include "breadcrumb.php" ?>
Tradisi yang Menolak Mati
Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, menjaga tradisi bukan perkara sederhana.
Generasi berganti. Pola hidup berubah. Teknologi membuat dunia terasa semakin dekat. Sementara sebagian tradisi perlahan berjarak dengan generasi muda.
Di titik itulah Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari menemukan relevansinya.
Pemerintah Kota Payakumbuh tidak ingin adat hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan dalam ruang-ruang adat atau dikenang sebagai cerita orang-orang tua.
Adat harus kembali hadir.
Dilihat.
Dipahami.
Dan yang paling penting, diwariskan.
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman mengatakan, pelestarian adat bukan semata tanggung jawab pemerintah. Ia merupakan pekerjaan bersama seluruh masyarakat.
“Pelestarian adat dan tradisi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Payakumbuh memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan peradaban Minangkabau sehingga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur harus tetap kita jaga,” katanya.
Bagi Elzadaswarman, adat bukan benda masa lalu yang hanya disimpan sebagai peninggalan.
Ia adalah identitas.
Dan identitas, jika tidak dirawat, perlahan bisa kehilangan makna.
Karena itu, falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) harus tetap menjadi salah satu pijakan masyarakat Minangkabau dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika zaman terus berubah.
“Penguatan adat dan tradisi merupakan investasi sosial untuk menjaga jati diri masyarakat sekaligus memastikan kearifan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujarnya.
Dari Niniak Mamak hingga Rang Mudo
Ada satu hal yang membuat upaya membangkitkan tradisi ini menjadi penting.
Ia tidak berhenti pada para pemangku adat.
Program tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat: niniak mamak, bundo kanduang, rang mudo hingga puti bungsu.
Di situlah proses pewarisan adat berlangsung.
Yang tua tidak hanya berbicara kepada yang muda.
Yang muda tidak hanya menjadi penonton.
Keduanya dipertemukan dalam satu ruang yang sama agar pengetahuan adat tidak putus di tengah jalan.
Sebab, tradisi tidak akan bertahan hanya karena pernah dilakukan.
Tradisi bertahan ketika generasi penerus mengetahui mengapa ia harus dilakukan.
Mauluan Bogheh adalah salah satunya.
Setentang itu, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Aua Kuniang, B. Dt. Paduko Marajo, menjelaskan Mauluan Bogheh atau Mahantaan Marapulai merupakan prosesi adat setelah akad nikah dalam rangkaian pesta perkawinan di pihak mempelai perempuan.
Maknanya bukan sekadar mengantar seorang marapulai.
Ada keluarga besar yang ikut berjalan.
Ada restu yang diberikan.
Ada penghormatan kepada keluarga anak daro.
Dan ada ikatan kekeluargaan yang diteguhkan.
“Tradisi Mauluan Bogheh mengandung makna bahwa marapulai tidak datang sendiri, melainkan diantarkan oleh keluarga besarnya sebagai simbol doa, restu, dan kebersamaan dalam membangun rumah tangga yang baru,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun di baliknya ada filosofi besar tentang masyarakat Minangkabau: bahwa manusia hidup dalam hubungan dengan keluarga dan komunitasnya.
Sebab Kemajuan Bukan Hanya Soal Beton
Ketika Marapulai
Diantar Pulang
Mauluan Bogheh
dan Nafas Adat
yang Tak Mau Hilang
dari Aua Kuniang
Ketika Marapulai Diantar Pulang: Mauluan Bogheh dan Nafas Adat yang Tak Mau Hilang dari Aua Kuniang
KabaSumbar - Ada tradisi yang tidak sekadar berjalan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Ia membawa doa.
Membawa restu.
Juga membawa pesan, bahwa ketika seorang laki-laki melangkah memasuki kehidupan baru sebagai marapulai, ia tidak benar-benar berjalan sendirian.
Di Aua Kuniang, Payakumbuh, pesan itu kembali dihidupkan.
Ahad (2/8/2026), halaman Balai Adat Nagari Aua Kuniang menjadi ruang bagi sebuah tradisi lama untuk kembali menyapa zaman. Mauluan Bogheh, atau Mahantaan Marapulai, diangkat melalui program Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari yang digelar Pemerintah Kota Payakumbuh.
Bagi sebagian orang, prosesi itu mungkin tampak seperti bagian dari rangkaian pesta perkawinan.
Namun bagi masyarakat adat, Mauluan Bogheh menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Tentang keluarga.
Tentang penghormatan.
Tentang kebersamaan.
Dan tentang bagaimana sebuah rumah tangga baru tidak dibangun hanya oleh dua insan, tetapi juga oleh doa dan dukungan keluarga besar yang mengiringinya.
Ketika marapulai diantarkan menuju rumah anak daro, keluarga besar seakan sedang menitipkan satu pesan: perjalanan baru itu boleh dimulai oleh dua orang, tetapi mereka tidak akan menjalaninya sendirian.
Ia membawa doa.
Membawa restu.
Juga membawa pesan, bahwa ketika seorang laki-laki melangkah memasuki kehidupan baru sebagai marapulai, ia tidak benar-benar berjalan sendirian.
Di Aua Kuniang, Payakumbuh, pesan itu kembali dihidupkan.
Ahad (2/8/2026), halaman Balai Adat Nagari Aua Kuniang menjadi ruang bagi sebuah tradisi lama untuk kembali menyapa zaman. Mauluan Bogheh, atau Mahantaan Marapulai, diangkat melalui program Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari yang digelar Pemerintah Kota Payakumbuh.
Bagi sebagian orang, prosesi itu mungkin tampak seperti bagian dari rangkaian pesta perkawinan.
Namun bagi masyarakat adat, Mauluan Bogheh menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Tentang keluarga.
Tentang penghormatan.
Tentang kebersamaan.
Dan tentang bagaimana sebuah rumah tangga baru tidak dibangun hanya oleh dua insan, tetapi juga oleh doa dan dukungan keluarga besar yang mengiringinya.
Ketika marapulai diantarkan menuju rumah anak daro, keluarga besar seakan sedang menitipkan satu pesan: perjalanan baru itu boleh dimulai oleh dua orang, tetapi mereka tidak akan menjalaninya sendirian.
Psangan pengantin marapulai jo anak daro
Tradisi yang Menolak Mati
Di tengah zaman yang bergerak begitu cepat, menjaga tradisi bukan perkara sederhana.
Generasi berganti. Pola hidup berubah. Teknologi membuat dunia terasa semakin dekat. Sementara sebagian tradisi perlahan berjarak dengan generasi muda.
Di titik itulah Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari menemukan relevansinya.
Pemerintah Kota Payakumbuh tidak ingin adat hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan dalam ruang-ruang adat atau dikenang sebagai cerita orang-orang tua.
Adat harus kembali hadir.
Dilihat.
Dipahami.
Dan yang paling penting, diwariskan.
Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman mengatakan, pelestarian adat bukan semata tanggung jawab pemerintah. Ia merupakan pekerjaan bersama seluruh masyarakat.
“Pelestarian adat dan tradisi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Payakumbuh memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan peradaban Minangkabau sehingga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur harus tetap kita jaga,” katanya.
Bagi Elzadaswarman, adat bukan benda masa lalu yang hanya disimpan sebagai peninggalan.
Ia adalah identitas.
Dan identitas, jika tidak dirawat, perlahan bisa kehilangan makna.
Karena itu, falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK) harus tetap menjadi salah satu pijakan masyarakat Minangkabau dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika zaman terus berubah.
“Penguatan adat dan tradisi merupakan investasi sosial untuk menjaga jati diri masyarakat sekaligus memastikan kearifan lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujarnya.
Nafas Adat yang Tak Mau Hilang dari Aua Kuniang
Dari Niniak Mamak hingga Rang Mudo
Ada satu hal yang membuat upaya membangkitkan tradisi ini menjadi penting.
Ia tidak berhenti pada para pemangku adat.
Program tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat: niniak mamak, bundo kanduang, rang mudo hingga puti bungsu.
Di situlah proses pewarisan adat berlangsung.
Yang tua tidak hanya berbicara kepada yang muda.
Yang muda tidak hanya menjadi penonton.
Keduanya dipertemukan dalam satu ruang yang sama agar pengetahuan adat tidak putus di tengah jalan.
Sebab, tradisi tidak akan bertahan hanya karena pernah dilakukan.
Tradisi bertahan ketika generasi penerus mengetahui mengapa ia harus dilakukan.
Mauluan Bogheh adalah salah satunya.
Setentang itu, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Aua Kuniang, B. Dt. Paduko Marajo, menjelaskan Mauluan Bogheh atau Mahantaan Marapulai merupakan prosesi adat setelah akad nikah dalam rangkaian pesta perkawinan di pihak mempelai perempuan.
Maknanya bukan sekadar mengantar seorang marapulai.
Ada keluarga besar yang ikut berjalan.
Ada restu yang diberikan.
Ada penghormatan kepada keluarga anak daro.
Dan ada ikatan kekeluargaan yang diteguhkan.
“Tradisi Mauluan Bogheh mengandung makna bahwa marapulai tidak datang sendiri, melainkan diantarkan oleh keluarga besarnya sebagai simbol doa, restu, dan kebersamaan dalam membangun rumah tangga yang baru,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Namun di baliknya ada filosofi besar tentang masyarakat Minangkabau: bahwa manusia hidup dalam hubungan dengan keluarga dan komunitasnya.
Sebab Kemajuan Bukan Hanya Soal Beton
Mambangkik Tradisi Adat Salingka Nagari
Payakumbuh terus bergerak.
Pembangunan fisik berjalan. Kehidupan masyarakat berkembang. Dunia semakin terbuka.
Tetapi pembangunan yang hanya mengandalkan fisik tidak cukup untuk membuat sebuah daerah memiliki karakter.
Sebab, gedung bisa dibangun.
Jalan bisa diperlebar.
Teknologi bisa terus diperbarui.
Namun ketika nilai-nilai budaya hilang, sesuatu yang lebih sulit untuk dibangun kembali ikut lenyap: jati diri.
Elzadaswarman menilai kemampuan mempertahankan dan mengamalkan adat merupakan bagian penting dari ukuran kemajuan sebuah daerah.
“Pelestarian adat di setiap kanagarian merupakan salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan budaya sekaligus menjadi benteng dalam menghadapi pengaruh negatif globalisasi,” katanya.
Ia pun menegaskan, kemajuan Payakumbuh tidak semata-mata diukur dari pembangunan fisik.
“Kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan dan mengamalkan adat serta tradisi yang dimiliki,” ujarnya.
Jangan Sampai Anak Cucu Hanya Mendengar Cerita
Di Aua Kuniang, Mauluan Bogheh akhirnya bukan hanya tentang satu prosesi perkawinan.
Ia menjadi pengingat.
Bahwa ada banyak warisan leluhur yang bisa saja suatu hari hanya tinggal nama jika tidak ada lagi yang mau menjalankannya.
Karena itu, keterlibatan LKAAM Kota Payakumbuh, Bundo Kanduang, KAN, niniak mamak, rang mudo, puti bungsu dan unsur masyarakat lainnya menjadi penting.
Mereka bukan sekadar pelaksana sebuah kegiatan.
Mereka adalah mata rantai.
Satu generasi menyampaikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sebab, adat tidak cukup hanya dipajang dalam buku, disimpan dalam arsip, atau dibicarakan dalam pertemuan.
Adat harus hidup di tengah masyarakat.
Harus terdengar dalam percakapan.
Harus terlihat dalam tindakan.
Dan harus dipahami oleh anak-anak muda yang kelak menjadi pemegang tongkat estafet nagari.
Mauluan Bogheh di Aua Kuniang menunjukkan bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah dunia yang terus berubah.
Ia seperti napas yang belum berhenti.
Pelan, tetapi nyata.
Dan selama masih ada keluarga yang mengantarkan marapulai, masih ada niniak mamak yang menjaga petuah, masih ada bundo kanduang yang merawat nilai, serta masih ada rang mudo dan puti bungsu yang mau belajar, adat itu belum mati.
Sebab pada akhirnya, melestarikan adat bukan hanya soal mempertahankan masa lalu.
Ia adalah cara sebuah masyarakat memastikan bahwa ketika masa depan datang, mereka masih tahu siapa dirinya. (debby)
Pembangunan fisik berjalan. Kehidupan masyarakat berkembang. Dunia semakin terbuka.
Tetapi pembangunan yang hanya mengandalkan fisik tidak cukup untuk membuat sebuah daerah memiliki karakter.
Sebab, gedung bisa dibangun.
Jalan bisa diperlebar.
Teknologi bisa terus diperbarui.
Namun ketika nilai-nilai budaya hilang, sesuatu yang lebih sulit untuk dibangun kembali ikut lenyap: jati diri.
Elzadaswarman menilai kemampuan mempertahankan dan mengamalkan adat merupakan bagian penting dari ukuran kemajuan sebuah daerah.
“Pelestarian adat di setiap kanagarian merupakan salah satu langkah strategis untuk memperkuat ketahanan budaya sekaligus menjadi benteng dalam menghadapi pengaruh negatif globalisasi,” katanya.
Ia pun menegaskan, kemajuan Payakumbuh tidak semata-mata diukur dari pembangunan fisik.
“Kemajuan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan dan mengamalkan adat serta tradisi yang dimiliki,” ujarnya.
Jangan Sampai Anak Cucu Hanya Mendengar Cerita
Di Aua Kuniang, Mauluan Bogheh akhirnya bukan hanya tentang satu prosesi perkawinan.
Ia menjadi pengingat.
Bahwa ada banyak warisan leluhur yang bisa saja suatu hari hanya tinggal nama jika tidak ada lagi yang mau menjalankannya.
Karena itu, keterlibatan LKAAM Kota Payakumbuh, Bundo Kanduang, KAN, niniak mamak, rang mudo, puti bungsu dan unsur masyarakat lainnya menjadi penting.
Mereka bukan sekadar pelaksana sebuah kegiatan.
Mereka adalah mata rantai.
Satu generasi menyampaikan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sebab, adat tidak cukup hanya dipajang dalam buku, disimpan dalam arsip, atau dibicarakan dalam pertemuan.
Adat harus hidup di tengah masyarakat.
Harus terdengar dalam percakapan.
Harus terlihat dalam tindakan.
Dan harus dipahami oleh anak-anak muda yang kelak menjadi pemegang tongkat estafet nagari.
Mauluan Bogheh di Aua Kuniang menunjukkan bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di tengah dunia yang terus berubah.
Ia seperti napas yang belum berhenti.
Pelan, tetapi nyata.
Dan selama masih ada keluarga yang mengantarkan marapulai, masih ada niniak mamak yang menjaga petuah, masih ada bundo kanduang yang merawat nilai, serta masih ada rang mudo dan puti bungsu yang mau belajar, adat itu belum mati.
Sebab pada akhirnya, melestarikan adat bukan hanya soal mempertahankan masa lalu.
Ia adalah cara sebuah masyarakat memastikan bahwa ketika masa depan datang, mereka masih tahu siapa dirinya. (debby)