Rupiah Tembus Rp 17.529 per Dolar AS, BI Ungkap Tekanan Baru dari Geopolitik hingga MSCI
KabaSumbar -- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan menembus level psikologis baru pada perdagangan Selasa (12/5). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.529 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah sekitar 0,66% dibanding penutupan sebelumnya di Rp 17.414 per dolar AS.
Level tersebut menjadi posisi penutupan terburuk rupiah sepanjang sejarah. Dalam perdagangan intraday, rupiah bahkan sempat menyentuh Rp 17.535 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah disebut berasal dari kombinasi sentimen global dan domestik yang terus membebani pasar keuangan Indonesia. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran investor global terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut dia, tensi antara Amerika Serikat dan Iran masih tinggi setelah negosiasi yang dimediasi sejumlah negara belum menghasilkan kesepakatan yang solid. Di saat bersamaan, AS juga menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan yang disebut memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke China.
Situasi tersebut ikut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
“Pasar melihat ketidakpastian global masih tinggi sehingga investor cenderung mencari aset aman berbasis dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (12/5).
Selain faktor eksternal, pasar juga menyoroti kondisi domestik yang dinilai belum cukup kuat menopang rupiah.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi. Ibrahim menyebut angka tersebut masih dipengaruhi efek basis rendah atau base effect dari periode sebelumnya.
Kekhawatiran investor juga muncul terkait arah kebijakan fiskal pemerintah, termasuk isu royalti tambang dan strategi peningkatan penerimaan negara di tengah kebutuhan belanja yang besar.
Di sisi lain, pasar menunggu keputusan MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global. Jika terjadi, langkah itu berisiko memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik.
Berdasarkan catatan redaksi, sentimen terkait MSCI beberapa kali menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan pasar saham dan nilai tukar karena banyak investor global menggunakan indeks tersebut sebagai acuan alokasi investasi.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia sebelumnya juga telah memperketat aturan pembelian dolar AS untuk meredam spekulasi di pasar valas.
Bank sentral menurunkan batas pembelian dolar AS bulanan bagi individu dari sebelumnya US$100.000 menjadi US$50.000, kecuali disertai alasan dan dokumen pendukung yang valid. Kebijakan itu diambil untuk menjaga stabilitas pasar dan menahan tekanan terhadap rupiah.
BI juga menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valas dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Namun, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut selama ketidakpastian global belum mereda, terutama terkait geopolitik dan arah suku bunga Federal Reserve di Amerika Serikat.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data inflasi AS atau Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan keluar dalam waktu dekat. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Jika inflasi AS masih tinggi, peluang suku bunga tetap tinggi lebih lama dapat memperkuat dolar AS dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Untuk perdagangan Rabu (13/5), rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.520 hingga Rp 17.580 per dolar AS.
rupiah dolar AS Bank Indonesia MSCI geopolitik Timur Tengah kurs rupiah ekonomi Indonesia pasar keuangan inflasi AS investasi