include "breadcrumb.php" ?>
Bukan kebun biasa.
Sebanyak 250 batang pohon durian unggulan ditanam di kawasan tersebut. Bibitnya didatangkan khusus dari Pulau Jawa, membawa harapan agar tanah Solok kelak menghasilkan buah dengan kualitas yang tidak kalah dari durian-durian premium yang selama ini menjadi buruan para pencinta buah.
Waktu menjadi bagian penting dari cerita ini.
Pohon-pohon itu tidak bisa dipaksa.
Ia harus tumbuh, menguatkan akar, melewati musim, menunggu waktunya sendiri untuk berbicara.
Dan kini, penantian itu mulai menunjukkan tanda-tanda.
Pohon-pohon memasuki fase pembuahan. Beberapa bahkan telah menghasilkan buah matang yang siap dipetik.
Seolah alam sedang memberikan jawaban perlahan atas sebuah keputusan yang pernah dibuat jauh dari tanah kelahiran.
Di antara rimbunnya pepohonan itu, masa depan Kebun Durian Taruko mulai terlihat.
Bukan hanya sebagai perkebunan.
Tetapi sebagai ruang di mana orang kelak datang untuk merasakan durian langsung dari sumbernya.
Bagi pencinta King of Fruit, nama-nama varietas yang tumbuh di kebun ini tentu bukan nama sembarangan.
Ada Musang King, dengan daging lembut dan cita rasa manis legit.
Ada Bawor, yang dikenal dengan daging buahnya yang tebal.
Ada Duri Hitam atau Black Thorn, varietas eksotis yang memiliki penggemarnya sendiri.
Dan ada Super Tembaga, salah satu varietas yang kerap menjadi incaran para kolektor durian.
Tetapi ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar daftar varietas.
Cara menikmatinya.
Kebun Durian Taruko dirancang agar pengalaman tidak berhenti ketika kulit durian dibelah dan daging buahnya menyentuh lidah.
Pengunjung nantinya disiapkan tempat beristirahat. Area penginapan juga dirancang untuk mereka yang datang dari luar daerah.
Bayangkan sebuah pagi yang tidak dimulai dengan suara kendaraan, melainkan embun yang masih menggantung di daun.
Sebuah sore ketika matahari perlahan turun di balik perbukitan.
Dan di antara hijaunya kebun, aroma durian matang mengambang dari pepohonan.
Buah dipetik dari pohon.
Dibelah di tempat.
Kemudian dinikmati tanpa perlu tergesa-gesa.
Di sanalah Kebun Durian Taruko ingin membawa wisatawan: bukan sekadar melihat, tetapi mengalami.
Bukan sekadar datang, tetapi tinggal.
Namun, setiap kebun selalu memiliki cerita yang lebih dalam daripada pohon-pohon yang tumbuh di atas tanahnya.
Kebun Durian Taruko adalah cerita tentang pulang.
Jamaludin adalah perantau asal Nagari Supayang. Di Solo, ia membangun usaha dan kehidupannya. Tetapi sejauh apa pun seseorang berjalan, tanah kelahiran memiliki caranya sendiri untuk memanggil.
Pada Jamaludin, panggilan itu datang melalui sesuatu yang sangat sederhana: durian.
Buah yang berkali-kali gagal ia dapatkan ketika berada di rantau justru menjadi alasan untuk menanamnya di kampung sendiri.
Ia tidak ingin lagi sekadar menjadi orang yang datang ke pasar mencari durian.
Ia ingin menjadi bagian dari sumbernya.
Maka ia pulang membawa gagasan.
Membangun kebun.
Menanam bibit.
Menunggu bertahun-tahun.
Dan percaya bahwa sesuatu yang baik memang membutuhkan waktu.
Kelak, jika Kebun Durian Taruko benar-benar tumbuh menjadi destinasi wisata agro seperti yang direncanakan, yang hadir di sana bukan hanya wisatawan pemburu durian.
Akan ada cerita tentang pertanian.
Tentang alam.
Tentang investasi.
Tentang kampung halaman.
Dan tentang bagaimana sebuah komoditas pertanian dapat diubah menjadi pengalaman wisata.
Lebih jauh lagi, ada harapan agar denyut ekonomi ikut bergerak.
Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya membeli durian. Mereka membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan lainnya.
Dari satu pohon, rantainya bisa memanjang ke banyak tangan.
Dari satu kebun, manfaatnya bisa menjalar ke lingkungan sekitar.
Itulah mengapa Kebun Durian Taruko memiliki arti yang lebih luas daripada 16 hektare lahan dan 250 batang pohon.
