Harga Minyak Dunia Naik Tajam, IHSG Terseret Melemah, Rupiah Tertekan, Harga Emas Ikut Turun

Harga Minyak Dunia Naik Tajam, IHSG Terseret Melemah, Rupiah Tertekan, Harga Emas Ikut Turun

KabaSumbar - Harga minyak dunia naik kembali menjadi pemicu tekanan di pasar keuangan. Kenaikan harga minyak membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) melemah, rupiah tertekan, dan harga emas turun pada perdagangan Kamis pagi. Kondisi ini dipengaruhi ketegangan geopolitik yang belum mereda serta perubahan pasokan energi global.

Harga minyak dunia naik ke level tinggi setelah pasar kembali khawatir terhadap stabilitas pasokan. Situasi tersebut langsung berdampak pada pergerakan pasar saham, nilai tukar, hingga harga logam mulia.

Pengamat ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak terjadi meskipun sebelumnya sempat ada tambahan pasokan dari cadangan strategis. Namun, konflik geopolitik yang masih berlangsung membuat pasar tetap waspada.

Menurutnya, lembaga energi internasional sempat melepas sekitar 400 juta barel minyak ke pasar global. Selain itu, Amerika Serikat juga mengeluarkan sekitar 175 juta barel dari cadangan strategis untuk menahan lonjakan harga.

Langkah tersebut sebenarnya bertujuan menstabilkan harga. Tetapi ketegangan global membuat pasar tetap bereaksi negatif sehingga harga minyak kembali naik.

Pada perdagangan pagi, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di kisaran 98 dolar AS per barel dan hampir menyentuh level psikologis 100 dolar AS per barel. Kenaikan ini langsung memberi tekanan pada pasar saham di kawasan Asia.

IHSG sempat dibuka menguat di level 7.398, namun tidak mampu bertahan lama. Setelah itu indeks kembali melemah mengikuti mayoritas bursa Asia yang bergerak di zona merah akibat kekhawatiran inflasi global.

Selain pasar saham, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Pada perdagangan hari ini, rupiah berada di kisaran Rp16.880 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu meningkatnya permintaan dolar di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, harga emas justru mengalami penurunan. Harga emas dunia tercatat di sekitar 5.175 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,82 juta per gram. Penurunan ini terjadi karena pasar memperkirakan suku bunga global akan tetap tinggi.

Gunawan menilai kenaikan harga energi dapat memicu kembali kekhawatiran inflasi di berbagai negara. Jika inflasi meningkat, bank sentral kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut biasanya membuat harga emas tertahan, karena investor cenderung memilih aset berbunga dibanding logam mulia.

Meski demikian, emas masih dianggap memiliki fundamental kuat untuk jangka panjang. Banyak bank sentral dunia masih terus menambah cadangan emas sebagai langkah menghadapi ketidakpastian global.

Situasi geopolitik, kebijakan suku bunga, dan harga energi diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar keuangan dalam waktu dekat.

harga minyak dunia IHSG hari ini rupiah melemah harga emas turun ekonomi global inflasi dunia pasar saham Asia nilai tukar rupiah berita ekonomi harga minyak Brent indeks harga saham gabungan saham hari ini