Gubernur Lemhannas: Media dan Jurnalis Jadi Garda Ketahanan Nasional di Era Perang Informasi

Gubernur Lemhannas: Media dan Jurnalis Jadi Garda Ketahanan Nasional di Era Perang Informasi

KabaSumbar -- Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily menegaskan media dan jurnalis memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan nasional di tengah derasnya arus informasi digital dan berkembangnya perang informasi global.

Pernyataan itu disampaikan Ace saat menerima jajaran Pengurus PWI Pusat yang dipimpin Ketua Umum PWI Pusat Munir Akmad di Jakarta, Senin (11/5).

Menurut Ace, perkembangan teknologi komunikasi membuat informasi menyebar sangat cepat di tengah masyarakat. Kondisi tersebut menuntut media untuk mampu beradaptasi tanpa meninggalkan tanggung jawab kebangsaan dan profesionalisme jurnalistik.

“Media harus adaptif terhadap perkembangan, dan dalam konteks ketahanan nasional tentu harus disertai nilai-nilai kebangsaan,” ujar Ace.

Ia menilai masyarakat saat ini dapat langsung mengetahui berbagai peristiwa melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Karena itu, fungsi verifikasi yang dijalankan media dan jurnalis menjadi semakin penting untuk memastikan informasi yang beredar benar dan tidak menimbulkan dampak negatif.

Peran Verifikasi Informasi Makin Penting

Ace mengatakan derasnya arus informasi membuat publik mudah menerima dan menyebarkan berbagai kabar tanpa proses pengecekan yang memadai. Dalam situasi seperti itu, media arus utama dinilai memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kualitas informasi publik.

“Sekarang ini masyarakat bisa langsung catch terhadap kejadian di lapangan. Lalu fungsi media dan jurnalis adalah memverifikasi apakah informasi itu betul atau tidak. Kalau betul lalu ikut memviralkan, maka informasi itu bisa berkembang menjadi sebuah cerita besar di masyarakat,” katanya.

Menurut dia, proses verifikasi menjadi pembeda utama antara kerja jurnalistik profesional dan arus informasi liar di media sosial. Tanpa verifikasi, informasi berpotensi berkembang menjadi disinformasi yang dapat memicu keresahan publik maupun konflik sosial.

Ace juga menyoroti pentingnya literasi digital di tengah meningkatnya konsumsi informasi berbasis platform digital. Ia menilai masyarakat perlu didorong untuk lebih kritis dalam menerima maupun membagikan informasi.

Dalam kesempatan itu, Ace menegaskan tantangan terhadap ketahanan nasional kini tidak lagi hanya berbentuk ancaman fisik atau militer. Perang informasi, menurutnya, telah menjadi bagian dari rivalitas global yang dapat memengaruhi opini publik dan stabilitas negara.

“Rivalitas antarnegara sekarang bukan hanya secara fisik. Saat ini perang informasi menjadi bagian penting yang harus kita waspadai bersama,” tegasnya.

Ia menyebut penyebaran informasi yang tidak akurat, propaganda digital, hingga manipulasi opini publik dapat menjadi ancaman serius jika tidak diantisipasi secara tepat.

Karena itu, Ace menilai media yang profesional, independen, dan bertanggung jawab menjadi elemen penting dalam menjaga persatuan nasional. Media juga dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun ruang informasi yang sehat dan menjaga kepercayaan publik.

Pertemuan Lemhannas dengan jajaran PWI Pusat tersebut juga menjadi bagian dari penguatan komunikasi antara lembaga negara dan insan pers di tengah perubahan lanskap media yang semakin dinamis.

Berdasarkan catatan redaksi, isu disinformasi dan keamanan informasi digital menjadi perhatian banyak negara dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sumber utama informasi publik.

ketahanan nasional Lemhannas Ace Hasan Syadzily media jurnalisme disinformasi perang informasi PWI literasi digital pers nasional