Ia adalah investasi terhadap sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa Kabupaten Solok tidak hanya dikenal karena bentang alamnya yang indah, tetapi juga karena mampu menghadirkan pengalaman wisata agro yang khas.
Pohon durian mengajarkan satu hal yang sederhana: buah yang baik tidak lahir dari ketergesaan.
Ia tumbuh dalam diam.
Akar bekerja di bawah tanah. Batang menguat perlahan. Daun menangkap cahaya. Musim berganti. Waktu berjalan.
Lalu, pada saat yang tepat, bunga muncul.
Buah menyusul.
Dan manusia akhirnya tinggal memetik hasil dari kesabaran.
Barangkali begitulah pula kisah Jamaludin.
Dari keresahan kecil di Kota Solo, tumbuh sebuah gagasan.
Dari gagasan, lahir keberanian untuk pulang.
Dari kepulangan, tumbuh 250 pohon di atas tanah seluas 16 hektare.
Dan dari pohon-pohon itu, kini sedang ditunggu sebuah masa depan.
Masa depan ketika orang-orang datang ke Taruko bukan hanya untuk mencari durian premium.
Mereka datang untuk merasakan sesuatu yang lebih sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota: kesunyian kebun, kesejukan alam, rasa buah yang baru dipetik, dan kisah seorang perantau yang memilih menanam rindunya sendiri.
Sebab pada akhirnya, Kebun Durian Taruko bukan semata-mata tentang durian.
Ia tentang kerinduan yang menemukan jalan pulang.
Tentang mimpi yang ditanam seperti pohon.
Dan tentang sebuah keyakinan bahwa dari tanah kelahiran, sesuatu yang harum bisa tumbuh jauh melampaui batas-batas kampung.
Mungkin suatu hari nanti, ketika musim durian tiba dan aroma buah matang memenuhi udara Taruko, orang-orang akan datang dari berbagai penjuru.
Mereka mungkin datang karena mendengar nama Musang King.
Mungkin karena penasaran dengan Duri Hitam.
Atau sekadar ingin mencicipi durian langsung dari pohonnya.
Tetapi setelah sampai, barangkali mereka akan menemukan cerita lain.
Bahwa di balik setiap buah yang dibelah, ada seorang perantau yang pernah merindukannya.
Dan ia memilih menjawab kerinduan itu dengan menanamnya pulang. (Irman Kuto)
Dari Kerinduan
pada Durian
Jamaludin
Bangun Surga
King of Fruit
di Taruko Sirukam
Dari Kerinduan pada Durian, Jamaludin Bangun Surga King of Fruit di Taruko Sirukam
KabaSumbar - Ada kalanya seseorang pulang bukan karena kalah oleh rantau. Ia pulang karena menemukan sesuatu yang ingin dibawanya kembali ke tanah kelahiran.
Bagi Jamaludin, sesuatu itu adalah durian.
Buah berduri dengan aroma yang tak pernah benar-benar bisa disembunyikan. Buah yang bagi sebagian orang terlalu menyengat, tetapi bagi pencintanya justru memiliki daya pikat yang sulit dilawan. Di balik kulitnya yang kasar, tersimpan daging lembut dengan rasa manis, legit, pahit tipis, dan aroma yang membuat banyak orang rela berburu dari satu tempat ke tempat lain.
Jamaludin adalah salah satunya.
Bertahun-tahun hidup sebagai perantau di Kota Solo, Jawa Tengah, ia terbiasa dengan kesibukan dunia usaha. Namun, di tengah geliat kehidupan kota, ada satu hal kecil yang kerap mengusik: keinginannya menikmati durian tidak selalu berakhir bahagia.
Durian sering lebih cepat habis sebelum sampai ke tangannya.
Permintaan yang tinggi membuat buah kesukaannya itu sulit didapat ketika ia menginginkannya.
Bagi orang lain, mungkin itu perkara sepele.
Bagi Jamaludin, rupanya tidak.
Kekecewaan demi kekecewaan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa tidak menanam sendiri?
Mengapa tidak membawa varietas durian berkualitas ke tanah kelahiran?
Dan mengapa tidak menjadikan kecintaan terhadap durian sebagai sesuatu yang lebih besar—sebuah kebun, sebuah usaha, bahkan sebuah destinasi yang kelak bisa dinikmati banyak orang?
Dari pertanyaan itulah sebuah mimpi mulai berakar.
Kini, di Taruko, Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, mimpi itu tumbuh dalam bentuk yang nyata.
