include "breadcrumb.php" ?>
Di Posko Utama Bencana Arosuka, Irman Gusman menyampaikan keprihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat Kabupaten Solok. Ia mengatakan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak setelah memperoleh informasi mengenai kejadian tersebut, guna mendorong peninjauan lapangan dan melihat langsung kebutuhan penanganan.
Irman mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena kondisi geografisnya, termasuk berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir bandang merupakan ancaman yang membutuhkan kesiapsiagaan serta sistem penanggulangan yang terencana.
Berbekal pengalaman dalam penanganan berbagai bencana di Indonesia, termasuk tsunami Aceh, ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan respons di lapangan. Koordinasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat juga harus berjalan efektif.
Kejelasan kewenangan, kecukupan sumber daya, serta ketepatan penyaluran bantuan menjadi unsur penting agar penanganan dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Lebih jauh, Irman mendorong agar peristiwa galodo di Kabupaten Solok dijadikan momentum untuk mengevaluasi mitigasi dan sistem penanggulangan bencana. Pemerintah daerah, tenaga ahli, dan para pemangku kepentingan perlu duduk bersama mengidentifikasi persoalan serta merumuskan langkah perbaikan untuk menghadapi risiko serupa di masa mendatang.
Persoalan lingkungan dan perubahan iklim juga menjadi perhatian. Menurutnya, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan harus menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana dan membangun daerah yang lebih tangguh.
Kunjungan Irman Gusman menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Solok, perwakilan daerah di tingkat nasional, dan unsur kebencanaan. Koordinasi tersebut diharapkan dapat membantu mengawal kebutuhan masyarakat sekaligus mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan terdampak.
Pekerjaan yang tersisa memang tidak ringan. Di balik rumah-rumah yang mulai bersih, masih ada kebutuhan untuk memperbaiki kerusakan, memulihkan fasilitas, dan memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Bagi Arosuka, ukuran keberhasilan penanganan galodo pada akhirnya bukan semata-mata seberapa cepat lumpur disingkirkan. Yang lebih penting ialah seberapa jauh masyarakat dapat bangkit, infrastruktur kembali berfungsi, dan kehidupan berangsur pulih.
Sebab, setelah banjir bandang berlalu, perjuangan sesungguhnya adalah memastikan masyarakat tidak terus terjebak dalam dampak bencana yang ditinggalkannya. (Irman Kuto)
Irman Gusman
Sambangi Posko
Galodo Arosuka
Pemulihan
Jadi Pekerjaan Besar
Irman Gusman Sambangi Posko Galodo Arosuka, Pemulihan Jadi Pekerjaan Besar
KabaSumbar - Membersihkan lumpur hanyalah awal dari perjuangan panjang pascagalodo. Di Arosuka, Kabupaten Solok, ketika sekitar 95 persen rumah warga terdampak dilaporkan telah dibersihkan, tantangan yang lebih besar justru menanti: mengembalikan kehidupan masyarakat, memulihkan infrastruktur, dan memastikan roda pelayanan pemerintahan kembali bergerak normal.
Di tengah upaya pemulihan itulah Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Sumatera Barat, Irman Gusman, datang mengunjungi Posko Utama Bencana Banjir Bandang Arosuka, Jumat (9/10/2026).
Kehadiran Irman bukan sekadar kunjungan ke lokasi bencana. Pertemuan bersama Bupati Solok Jon Firman Pandu dan jajaran pemerintah daerah tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan penanganan sekaligus membicarakan pekerjaan rumah yang masih membentang setelah banjir bandang menerjang kawasan itu.
Bencana galodo telah membawa dampak terhadap permukiman masyarakat dan kawasan perkantoran. Setelah hampir tiga bulan dilanda kemarau panjang, hujan dengan intensitas tinggi datang dan memicu bencana yang menuntut penanganan cepat dari berbagai pihak.
Bupati Solok Jon Firman Pandu menjelaskan, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan unsur terkait telah bergerak melakukan penanganan darurat. Dukungan alat berat, ekskavator, truk, serta berbagai kebutuhan operasional dikerahkan untuk mempercepat pembersihan material banjir.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Sekitar 95 persen rumah warga terdampak dilaporkan telah dibersihkan dari lumpur. Dukungan kelistrikan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat juga dilakukan untuk membantu warga memulihkan aktivitas mereka.
Namun, bagi pemerintah daerah, keberhasilan membersihkan rumah bukanlah garis akhir. Rumah yang kembali bersih belum tentu seluruhnya pulih, sementara kerusakan bangunan dan terganggunya fasilitas pemerintahan masih membutuhkan perhatian.
Karena itu, Jon Firman Pandu menegaskan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tahapan penting berikutnya. Penanganan rumah warga yang rusak, pemulihan kawasan perkantoran, serta pengembalian kualitas pelayanan publik membutuhkan dukungan berkelanjutan dan koordinasi lintas sektor.
Bupati pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kementerian terkait, unsur kebencanaan, relawan, tenaga ahli, serta seluruh pihak yang telah membantu penanganan bencana di Kabupaten Solok.
