include "breadcrumb.php" ?>
Bupati Tanah Datar Eka Putra menyambut baik rencana menjadikan daerahnya sebagai salah satu lokasi syuting film Dompet Ayah, Sepatu Ibu. Ia menyampaikan apresiasi kepada tim produksi Starvision yang telah memasukkan Tanah Datar dalam penjajakan lokasi film tersebut.
“Naik bendi ke Pagaruyung, singgah sebentar membeli lemang. Selamat datang kami sambut dengan agung, semoga kerja sama membawa Tanah Datar semakin gemilang,” ujar Eka melalui pantun selamat datang.
Eka menegaskan, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar siap mendukung proses produksi sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat setempat agar kehadiran kegiatan perfilman dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung.
“Pemkab Tanah Datar sangat bangga dan akan memberikan dukungan penuh. Apalagi kalau masyarakat lokal dilibatkan, anak-anak muda Tanah Datar, UMKM, homestay, penginapan, pengrajin, semuanya akan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Ia menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memberikan dukungan sesuai tugas, kewenangan, dan ketentuan yang berlaku.
Eka berharap, rencana produksi film tersebut tidak hanya memperluas jangkauan penonton Dompet Ayah, Sepatu Ibu, tetapi juga membuka peluang promosi bagi Tanah Datar. Melalui layar lebar, budaya Minangkabau, potensi pariwisata, serta kreativitas masyarakat diharapkan semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun mancanegara.
Jika terealisasi, produksi film ini dapat menjadi salah satu ruang pertemuan antara industri kreatif nasional dan kekayaan lokal Tanah Datar - ketika cerita tentang perjuangan keluarga tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga membawa potensi daerah ke hadapan penonton yang lebih luas. (reyhan)
Tanah Datar
Bakal Jadi
Lokasi Film
Dompet Ayah
Sepatu Ibu
160 Kru Disiapka
n dan Budaya Minang Ikut Tampil
Tanah Datar Bakal Jadi Lokasi Film Dompet Ayah-Sepatu Ibu, 160 Kru Disiapkan dan Budaya Minang Ikut Tampil
KabaSumbar - Kabupaten Tanah Datar berpeluang menjadi panggung budaya Minangkabau di layar lebar nasional. Film Dompet Ayah, Sepatu Ibu produksi Starvision direncanakan mengambil sejumlah lokasi syuting di daerah berjuluk Luhak Nan Tuo itu, sekaligus membuka peluang keterlibatan pelaku ekonomi kreatif dan masyarakat lokal.
Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan Bupati Tanah Datar Eka Putra dengan sutradara Naya Anindita beserta tim produksi Starvision di Gedung Indo Jolito, Batusangkar, Senin (6/10/2026) malam.
Kunjungan itu menjadi bagian dari penjajakan lokasi syuting sekaligus pembicaraan mengenai peluang kolaborasi untuk memperkenalkan kekayaan budaya, pariwisata, dan potensi daerah melalui industri perfilman nasional.
Sutradara Naya Anindita mengatakan, Tanah Datar memiliki kekayaan budaya yang masih terjaga dan dinilai sesuai dengan kebutuhan cerita film tersebut. Kehadiran unsur lokal diharapkan tidak hanya memperkuat suasana cerita, tetapi juga memperkenalkan identitas Minangkabau kepada penonton yang lebih luas.
Film Dompet Ayah, Sepatu Ibu merupakan adaptasi novel karya J.S. Khairen yang mendapat sambutan luas sejak diterbitkan pada 2024. Menurut Naya, novel tersebut telah mencapai cetakan keenam dalam waktu kurang dari setahun dan berstatus mega best-seller.
Lebih dari sekadar kisah keluarga, film ini mengangkat perjuangan orang tua dalam menghadapi kemiskinan dan memutus rantai keterbatasan melalui pendidikan.
Naya menjelaskan, cerita tersebut terinspirasi dari perjalanan hidup keluarga penulis. Sang ibu, Zaina, merupakan anak keenam dari 11 bersaudara. Meski hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, ia menjadi anak pertama di keluarganya yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, kemudian menjadi guru dan turut membiayai pendidikan adik-adiknya.
Sementara itu, sang ayah, Asrul atau Khairul Jasmi, juga tumbuh dari keluarga miskin. Ia pernah bekerja sebagai loper koran dan jurnalis lepas untuk membiayai kuliahnya.
“Walaupun ceritanya periodik tahun 80-an, dari tahun 80 sampai 2025 akar permasalahannya masih sama. Kita butuh figur sesimpel dari tidak punya apa-apa, dia bisa menyekolahkan adik-adiknya dan menaikkan derajat keluarganya,” ujar Naya.
Ia menuturkan, film tersebut juga menjadi bentuk hadiah seorang anak kepada orang tuanya yang memasuki masa pensiun. Ceritanya menggambarkan dua orang dari keluarga miskin yang saling jatuh cinta, membangun kehidupan bersama, dan berjuang meningkatkan taraf hidup keluarga hingga mampu mengantarkan anak mereka menempuh pendidikan di Universitas Indonesia.
Rencana tersebut mengemuka dalam pertemuan Bupati Tanah Datar Eka Putra dengan sutradara Naya Anindita beserta tim produksi Starvision di Gedung Indo Jolito, Batusangkar, Senin (6/10/2026) malam.
Kunjungan itu menjadi bagian dari penjajakan lokasi syuting sekaligus pembicaraan mengenai peluang kolaborasi untuk memperkenalkan kekayaan budaya, pariwisata, dan potensi daerah melalui industri perfilman nasional.