Sebelum Kantor Camat Payung Sekaki, terbentang kawasan hijau seluas kurang lebih 16 hektare.
Di sanalah Kebun Durian Taruko dibangun.
Buah berduri dengan aroma yang tak pernah benar-benar bisa disembunyikan. Buah yang bagi sebagian orang terlalu menyengat, tetapi bagi pencintanya justru memiliki daya pikat yang sulit dilawan. Di balik kulitnya yang kasar, tersimpan daging lembut dengan rasa manis, legit, pahit tipis, dan aroma yang membuat banyak orang rela berburu dari satu tempat ke tempat lain.
Jamaludin adalah salah satunya.
Bertahun-tahun hidup sebagai perantau di Kota Solo, Jawa Tengah, ia terbiasa dengan kesibukan dunia usaha. Namun, di tengah geliat kehidupan kota, ada satu hal kecil yang kerap mengusik: keinginannya menikmati durian tidak selalu berakhir bahagia.
Durian sering lebih cepat habis sebelum sampai ke tangannya.
Permintaan yang tinggi membuat buah kesukaannya itu sulit didapat ketika ia menginginkannya.
Bagi orang lain, mungkin itu perkara sepele.
Bagi Jamaludin, rupanya tidak.
Kekecewaan demi kekecewaan itu perlahan berubah menjadi pertanyaan yang lebih besar.
Mengapa tidak menanam sendiri?
Mengapa tidak membawa varietas durian berkualitas ke tanah kelahiran?
Dan mengapa tidak menjadikan kecintaan terhadap durian sebagai sesuatu yang lebih besar—sebuah kebun, sebuah usaha, bahkan sebuah destinasi yang kelak bisa dinikmati banyak orang?
Dari pertanyaan itulah sebuah mimpi mulai berakar.
Kini, di Taruko, Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, mimpi itu tumbuh dalam bentuk yang nyata.
Sebelum Kantor Camat Payung Sekaki, terbentang kawasan hijau seluas kurang lebih 16 hektare.
Di sanalah Kebun Durian Taruko dibangun.
Kebun Taruko di Sirukam
Bukan kebun biasa.
Sebanyak 250 batang pohon durian unggulan ditanam di kawasan tersebut. Bibitnya didatangkan khusus dari Pulau Jawa, membawa harapan agar tanah Solok kelak menghasilkan buah dengan kualitas yang tidak kalah dari durian-durian premium yang selama ini menjadi buruan para pencinta buah.
Waktu menjadi bagian penting dari cerita ini.
Pohon-pohon itu tidak bisa dipaksa.
Ia harus tumbuh, menguatkan akar, melewati musim, menunggu waktunya sendiri untuk berbicara.
Dan kini, penantian itu mulai menunjukkan tanda-tanda.
Pohon-pohon memasuki fase pembuahan. Beberapa bahkan telah menghasilkan buah matang yang siap dipetik.
Seolah alam sedang memberikan jawaban perlahan atas sebuah keputusan yang pernah dibuat jauh dari tanah kelahiran.
Di antara rimbunnya pepohonan itu, masa depan Kebun Durian Taruko mulai terlihat.
Bukan hanya sebagai perkebunan.
Tetapi sebagai ruang di mana orang kelak datang untuk merasakan durian langsung dari sumbernya.
Bagi pencinta King of Fruit, nama-nama varietas yang tumbuh di kebun ini tentu bukan nama sembarangan.
Ada Musang King, dengan daging lembut dan cita rasa manis legit.
Ada Bawor, yang dikenal dengan daging buahnya yang tebal.
Ada Duri Hitam atau Black Thorn, varietas eksotis yang memiliki penggemarnya sendiri.
Dan ada Super Tembaga, salah satu varietas yang kerap menjadi incaran para kolektor durian.
Tetapi ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar daftar varietas.
Cara menikmatinya.
Kebun Durian Taruko dirancang agar pengalaman tidak berhenti ketika kulit durian dibelah dan daging buahnya menyentuh lidah.
Pengunjung nantinya disiapkan tempat beristirahat. Area penginapan juga dirancang untuk mereka yang datang dari luar daerah.
Bayangkan sebuah pagi yang tidak dimulai dengan suara kendaraan, melainkan embun yang masih menggantung di daun.
Sebuah sore ketika matahari perlahan turun di balik perbukitan.
Dan di antara hijaunya kebun, aroma durian matang mengambang dari pepohonan.
Buah dipetik dari pohon.
Dibelah di tempat.
Kemudian dinikmati tanpa perlu tergesa-gesa.
Di sanalah Kebun Durian Taruko ingin membawa wisatawan: bukan sekadar melihat, tetapi mengalami.
