Ekonomi Sumbar Tumbuh 5,02 Persen di Triwulan I 2026, Pariwisata dan Ekspor Jadi Lokomotif
KabaSumbar -- Ekonomi Sumatera Barat mengawali tahun 2026 dengan laju positif. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 5,02 persen secara tahunan dan 3,15 persen secara triwulanan. Kinerja itu tercermin dari nilai Produk Domestik Regional Bruto yang menembus Rp92,96 triliun atas dasar harga berlaku.
Angka ini terasa lebih bermakna bila melihat kondisi setahun sebelumnya. Di penghujung 2025, pertumbuhan ekonomi Sumbar sempat mencatatkan angka terendah se-Sumatera, hanya 3,94 persen. Kini, dalam satu kuartal, mesin ekonomi Ranah Minang berhasil membalik keadaan.
Pariwisata Melejit, Ekspor Tembus Dua Digit
Kejutan terbesar dalam rilis BPS kali ini datang dari sektor perhotelan dan kuliner. Lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni 17,77 persen secara tahunan. Lonjakan ini dipicu meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan serta berbagai agenda MICE yang digelar di Sumatera Barat selama tiga bulan pertama 2026.
Sektor transportasi ikut terdongkrak. Jumlah penumpang angkutan udara melalui Bandara Internasional Minangkabau naik 4,82 persen, sementara volume barang angkutan laut ke luar negeri meningkat 7,38 persen.
Di sisi ekspor, perdagangan luar negeri tumbuh 19,91 persen dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai 1,94 persen. Komoditas minyak sawit mentah atau CPO masih menjadi tulang punggung ekspor dengan pangsa lebih dari 80 persen. Selain itu, produk kimia berbasis gambir juga mengalami peningkatan permintaan di pasar global.
Infrastruktur Pascabencana Jadi Pemacu Utama
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin menyebut pulihnya infrastruktur sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Rampungnya perbaikan infrastruktur publik, termasuk kawasan strategis Lembah Anai yang kini kembali berfungsi normal, membuat arus barang dan jasa menjadi lebih lancar sehingga berdampak langsung terhadap efisiensi distribusi logistik.
Pembangunan Jembatan Layang Sitinjau Lauik juga disebut memberi efek besar terhadap aktivitas ekonomi, khususnya pada sektor konsumsi dan konstruksi. Proyek strategis nasional tersebut memunculkan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan pembangunan.
Dari sisi investasi, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 1,99 persen. Pertumbuhan itu didorong meningkatnya impor barang modal hingga 143,50 persen, termasuk mesin, alat berat, dan berbagai peralatan industri.
Di Bawah Nasional, tapi Melampaui Banyak Tetangga
Pertumbuhan ekonomi Sumbar sebesar 5,02 persen memang masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,6 persen. Meski demikian, capaian ini dinilai cukup signifikan mengingat Sumbar sebelumnya mengalami tekanan ekonomi akibat bencana alam sepanjang Oktober hingga Desember 2025.
Secara spasial, posisi ekonomi Sumbar di Pulau Sumatera juga mengalami penguatan. Kontribusi PDRB Sumbar terhadap total PDRB Pulau Sumatera tercatat 6,83 persen, melampaui sejumlah provinsi lain seperti Jambi, Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, dan Bengkulu.
Bank Indonesia turut menyambut positif capaian tersebut. Kepala Perwakilan BI Sumbar M. Abdul Majid mendorong pemerintah daerah memanfaatkan momentum pertumbuhan sektor akomodasi yang tumbuh dua digit agar bisa berkembang lebih agresif melalui stimulus dan insentif yang tepat.
Tantangan yang Belum Selesai
Di balik capaian positif tersebut, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi. Konsumsi masyarakat di sektor agraris masih cenderung stagnan, tercermin dari indeks konsumsi petani yang hanya tumbuh sekitar 0,52 persen.
Selain itu, ketergantungan terhadap komoditas ekspor tertentu seperti CPO masih menjadi perhatian. Ketimpangan pertumbuhan antar sektor dan wilayah juga menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi agar pertumbuhan ekonomi Sumbar ke depan lebih merata dan berkelanjutan.
ekonomi Sumbar BPS Sumatera Barat pertumbuhan ekonomi 2026 pariwisata Sumbar ekspor CPO PDRB Sumbar pemulihan pascabencana investasi Sumbar