Saham SSIA Menguat 19%, Support Rp1.815 Jadi Perhatian
Supardi, SE, CFP
Branch Manager MNC Sekuritas Cabang Padang
KabaSumbar -- Saham PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) naik sekitar 18% sejak 30 Juli hingga perdagangan 24 Agustus 2026. Harga saham bergerak dari Rp1.610 menjadi Rp1.900 per saham.
Pada perdagangan 24 Agustus, SSIA sempat mencapai Rp1.920 sebelum ditutup di Rp1.900. Volume transaksi juga meningkat menjadi sekitar 73,5 juta saham.
Kenaikan tersebut membuat level Rp1.950 menjadi perhatian untuk perdagangan berikutnya. Di bawahnya, area Rp1.815 menjadi support yang perlu dipantau.
SSIA Masih dalam Tren Naik
Tim analis MNC Sekuritas menilai SSIA masih berada dalam fase uptrend. Mereka mencatat volume pembelian berada di atas rata-rata 20 hari.
Indikator MACD juga bergerak di area positif. Kondisi tersebut menunjukkan momentum kenaikan masih terjaga.
Namun, stochastic SSIA sudah masuk area overbought. Posisi ini meningkatkan peluang koreksi setelah harga naik dalam beberapa pekan terakhir.
Tim MNC Sekuritas menempatkan Rp1.815 sebagai support dan Rp1.950 sebagai resistance.
Jika harga turun, investor dapat memperhatikan respons SSIA di sekitar Rp1.815. Jika harga menembus Rp1.950 dengan dukungan volume, ruang kenaikan berikutnya terbuka menuju area Rp2.010 sampai Rp2.120 menurut skenario teknikal MNC Sekuritas.
Volume Transaksi Ikut Meningkat
Data perdagangan menunjukkan aktivitas SSIA meningkat menjelang penutupan 24 Agustus.
Volume transaksi pada 21 Agustus tercatat sekitar 20,4 juta saham. Pada 24 Agustus, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 73,5 juta saham.
Kenaikan harga yang disertai peningkatan volume menjadi salah satu indikator yang diperhatikan analis ketika menilai kekuatan tren.
Pada 24 Agustus, transaksi pembelian terbesar dalam bahan analisis berada di sekitar harga Rp1.900. Level tersebut juga menjadi harga penutupan SSIA pada hari yang sama.
Bisnis SSIA Terhubung dengan Kawasan Industri
PT Surya Semesta Internusa Tbk menjalankan bisnis properti, konstruksi dan perhotelan.
Di sektor kawasan industri, SSIA mengembangkan Suryacipta City of Industry di Karawang melalui PT Suryacipta Swadaya. Perseroan juga mengembangkan Subang Smartpolitan di Jawa Barat.
SSIA memiliki bisnis konstruksi melalui PT Nusa Raya Cipta Tbk atau NRCA. Perusahaan tersebut mengerjakan proyek gedung, fasilitas industri dan infrastruktur.
Di sektor perhotelan, SSIA mengelola sejumlah hotel dan resor, antara lain Gran Meliá Jakarta, Meliá Bali dan jaringan BATIQA Hotels.
Komposisi bisnis tersebut membuat kinerja SSIA terkait dengan perkembangan sektor kawasan industri, konstruksi dan perhotelan.
Valuasi Saham Perlu Diperhatikan
Berdasarkan data finansial yang menjadi acuan dalam analisis, kapitalisasi pasar SSIA berada di sekitar Rp8,94 triliun. EPS tercatat sekitar Rp43,96 dan PER berada di kisaran 43 kali.
Angka tersebut perlu dibaca bersama kinerja bisnis dan prospek perusahaan. Kenaikan harga saham tidak otomatis membuat valuasinya menjadi murah.
SSIA juga memiliki riwayat pembagian dividen kepada pemegang saham. Besaran dividen bergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan dalam rapat pemegang saham.
Rp1.950 Jadi Level Kunci
SSIA ditutup di Rp1.900 pada 24 Agustus, hanya Rp50 di bawah resistance Rp1.950.
Jika harga mampu melewati Rp1.950 dan volume tetap mendukung, MNC Sekuritas memperkirakan target berikutnya berada di Rp2.010 sampai Rp2.120.
Sebaliknya, penurunan harga dapat membawa SSIA menguji support Rp1.815. Investor yang menggunakan strategi Buy on Weakness dapat memperhatikan area tersebut sesuai profil risikonya.
Pergerakan saham tetap dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan sentimen terhadap sektor terkait. Target teknikal juga bukan jaminan harga akan mencapainya.
Dari Rp1.610 pada 30 Juli menjadi Rp1.900 pada 24 Agustus, SSIA sudah naik Rp290 atau sekitar 18%. Kenaikan tersebut membuat investor perlu memperhatikan jarak harga dari support dan resistance sebelum mengambil keputusan.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan informasi dan analisis pasar, bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor dan perlu disesuaikan dengan profil risiko.