat langsung bagi keluarga karena sebagian kebutuhan pangan bisa dipenuhi secara mandiri.

“Pengeluaran rumah tangga untuk pemenuhan pangan cukup besar. Melalui urban farming, ASN dan masyarakat dapat menekan pengeluaran harian secara signifikan, sekaligus meningkatkan status gizi keluarga melalui konsumsi sayur sehat dari kebun sendiri,” jelasnya.

Kini, pekerjaan berikutnya bukan lagi menanam. Tetapi merawat.

Sekda Rida meminta seluruh kepala perangkat daerah memantau perkembangan tanaman secara berkala. Sebab, gerakan yang ingin dijadikan budaya tidak cukup hanya dengan seremoni penanaman.

Bibit harus tumbuh. Tanaman harus dirawat. Dan kebiasaan harus dijaga.

Dari polybag-polybag kecil yang kini menghiasi lingkungan perkantoran itu, Payakumbuh sedang mencoba menanam sesuatu yang lebih besar: kesadaran bahwa ketahanan pangan adalah urusan bersama. (debby)

Petani Berdasi Mulai Bergerak ASN Payakumbuh Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan