IHSG Ditutup Naik 1,15% ke 7.174, Rupiah Menguat Seiring Meredanya Konflik AS–Iran

IHSG Ditutup Naik 1,15% ke 7.174, Rupiah Menguat Seiring Meredanya Konflik AS–Iran

KabaSumbar -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Kamis (7/5/2026). IHSG melonjak 1,15% ke level 7.174,32, dengan indeks LQ45 turut bertambah 1,62% ke posisi 693,78. Nilai transaksi harian tercatat mencapai Rp23,2 triliun, dengan total frekuensi perdagangan lebih dari 2,6 juta kali.

Penguatan ini terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Optimisme atas kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mendorong koreksi harga minyak WTI dan Brent hingga berada di bawah level US$100 per barel. Kondisi tersebut ikut meredakan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan potensi pelebaran defisit anggaran negara.

Nilai tukar rupiah juga ikut terapresiasi. Rupiah ditutup menguat 0,3% ke level Rp17.320 per dolar Amerika Serikat, seiring melemahnya indeks dolar AS di pasar global.

Sektor Keuangan Jadi Penopang Utama

Dari 11 sektor saham yang diperdagangkan, mayoritas berhasil ditutup di zona hijau. Sektor kesehatan mencatat kenaikan tertinggi dengan penguatan 2,01%, disusul sektor keuangan yang naik 1,98%, serta sektor properti yang menguat 1,33%.

Sebaliknya, sektor barang baku menjadi sektor dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 1,62%. Sektor energi juga turun 1,24%, sementara sektor transportasi melemah 1,36%.

Investor Pantau Data Ekonomi Domestik

Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), pelaku pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting dari dalam negeri. Agenda ekonomi hari ini meliputi rilis data cadangan devisa, indeks harga properti, hingga angka penjualan mobil nasional.

Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG dinilai masih berpotensi bergerak fluktuatif. MNC Sekuritas memproyeksikan IHSG rawan terkoreksi menuju rentang 6.645 hingga 6.838. Namun dalam skenario optimistis, indeks berpeluang melanjutkan penguatan ke area 7.212 sampai 7.418.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai penyempitan histogram MACD berpotensi membentuk pola golden cross yang menjadi sinyal positif bagi kelanjutan tren penguatan IHSG.

Sentimen Global Masih Dominan

Pergerakan IHSG dan rupiah dalam beberapa hari terakhir masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Kabar positif mengenai progres perundingan damai yang dimediasi pihak ketiga dinilai dapat menjaga momentum penguatan pasar keuangan Indonesia.

Meski demikian, investor tetap diminta berhati-hati terhadap sejumlah risiko domestik. Defisit APBN 2026 hingga akhir Maret tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit 0,43% pada periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga menjadi perhatian investor asing.

IHSG Rupiah BursaEfekIndonesia EkonomiIndonesia SahamHariIni Investasi PasarKeuangan KonflikGlobal DollarAS BeritaEkonomi