Baginya, kebersamaan berbagai unsur menjadi modal penting untuk memastikan masyarakat tidak berjuang sendirian menghadapi dampak bencana.
Di tengah upaya pemulihan itulah Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) asal Sumatera Barat, Irman Gusman, datang mengunjungi Posko Utama Bencana Banjir Bandang Arosuka, Jumat (9/10/2026).
Kehadiran Irman bukan sekadar kunjungan ke lokasi bencana. Pertemuan bersama Bupati Solok Jon Firman Pandu dan jajaran pemerintah daerah tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan penanganan sekaligus membicarakan pekerjaan rumah yang masih membentang setelah banjir bandang menerjang kawasan itu.
Bencana galodo telah membawa dampak terhadap permukiman masyarakat dan kawasan perkantoran. Setelah hampir tiga bulan dilanda kemarau panjang, hujan dengan intensitas tinggi datang dan memicu bencana yang menuntut penanganan cepat dari berbagai pihak.
Bupati Solok Jon Firman Pandu menjelaskan, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan unsur terkait telah bergerak melakukan penanganan darurat. Dukungan alat berat, ekskavator, truk, serta berbagai kebutuhan operasional dikerahkan untuk mempercepat pembersihan material banjir.
Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Sekitar 95 persen rumah warga terdampak dilaporkan telah dibersihkan dari lumpur. Dukungan kelistrikan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat juga dilakukan untuk membantu warga memulihkan aktivitas mereka.
Namun, bagi pemerintah daerah, keberhasilan membersihkan rumah bukanlah garis akhir. Rumah yang kembali bersih belum tentu seluruhnya pulih, sementara kerusakan bangunan dan terganggunya fasilitas pemerintahan masih membutuhkan perhatian.
Karena itu, Jon Firman Pandu menegaskan bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi menjadi tahapan penting berikutnya. Penanganan rumah warga yang rusak, pemulihan kawasan perkantoran, serta pengembalian kualitas pelayanan publik membutuhkan dukungan berkelanjutan dan koordinasi lintas sektor.
Bupati pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kementerian terkait, unsur kebencanaan, relawan, tenaga ahli, serta seluruh pihak yang telah membantu penanganan bencana di Kabupaten Solok.
Baginya, kebersamaan berbagai unsur menjadi modal penting untuk memastikan masyarakat tidak berjuang sendirian menghadapi dampak bencana.
Anggota DPD RI Irman Gusman amati data konrban terdampak bencana Galodo Arosuka
Di Posko Utama Bencana Arosuka, Irman Gusman menyampaikan keprihatinan atas musibah yang menimpa masyarakat Kabupaten Solok. Ia mengatakan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak setelah memperoleh informasi mengenai kejadian tersebut, guna mendorong peninjauan lapangan dan melihat langsung kebutuhan penanganan.
Irman mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi karena kondisi geografisnya, termasuk berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir bandang merupakan ancaman yang membutuhkan kesiapsiagaan serta sistem penanggulangan yang terencana.
Berbekal pengalaman dalam penanganan berbagai bencana di Indonesia, termasuk tsunami Aceh, ia menekankan bahwa keberhasilan penanganan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan respons di lapangan. Koordinasi antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat juga harus berjalan efektif.
Kejelasan kewenangan, kecukupan sumber daya, serta ketepatan penyaluran bantuan menjadi unsur penting agar penanganan dapat menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Lebih jauh, Irman mendorong agar peristiwa galodo di Kabupaten Solok dijadikan momentum untuk mengevaluasi mitigasi dan sistem penanggulangan bencana. Pemerintah daerah, tenaga ahli, dan para pemangku kepentingan perlu duduk bersama mengidentifikasi persoalan serta merumuskan langkah perbaikan untuk menghadapi risiko serupa di masa mendatang.
Persoalan lingkungan dan perubahan iklim juga menjadi perhatian. Menurutnya, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan harus menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko bencana dan membangun daerah yang lebih tangguh.
Kunjungan Irman Gusman menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Solok, perwakilan daerah di tingkat nasional, dan unsur kebencanaan. Koordinasi tersebut diharapkan dapat membantu mengawal kebutuhan masyarakat sekaligus mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan terdampak.
Pekerjaan yang tersisa memang tidak ringan. Di balik rumah-rumah yang mulai bersih, masih ada kebutuhan untuk memperbaiki kerusakan, memulihkan fasilitas, dan memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Bagi Arosuka, ukuran keberhasilan penanganan galodo pada akhirnya bukan semata-mata seberapa cepat lumpur disingkirkan. Yang lebih penting ialah seberapa jauh masyarakat dapat bangkit, infrastruktur kembali berfungsi, dan kehidupan berangsur pulih.
Sebab, setelah banjir bandang berlalu, perjuangan sesungguhnya adalah memastikan masyarakat tidak terus terjebak dalam dampak bencana yang ditinggalkannya. (Irman Kuto)