Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol Diresmikan, Perkuat Pertahanan di Sumbar dan Jambi

Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol Diresmikan, Perkuat Pertahanan di Sumbar dan Jambi

Oleh : Sado

KabaSumbar “  Kodam (Komando Daerah Militer) XX/Tuanku Imam Bonjol diresmikan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam serangkaian Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto sebagai Inspektur Upacara, Minggu (10/8), di Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

Kodam baru ini mencakup wilayah Sumatera Barat dan Jambi, yang sebelumnya berada di bawah Kodam I/Bukit Barisan dan Kodam II/Sriwijaya.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan pembentukan institusi  TNI baru ini bertujuan mempercepat pembangunan dan meningkatkan keamanan di wilayah yang strategis, termasuk daerah tertinggal.

œKodam baru ini akan memperkuat pertahanan matra darat serta mendukung kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan fasilitas umum dan antisipasi ancaman seperti bencana alam atau konflik sosial, ujarnya.

Komando Daerah Militer XX/Tuanku Imam Bonjol membawahi Korem 032/Wirabraja di Padang, yang sebelumnya berada di bawah Kodam I/Bukit Barisan.
Nama œTuanku Imam Bonjol dipilih untuk menghormati pahlawan nasional asal Sumatera Barat yang memimpin Perang Paderi (1821“1837) melawan penjajah Belanda.

imam bonjol
Panglima TNI resmi menunjuk Mayjen TNI Arief Gajah Mada sebagai Pangdam XX/Tuanku Imam Bonjol. Kodam baru ini membawahi Sumbar dan Jambi

Perjuangan Tuanku Imam Bonjol, ulama dan pejuang Minangkabau, menjadi simbol keberanian dan semangat perlawanan rakyat Sumatera Barat dalam mempertahankan tanah air.

Sumatera Barat memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini menjadi pusat perlawanan melalui Perang Paderi yang dipimpin nya.

Perang ini awalnya merupakan konflik internal antara kaum Paderi dan adat, namun kemudian berkembang menjadi perjuangan melawan Belanda.

Tuanku Imam Bonjol, yang lahir di Bonjol, Pasaman, memimpin perlawanan hingga akhirnya ditangkap pada 1837 dan diasingkan ke Cianjur, Ambon, hingga Manado, di mana beliau wafat pada 1864.
Pada era kemerdekaan, Sumatera Barat menjadi bagian dari Kodam I/Bukit Barisan, yang dibentuk pada 20 Juni 1950, dengan wilayah awal mencakup Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau.

Pada 1956, wilayah Sumatera Barat dan Riau sempat berada di bawah Komando Daerah Militer III/17 Agustus untuk menghadapi pemberontakan PRRI, sebelum digabungkan kembali ke Kodam I/Bukit Barisan pada 1984.

Pembentukan Komando Daerah Militer XX/Tuanku Imam Bonjol menandai reorganisasi pertahanan TNI AD untuk memperkuat komando kewilayahan di Indonesia.

Dengan berkurangnya wilayah Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan yang kini hanya mencakup Sumatera Utara, Komando Daerah Militer XX/Tuanku Imam Bonjol akan fokus pada keamanan dan pembangunan di Sumatera Barat dan Jambi.

œKomando daerah militer ini bukan hanya tentang pertahanan, tetapi juga wujud komitmen TNI untuk mendampingi masyarakat dalam pembangunan dan kesejahteraan, kata Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Kristomei Sianturi.

Peresmian ini juga diiringi pelantikan Panglima Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, yang akan memimpin operasi pertahanan dan keamanan di wilayah tersebut.
Masyarakat Sumatera Barat menyambut baik pembentukan Kodam ini, melihatnya sebagai langkah untuk memperkuat identitas sejarah perjuangan dan mendukung pembangunan daerah.