Bukan sekadar datang, tetapi tinggal.
Namun, setiap kebun selalu memiliki cerita yang lebih dalam daripada pohon-pohon yang tumbuh di atas tanahnya.
Kebun Durian Taruko adalah cerita tentang pulang.
Jamaludin adalah perantau asal Nagari Supayang. Di Solo, ia membangun usaha dan kehidupannya. Tetapi sejauh apa pun seseorang berjalan, tanah kelahiran memiliki caranya sendiri untuk memanggil.
Pada Jamaludin, panggilan itu datang melalui sesuatu yang sangat sederhana: durian.
Buah yang berkali-kali gagal ia dapatkan ketika berada di rantau justru menjadi alasan untuk menanamnya di kampung sendiri.
Ia tidak ingin lagi sekadar menjadi orang yang datang ke pasar mencari durian.
Ia ingin menjadi bagian dari sumbernya.
Maka ia pulang membawa gagasan.
Membangun kebun.
Menanam bibit.
Menunggu bertahun-tahun.
Dan percaya bahwa sesuatu yang baik memang membutuhkan waktu.
Daging buah durian nan harum maknyus
Kelak, jika Kebun Durian Taruko benar-benar tumbuh menjadi destinasi wisata agro seperti yang direncanakan, yang hadir di sana bukan hanya wisatawan pemburu durian.
Akan ada cerita tentang pertanian.
Tentang alam.
Tentang investasi.
Tentang kampung halaman.
Dan tentang bagaimana sebuah komoditas pertanian dapat diubah menjadi pengalaman wisata.
Lebih jauh lagi, ada harapan agar denyut ekonomi ikut bergerak.
Ketika wisatawan datang, mereka tidak hanya membeli durian. Mereka membutuhkan tempat tinggal, makanan, transportasi, oleh-oleh dan berbagai kebutuhan lainnya.
Dari satu pohon, rantainya bisa memanjang ke banyak tangan.
Dari satu kebun, manfaatnya bisa menjalar ke lingkungan sekitar.
Itulah mengapa Kebun Durian Taruko memiliki arti yang lebih luas daripada 16 hektare lahan dan 250 batang pohon.
Ia adalah investasi terhadap sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa Kabupaten Solok tidak hanya dikenal karena bentang alamnya yang indah, tetapi juga karena mampu menghadirkan pengalaman wisata agro yang khas.
Pohon durian mengajarkan satu hal yang sederhana: buah yang baik tidak lahir dari ketergesaan.
Ia tumbuh dalam diam.
Akar bekerja di bawah tanah. Batang menguat perlahan. Daun menangkap cahaya. Musim berganti. Waktu berjalan.
Lalu, pada saat yang tepat, bunga muncul.
Buah menyusul.
Dan manusia akhirnya tinggal memetik hasil dari kesabaran.
Barangkali begitulah pula kisah Jamaludin.
Dari keresahan kecil di Kota Solo, tumbuh sebuah gagasan.
Dari gagasan, lahir keberanian untuk pulang.
Dari kepulangan, tumbuh 250 pohon di atas tanah seluas 16 hektare.
Dan dari pohon-pohon itu, kini sedang ditunggu sebuah masa depan.
Masa depan ketika orang-orang datang ke Taruko bukan hanya untuk mencari durian premium.
Mereka datang untuk merasakan sesuatu yang lebih sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota: kesunyian kebun, kesejukan alam, rasa buah yang baru dipetik, dan kisah seorang perantau yang memilih menanam rindunya sendiri.
Sebab pada akhirnya, Kebun Durian Taruko bukan semata-mata tentang durian.
Ia tentang kerinduan yang menemukan jalan pulang.
Tentang mimpi yang ditanam seperti pohon.
Dan tentang sebuah keyakinan bahwa dari tanah kelahiran, sesuatu yang harum bisa tumbuh jauh melampaui batas-batas kampung.
Mungkin suatu hari nanti, ketika musim durian tiba dan aroma buah matang memenuhi udara Taruko, orang-orang akan datang dari berbagai penjuru.
Mereka mungkin datang karena mendengar nama Musang King.
Mungkin karena penasaran dengan Duri Hitam.
Atau sekadar ingin mencicipi durian langsung dari pohonnya.
Tetapi setelah sampai, barangkali mereka akan menemukan cerita lain.
Bahwa di balik setiap buah yang dibelah, ada seorang perantau yang pernah merindukannya.
Dan ia memilih menjawab kerinduan itu dengan menanamnya pulang. (Irman Kuto)