Sutradara Naya Anindita mengatakan, Tanah Datar memiliki kekayaan budaya yang masih terjaga dan dinilai sesuai dengan kebutuhan cerita film tersebut. Kehadiran unsur lokal diharapkan tidak hanya memperkuat suasana cerita, tetapi juga memperkenalkan identitas Minangkabau kepada penonton yang lebih luas.
Film Dompet Ayah, Sepatu Ibu merupakan adaptasi novel karya J.S. Khairen yang mendapat sambutan luas sejak diterbitkan pada 2024. Menurut Naya, novel tersebut telah mencapai cetakan keenam dalam waktu kurang dari setahun dan berstatus mega best-seller.
Lebih dari sekadar kisah keluarga, film ini mengangkat perjuangan orang tua dalam menghadapi kemiskinan dan memutus rantai keterbatasan melalui pendidikan.
Naya menjelaskan, cerita tersebut terinspirasi dari perjalanan hidup keluarga penulis. Sang ibu, Zaina, merupakan anak keenam dari 11 bersaudara. Meski hanya menempuh pendidikan hingga sekolah dasar, ia menjadi anak pertama di keluarganya yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, kemudian menjadi guru dan turut membiayai pendidikan adik-adiknya.
Sementara itu, sang ayah, Asrul atau Khairul Jasmi, juga tumbuh dari keluarga miskin. Ia pernah bekerja sebagai loper koran dan jurnalis lepas untuk membiayai kuliahnya.
“Walaupun ceritanya periodik tahun 80-an, dari tahun 80 sampai 2025 akar permasalahannya masih sama. Kita butuh figur sesimpel dari tidak punya apa-apa, dia bisa menyekolahkan adik-adiknya dan menaikkan derajat keluarganya,” ujar Naya.
Ia menuturkan, film tersebut juga menjadi bentuk hadiah seorang anak kepada orang tuanya yang memasuki masa pensiun. Ceritanya menggambarkan dua orang dari keluarga miskin yang saling jatuh cinta, membangun kehidupan bersama, dan berjuang meningkatkan taraf hidup keluarga hingga mampu mengantarkan anak mereka menempuh pendidikan di Universitas Indonesia.
Di balik proses produksi film, terdapat peluang ekonomi yang diharapkan dapat dirasakan masyarakat Tanah Datar. Tim produksi diperkirakan membawa sekitar 160 kru, dengan peluang keterlibatan pelaku usaha lokal, mulai dari UMKM, penyedia homestay dan penginapan, hingga seniman tradisional.
Naya menyebutkan, sejumlah potensi seni budaya Minangkabau juga direncanakan menjadi bagian dari film, di antaranya randai, tari-tarian, dan musik saluang.
“Kami akan melibatkan seniman randai, tari-tarian, musik saluang dan potensi lokal lainnya untuk masuk ke dalam film ini. Harapannya, sekaligus memperkenalkan Kabupaten Tanah Datar,” katanya.
Keterlibatan tersebut diharapkan memberikan ruang bagi seniman dan pelaku usaha setempat untuk mengambil bagian dalam produksi film nasional. Selain memperluas kesempatan ekonomi, kegiatan syuting juga berpotensi memperkenalkan destinasi dan kekayaan budaya Tanah Datar kepada khalayak yang lebih luas.
Naya menyebutkan, sejumlah potensi seni budaya Minangkabau juga direncanakan menjadi bagian dari film, di antaranya randai, tari-tarian, dan musik saluang.
“Kami akan melibatkan seniman randai, tari-tarian, musik saluang dan potensi lokal lainnya untuk masuk ke dalam film ini. Harapannya, sekaligus memperkenalkan Kabupaten Tanah Datar,” katanya.
Keterlibatan tersebut diharapkan memberikan ruang bagi seniman dan pelaku usaha setempat untuk mengambil bagian dalam produksi film nasional. Selain memperluas kesempatan ekonomi, kegiatan syuting juga berpotensi memperkenalkan destinasi dan kekayaan budaya Tanah Datar kepada khalayak yang lebih luas.
Tanah Datar sambut lokasi syuting film layar lebar
Bupati Tanah Datar Eka Putra menyambut baik rencana menjadikan daerahnya sebagai salah satu lokasi syuting film Dompet Ayah, Sepatu Ibu. Ia menyampaikan apresiasi kepada tim produksi Starvision yang telah memasukkan Tanah Datar dalam penjajakan lokasi film tersebut.
“Naik bendi ke Pagaruyung, singgah sebentar membeli lemang. Selamat datang kami sambut dengan agung, semoga kerja sama membawa Tanah Datar semakin gemilang,” ujar Eka melalui pantun selamat datang.
Eka menegaskan, Pemerintah Kabupaten Tanah Datar siap mendukung proses produksi sesuai kewenangan dan ketentuan yang berlaku. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat setempat agar kehadiran kegiatan perfilman dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung.
“Pemkab Tanah Datar sangat bangga dan akan memberikan dukungan penuh. Apalagi kalau masyarakat lokal dilibatkan, anak-anak muda Tanah Datar, UMKM, homestay, penginapan, pengrajin, semuanya akan berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Ia menginstruksikan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk memberikan dukungan sesuai tugas, kewenangan, dan ketentuan yang berlaku.
Eka berharap, rencana produksi film tersebut tidak hanya memperluas jangkauan penonton Dompet Ayah, Sepatu Ibu, tetapi juga membuka peluang promosi bagi Tanah Datar. Melalui layar lebar, budaya Minangkabau, potensi pariwisata, serta kreativitas masyarakat diharapkan semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun mancanegara.
Jika terealisasi, produksi film ini dapat menjadi salah satu ruang pertemuan antara industri kreatif nasional dan kekayaan lokal Tanah Datar - ketika cerita tentang perjuangan keluarga tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga membawa potensi daerah ke hadapan penonton yang lebih luas. (reyhan)