Saham ADRO: Laba Melonjak, Asing Masih Catat Net Sell
Oleh: Supardi,SE,CFP
Branch Manager .MNC SEKURITAS CABANG PADANG
KabaSumbar -- Saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menghadapi tekanan jual asing menjelang perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, meskipun perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba pada semester I-2026. Pelaku pasar kini mencermati kemampuan harga menembus resistance setelah muncul sinyal perbaikan momentum teknikal.
ADRO membukukan pendapatan usaha US$999,24 juta pada semester I-2026, naik 16,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto mencapai US$422,68 juta, sedangkan laba usaha tercatat US$381,76 juta.
Di pasar saham, data transaksi yang menjadi bahan analisis menunjukkan investor asing masih mencatatkan net sell sejak 29 September hingga perdagangan terakhir yang diamati. Kondisi tersebut membuat arah pergerakan Saham ADRO masih bergantung pada keseimbangan antara permintaan domestik dan tekanan jual.
Laba ADRO Naik pada Semester I-2026
Pendapatan usaha ADRO meningkat dari US$857,69 juta pada semester I-2025 menjadi US$999,24 juta pada semester I-2026. Dalam periode yang sama, laba bruto naik dari US$284,27 juta menjadi US$422,68 juta, atau tumbuh sekitar 48,7% secara tahunan.
Laba usaha juga meningkat dari sekitar US$203,33 juta menjadi US$381,76 juta. Kenaikan tersebut memperlihatkan perbaikan hasil operasional perseroan dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi aset, ADRO membukukan total aset US$7,80 miliar pada akhir Juni 2026. Angka tersebut naik dari US$6,81 miliar pada akhir Desember 2025.
Investor perlu membaca kenaikan aset bersama perubahan liabilitas dan ekuitas untuk menilai kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh. Pertumbuhan laba memang menjadi faktor positif, tetapi tidak otomatis membuat harga saham naik dalam jangka pendek.
Impor Batu Bara India Meningkat
Permintaan batu bara India menjadi salah satu faktor eksternal yang layak diperhatikan oleh pelaku industri batu bara Indonesia.
Reuters melaporkan bahwa impor batu bara untuk sektor kelistrikan India mencapai 5,52 juta ton pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 85,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Gelombang panas meningkatkan kebutuhan listrik di India. Pada saat bersamaan, produksi listrik tenaga air menurun akibat kondisi cuaca, sehingga perusahaan listrik meningkatkan penggunaan batu bara impor.
Indonesia memasok sekitar 4,2 juta ton atau 80% dari total impor tersebut, menurut laporan yang dirujuk dalam bahan analisis.
Kenaikan permintaan India memberi gambaran mengenai kebutuhan batu bara di pasar internasional. Namun, investor tetap perlu memeriksa volume penjualan, harga jual rata-rata, biaya produksi, dan kontribusi masing-masing segmen bisnis ADRO sebelum menghubungkan perkembangan tersebut dengan prospek laba perseroan.
Broker Membeli di Rp2.570, Asing Masih Net Sell
Data transaksi yang diberikan menunjukkan broker besar melakukan pembelian saham ADRO pada harga rata-rata Rp2.570. Transaksi pembelian terbesar tercatat pada 9 Oktober 2026 di harga tersebut, sedangkan penjualan terbesar berada di sekitar Rp2.580.
Perbedaan harga transaksi itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa broker sedang membangun posisi beli. Investor perlu memeriksa volume, nilai transaksi, identitas broker, dan akumulasi bersih selama periode pengamatan.
Tekanan jual asing juga masih menjadi perhatian. Berdasarkan data awal, investor asing mencatatkan net sell sejak 29 September hingga perdagangan terakhir yang dianalisis.
Jika investor asing terus melepas saham dalam jumlah besar, pembeli domestik perlu menyerap pasokan tersebut agar harga dapat bertahan. Sebaliknya, berkurangnya tekanan jual dapat membuka ruang bagi pemulihan harga, terutama jika volume pembelian meningkat.
