Harga Emas Naik Usai Gencatan Iran, Akankah Terus Melaju?
Harga Emas Naik Usai Gencatan Iran, Akankah Terus Melaju?
Jakarta -- Mengapa harga emas justru menguat ketika tensi di Timur Tengah sedikit mereda? Jawabannya ada pada kombinasi yang tidak biasa: gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, pelemahan dolar AS, dan anjloknya harga minyak yang membuat pasar kembali menimbang peluang pelonggaran suku bunga. Dalam laporan Investopedia yang terbit 8 April 2026, emas disebut sempat diperdagangkan di sekitar US$4.770, sementara perak ikut naik ke kisaran US$76.
Kesepakatan jeda konflik itu muncul hanya beberapa jam sebelum tenggat yang disebut dalam laporan untuk pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Tambahan konteks dari AP dan UBS menunjukkan pasar membaca kabar itu sebagai penurun risiko jangka pendek: harga minyak mentah AS merosot ke bawah US$95 per barel, Brent juga turun tajam, dan bursa saham global melonjak. Bagi emas, perubahan ini penting karena harga minyak yang lebih rendah berpotensi menekan ekspektasi inflasi, sehingga ruang kenaikan suku bunga bank sentral ikut menyempit.
Emas pulih, tetapi bukan semata karena geopolitik
Dalam kondisi normal, meredanya konflik sering dianggap mengurangi daya tarik aset safe haven seperti emas. Namun kali ini, pasar membaca ceritanya sedikit berbeda. Investopedia menulis, kenaikan emas beriringan dengan pelemahan dolar AS, yang secara historis kerap bergerak berlawanan dengan logam mulia. Saat dolar turun, emas menjadi relatif lebih menarik bagi investor global.
Ada faktor kedua yang tak kalah penting: jatuhnya harga minyak. Jika energi tidak lagi melonjak setinggi masa puncak ketegangan, tekanan inflasi bisa lebih terkendali. UBS dalam catatannya menyebut harga energi yang lebih moderat dapat membantu menurunkan risiko kenaikan ekspektasi inflasi konsumen dan mengurangi kebutuhan bank sentral untuk menaikkan suku bunga lagi. Itu sebabnya emas, yang tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi, mendadak terlihat lebih kompetitif.
Meski begitu, nada optimisme pasar belum sepenuhnya tanpa syarat. UBS mengingatkan masih ada sejumlah isu yang belum selesai, sehingga risiko eskalasi ulang tetap perlu diperhitungkan. Dengan kata lain, pantulan harga emas saat ini bukan hanya cermin reda konflik, melainkan juga cermin bahwa investor sedang menghitung ulang peta risiko global yang lebih luas.
Fokus berikutnya bergeser ke arah suku bunga The Fed
Bagian paling menarik dari laporan ini justru bukan pada konflik itu sendiri, melainkan pada ekspektasi suku bunga. Menurut data CME FedWatch yang dikutip Investopedia, peluang The Fed memangkas suku bunga seperempat poin pada akhir Oktober naik menjadi sedikit di atas 15%, dari 3,7% sehari sebelumnya. Di sisi lain, kemungkinan bank sentral AS justru menaikkan suku bunga pada bulan yang sama turun menjadi sekitar 0,5% dari hampir 6%.
Perubahan angka itu penting karena emas sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter. Semakin kecil risiko suku bunga naik, semakin kecil pula “biaya peluang” memegang emas yang tidak memberi kupon atau bunga. Itulah mengapa UBS menilai, dalam jangka menengah, emas bisa naik lagi jika pasar makin yakin risiko rate hike berkurang sementara risiko geopolitik dan fiskal tetap tinggi. Lembaga itu mempertahankan target US$5.900 per ons pada akhir tahun, atau sekitar 20% di atas harga terkini menurut hitungan mereka.
Sudut pandang ini membuat pergerakan emas terasa lebih masuk akal. Bukan berarti investor mengabaikan risiko perang, melainkan mereka mulai memindahkan perhatian dari ancaman gangguan pasokan energi menuju pertanyaan yang lebih besar: apakah inflasi akan cukup jinak sehingga The Fed punya ruang untuk melonggarkan kebijakan? Selama pertanyaan itu belum terjawab tuntas, emas masih punya bahan bakar untuk tetap diburu.
ETF emas dan dedolarisasi ikut menopang sentimen
Dukungan terhadap emas juga datang dari arus dana investasi. Investopedia melaporkan bahwa ETF berbasis emas global membukukan arus masuk 9 ton, setara sekitar US$1,4 miliar berdasarkan harga terbaru, untuk pekan yang berakhir 3 April 2026. Itu menjadi inflow mingguan tertinggi sejak akhir Februari, setelah sebelumnya pasar mencatat empat pekan berturut-turut arus keluar selama perang di Iran. Kobeissi Letter bahkan merangkum pergeseran itu dengan kalimat singkat: “Investors are rotating back into precious metals.”
Contoh yang banyak diperhatikan adalah dana-dana seperti SPDR Gold Trust (GLD), yang mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Kembalinya dana ke ETF menandakan bahwa penguatan emas bukan cuma didorong trader jangka pendek, tetapi juga mulai mendapat dukungan dari investor yang melihat logam mulia sebagai lindung nilai portofolio.
Di luar dinamika jangka pendek itu, ada narasi yang lebih lambat tetapi lebih besar: dedolarisasi. Chris Mancini dari Gabelli Asset Management, dalam wawancara yang dikutip Investopedia, menilai utang dan defisit yang terus membesar membuat emas kembali menarik. Ia menyebut dunia sedang memasuki perubahan paradigma dalam cadangan devisa global, ketika bank sentral meningkatkan alokasi emas. Menurut Mancini, harga emas pada akhirnya bisa bergerak di atas US$6.000.
Pada akhirnya, reli emas saat ini memperlihatkan satu hal: status safe haven tidak selalu bergerak dengan logika paling sederhana. Saat konflik mereda, pasar justru melihat peluang bahwa inflasi bisa melunak, The Fed tak perlu seagresif sebelumnya, dan emas kembali menarik baik sebagai pelindung nilai jangka pendek maupun aset strategis jangka panjang. Selama gencatan senjata masih rapuh dan arah suku bunga belum benar-benar pasti, harga emas tampaknya masih akan jadi salah satu barometer paling peka bagi kegelisahan pasar global.
HargaEmas EmasDunia SafeHaven Iran TheFed SelatHormuz ETFEmas PasarGlobal Investasi EkonomiGlobalw