Saham AMRT Menguat ke Rp1.325, Analis Lihat Peluang Trading Buy

Saham AMRT Menguat ke Rp1.325, Analis Lihat Peluang Trading Buy

Oleh: Supardi,SE,CFP
Branch Manager .MNC SEKURITAS CABANG PADANG

KabaSumbar -- Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ditutup Rp1.325 pada perdagangan 3 September 2026, naik 1,53 persen dari posisi sehari sebelumnya.

Pergerakan tersebut terjadi ketika saham pengelola jaringan Alfamart masih berada dalam fase konsolidasi. Pada perdagangan yang sama, AMRT sempat menyentuh Rp1.335 dan bergerak turun hingga Rp1.305.

Data perdagangan menunjukkan area Rp1.305 menjadi level penting bagi investor. Sementara itu, Rp1.350 menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus jika AMRT ingin melanjutkan penguatan.

Saham AMRT Masih Konsolidasi

Tim Analis MNC Sekuritas menilai pergerakan AMRT dalam jangka menengah masih membentuk pola rectangle. Volume transaksi belum menunjukkan lonjakan berarti sehingga pasar belum memberikan konfirmasi kuat mengenai arah tren berikutnya.

Indikator MACD masih berada di zona negatif. Stochastic bergerak mendekati area oversold dan mulai menyempit. Kondisi tersebut membuka peluang munculnya golden cross, meski sinyal pembalikan tren belum terkonfirmasi.

Analisis teknikal menempatkan AMRT pada skenario Trading Buy dengan support Rp1.305 dan resistance Rp1.350. Jika harga mampu melewati resistance tersebut, target berikutnya berada di Rp1.375. Target lanjutan berada di Rp1.460.

Investor jangka pendek perlu memperhatikan volume ketika harga mendekati resistance. Kenaikan tanpa dukungan transaksi yang lebih besar belum cukup untuk memastikan penguatan berlanjut.

Kinerja Keuangan AMRT Masih Tumbuh

Dari sisi fundamental, AMRT mencatat pertumbuhan kinerja sepanjang 2026.

Pada kuartal pertama 2026, pendapatan perseroan mencapai sekitar Rp35,24 triliun, naik 7,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp1,08 triliun, meningkat 10,3 persen.

Kinerja tersebut berlanjut pada semester pertama. Pendapatan AMRT mencapai sekitar Rp67,96 triliun, sedangkan laba bersih berada di kisaran Rp2,03 triliun. EBITDA perseroan juga meningkat menjadi sekitar Rp5,17 triliun.

Pertumbuhan laba menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek bisnis AMRT. Namun, investor tetap perlu memperhatikan arus kas, biaya ekspansi dan kemampuan perusahaan menjaga produktivitas gerai.

Ekspansi Gerai Berlanjut

AMRT mengandalkan jaringan toko yang luas untuk mempertahankan pertumbuhan. Perseroan menargetkan penambahan sekitar 800 gerai pada 2026, dengan ekspansi yang juga menyasar wilayah di luar Pulau Jawa.

Penambahan gerai memberi AMRT akses lebih dekat kepada konsumen. Perseroan juga memiliki jaringan distribusi yang mendukung pasokan barang ke toko-toko dalam jumlah besar.

Bagi investor, jumlah gerai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan ekspansi. Produktivitas toko, biaya operasional dan pertumbuhan penjualan per gerai ikut menentukan dampaknya terhadap laba.

Bisnis ritel juga menghadapi persaingan dari toko kelontong, minimarket lain, supermarket, platform perdagangan daring dan jaringan koperasi yang berkembang di sejumlah daerah.

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Sentimen Pasar

Kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian investor ritel.

Manajemen AMRT sebelumnya menyatakan tidak melihat koperasi tersebut sebagai ancaman langsung terhadap strategi bisnis perusahaan. Segmen pasar yang dilayani memiliki karakteristik berbeda.

Perseroan juga membuka peluang kolaborasi apabila terdapat kesepakatan dengan pihak terkait. Jaringan distribusi dan infrastruktur logistik AMRT berpotensi menjadi bagian dari kerja sama tersebut, tetapi sampai ada kesepakatan resmi, peluang itu belum dapat dihitung sebagai sumber pendapatan baru.