Data transaksi broker dan arus asing dalam analisis ini masih perlu dicocokkan dengan data perdagangan Bursa Efek Indonesia.
Support Rp2.510 dan Resistance Rp2.630
Tim Analisis MNC Sekuritas menempatkan teknikal awal dengan support ADRO di Rp2.510 dan resistance di Rp2.630. Level Rp2.500 juga disebut sebagai pivot untuk membaca kecenderungan harga pada perdagangan berikutnya.
Berikut level yang perlu diperhatikan:
- Support Rp2.510: area yang perlu dipantau untuk melihat kemampuan harga menahan tekanan jual.
- Pivot Rp2.500: acuan untuk mengamati kecenderungan harga selama perdagangan.
- Resistance Rp2.630: batas atas yang perlu ditembus jika harga hendak melanjutkan penguatan.
- Target Rp2.680 hingga Rp2.720: proyeksi lanjutan apabila harga menembus resistance dengan konfirmasi yang memadai.
Level tersebut berasal dari bahan analisis yang diberikan dan bukan kuotasi harga langsung yang telah diverifikasi.
Jika ADRO menembus Rp2.630 dengan dukungan volume, harga berpeluang menguji area Rp2.680 hingga Rp2.720. Sebaliknya, kegagalan melewati resistance dapat membuat harga kembali bergerak dalam rentang sebelumnya.
Investor juga perlu mencermati posisi harga terhadap support. Penurunan di bawah Rp2.510 perlu diamati bersama reaksi harga di sekitar Rp2.500 untuk menilai apakah tekanan jual bertambah.
MACD Memberi Sinyal Perbaikan Momentum
Menurut analisis teknikal yang disertakan, penguatan ADRO masih tertahan oleh MA20 dan MA60. Meski begitu, indikator MACD mulai menyempit dan berpotensi membentuk golden cross. Histogram MACD juga dilaporkan berada di area positif.
Indikator Stochastic bergerak naik di zona netral dan berpeluang mendekati area overbought. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan momentum beli, tetapi belum memastikan tren naik akan berlanjut.
Sinyal golden cross baru terkonfirmasi setelah garis indikator benar-benar berpotongan sesuai kriteria teknikal yang digunakan. Trader juga perlu memeriksa pergerakan harga dan volume untuk menghindari keputusan yang hanya mengandalkan satu indikator.
Strategi Buy on Weakness atau BoW yang tercantum dalam analisis tersebut mengacu pada pembelian saat harga melemah ke area yang dinilai menarik. Strategi ini tetap memiliki risiko jika harga menembus support dan melanjutkan penurunan.
Prospek ADRO Masih Bergantung pada Konfirmasi Harga
Pertumbuhan laba Saham ADRO pada semester I-2026 memberikan dukungan dari sisi fundamental. Kenaikan impor batu bara India juga menjadi perkembangan yang relevan bagi industri.
Namun, investor masih perlu memperhitungkan tekanan jual asing dan hambatan teknikal. Data akumulasi broker yang tersedia belum cukup untuk memastikan bahwa harga akan berbalik naik.
Bagi trader jangka pendek, reaksi harga di sekitar Rp2.500 hingga Rp2.630 dapat menjadi acuan pengamatan. Investor jangka panjang perlu menilai laporan keuangan, prospek bisnis, dan valuasi perusahaan sebelum mengambil keputusan.
Ingin memahami investasi saham lebih dalam?
Bapak dan Ibu dapat bergabung gratis di Grup Edukasi Saham IDX dan MNC Sekuritas Padang. Grup ini menyediakan materi pasar modal, diskusi saham, jadwal kelas edukasi, serta informasi sertifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI).
Bergabung: Klik di sini untuk bergabung
Disclaimer: Analisis ini disusun sebagai informasi dan bukan ajakan membeli maupun menjual saham. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.