Pemerintah sendiri terus mengembangkan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di berbagai daerah. Perkembangan program tersebut perlu diperhatikan karena dapat mengubah pola distribusi barang dan persaingan perdagangan di tingkat lokal.

Bagi Anda yang mengikuti saham sektor ritel, perkembangan koperasi layak dilihat bersama data penjualan dan ekspansi gerai, bukan sebagai faktor tunggal penentu harga AMRT.

Buyback AMRT Sudah Rampung

AMRT juga menyelesaikan program pembelian kembali saham pada 6 Maret 2026.

Perseroan membeli kembali sekitar 432,669 juta saham dengan nilai sekitar Rp812,46 miliar. Harga rata-rata pembelian mencapai Rp1.875,11 per saham.

Program tersebut memiliki batas dana hingga Rp1,5 triliun dan jumlah maksimal 650 juta saham. AMRT tidak menggunakan seluruh batas yang telah disiapkan.

Pada Juli 2026, perseroan melaporkan saham hasil buyback tersebut sebagai saham yang wajib dialihkan. Pada saat laporan disampaikan, AMRT belum menetapkan tanggal, harga dan pihak penerima pengalihan saham.

Harga rata-rata buyback Rp1.875,11 kini berada jauh di atas harga pasar AMRT pada 3 September 2026. Selisih tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa harga saham akan kembali ke level tersebut. Harga pasar tetap mengikuti permintaan, penawaran dan ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan.

Dividen Tetap Menjadi Perhatian

AMRT juga memiliki rekam jejak pembagian dividen kepada pemegang saham. Pada 2025, perseroan membagikan dividen tunai Rp34,11 per saham dengan pembayaran pada 18 Juni 2025.

Dividen menjadi salah satu pertimbangan investor ketika menilai saham ritel. Namun, besaran dividen berikutnya bergantung pada keputusan pemegang saham, laba perusahaan dan kebutuhan dana untuk ekspansi.

Investor perlu melihat kebijakan dividen bersama perkembangan laba dan arus kas agar penilaian terhadap AMRT tidak hanya bertumpu pada besarnya pembagian tunai.

Investor Asing Masih Net Sell

Dari sisi aliran dana, investor asing masih mencatatkan net sell secara berturut-turut dalam periode yang menjadi perhatian pasar, termasuk hingga perdagangan 3 September.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan dari investor asing masih ada. Pada saat yang sama, transaksi AMRT masih banyak ditopang investor domestik.

Pada perdagangan 3 September, pembelian terbesar berada di sekitar Rp1.325, sedangkan penjualan terbesar tercatat di Rp1.315. Rata-rata transaksi sejumlah broker besar berada di sekitar Rp1.320.

Data tersebut menempatkan area Rp1.305 hingga Rp1.325 sebagai zona yang perlu diperhatikan dalam perdagangan berikutnya. Jika tekanan jual kembali membawa harga di bawah Rp1.305, skenario penguatan jangka pendek perlu dievaluasi.

Sebaliknya, penembusan Rp1.350 dengan volume yang meningkat akan memperkuat peluang AMRT bergerak menuju Rp1.375.

Fundamental perusahaan masih memberikan dukungan melalui pertumbuhan pendapatan dan laba serta ekspansi jaringan. Tekanan dana asing dan kondisi teknikal yang masih konsolidasi membuat investor perlu menjaga ekspektasi.

Untuk perdagangan jangka pendek, level Rp1.305 dan Rp1.350 menjadi batas penting. Bagi investor dengan horizon lebih panjang, perkembangan laba, arus kas, produktivitas gerai, ekspansi dan persaingan ritel tetap menjadi faktor utama dalam menilai AMRT.

Ingin memahami investasi saham lebih dalam?

Bapak dan Ibu dapat bergabung gratis di Grup Edukasi Saham IDX dan MNC Sekuritas Padang. Grup ini menyediakan materi pasar modal, diskusi saham, jadwal kelas edukasi, serta informasi sertifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Bergabung: Klik di sini untuk bergabung

Disclaimer: Analisis Trading Buy, support, resistance dan target harga merupakan pandangan analisis teknikal, bukan jaminan kenaikan harga saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

saham AMRT Alfamart BEI saham ritel buyback saham dividen pasar modal saham Indonesia