Dari Istano Basa Pagaruyung, Tanah Datar Merawat Mimpi Besar Generasi Penghafal Al-Qur’an
KabaSumbar - Sebelas kali Waqaf 1000 Hafizh digelar, tetapi mimpi yang ingin diwujudkan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar jauh lebih besar daripada angka seribu. Ada cita-cita yang sedang ditanam hari ini: menghadirkan generasi penghafal Al-Qur’an di berbagai lini kehidupan masyarakat pada 2045 mendatang.
Mimpi itu kembali diteguhkan di halaman Istano Basa Pagaruyung, Minggu (11/10/2026). Di kawasan yang menjadi simbol kebesaran budaya Minangkabau tersebut, Program Waqaf 1000 Hafizh kembali dilaksanakan, meneruskan ikhtiar yang telah dirintis sejak masa kepemimpinan almarhum Bupati Irdinansyah Tarmizi.
Bagi Bupati Tanah Datar, Eka Putra, keberlanjutan program ini bukan sekadar menjaga agenda tahunan. Lebih dari itu, ada harapan agar Al-Qur’an tumbuh menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, sekaligus membentuk karakter generasi yang akan menentukan wajah Tanah Datar pada masa depan.
“Program Waqaf 1000 Hafizh ini sudah dilaksanakan untuk kesebelas kalinya, sejak zaman almarhum Bapak Irdinansyah Tarmizi dan dilanjutkan sampai sekarang dengan memperdalamnya melalui Program Satu Rumah Satu Hafiz/Hafizah,” ujar Eka Putra.
Ia menyebut, cita-cita tersebut memang tidak bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Diperlukan kesinambungan program, dukungan masyarakat, serta kesungguhan dalam membina anak-anak agar tidak hanya mampu menghafal ayat-ayat suci, tetapi juga menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman hidup.
“Program ini memang jangka panjang. Setidaknya sampai 2045 nanti, berbagai profesi yang ada di tengah masyarakat akan diisi para penghafal Al-Qur’an, sehingga daerah yang kita cintai ini akan selalu dirahmati Allah SWT,” katanya.
Target 2045 itu menjadi penanda bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak hanya diukur melalui capaian fisik dan ekonomi. Bagi Tanah Datar, pembinaan keagamaan juga menjadi bagian dari ikhtiar menyiapkan masa depan daerah.
Namun, sebuah mimpi besar membutuhkan kerja bersama. Eka Putra menyampaikan apresiasi kepada DPRD, organisasi perangkat daerah, camat, wali nagari, rumah tahfizh, Lajnah Tahfizul Qur’an, para ustaz dan ustazah, serta orang tua dan keluarga yang selama ini ikut mengambil bagian.
Dukungan anggaran, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan pengabdian para pendidik dan dukungan keluarga. Sebab, proses membentuk seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti di ruang belajar, melainkan berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
“Eksistensi program ini berkat dukungan semua pihak, mulai dari dukungan anggaran sampai kerja ikhlas dalam mendidik anak-anak menjadi penghafal Al-Qur’an. Mari terus kita jaga koordinasi dan kita lanjutkan program ini ke depan,” tuturnya.
Ribuan calon penghafal, ratusan rumah tahfizh
Di balik pelaksanaan Waqaf 1000 Hafizh tahun ini, terdapat proses panjang untuk memastikan kualitas hafalan para peserta. Ketua Pelaksana, Mukhlis, menjelaskan bahwa panitia terlebih dahulu melakukan validasi hafalan sepanjang Agustus hingga September 2026.
Sekitar 1.700 hafiz dan hafizah mengikuti proses tersebut. Setelah validasi, sebanyak 1.000 peserta ditetapkan untuk mengikuti prosesi Waqaf 1000 Hafizh.
“Ada lebih kurang 1.700 hafiz dan hafizah yang divalidasi hafalan Al-Qur’annya, sehingga menyisakan 1.000 hafizh yang kita laksanakan Waqaf Al-Qur’an hari ini,” kata Mukhlis.
Pembinaan itu ditopang oleh jaringan rumah tahfizh yang tersebar di berbagai wilayah Tanah Datar. Data panitia mencatat terdapat 355 rumah tahfizh di masyarakat dan 236 rumah tahfizh di sekolah. Jika digabungkan, jumlahnya mencapai 591 rumah tahfizh.
Sementara itu, jumlah hafiz dan hafizah yang telah terdata mencapai sekitar 21 ribu orang. Angka tersebut menjadi modal awal untuk mengejar target yang lebih ambisius pada 2045.
Mukhlis berharap pertumbuhan rumah tahfizh dan jumlah penghafal Al-Qur’an terus berlanjut hingga setidaknya separuh masyarakat Tanah Datar menjadi penghafal Al-Qur’an.
Target itu tentu membutuhkan kerja panjang. Pertumbuhan jumlah peserta perlu disertai pembinaan berkelanjutan agar semangat menghafal tidak berhenti setelah mengikuti kegiatan atau memperoleh pengakuan atas hafalannya.
Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra, menegaskan dukungan lembaganya terhadap program keagamaan yang dilaksanakan pemerintah daerah. Menurutnya, dukungan tersebut juga diwujudkan melalui pembahasan anggaran bersama pemerintah daerah.
“Kami dari DPRD akan selalu mendukung program keagamaan seperti ini melalui anggaran yang dibahas bersama pemerintah daerah,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari penceramah kegiatan, Ustaz Harya Toni dari IAIN Kerinci, Provinsi Jambi. Ia mengaku bahagia dapat menjadi bagian dari pelaksanaan Waqaf 1000 Hafizh yang ke-11 tersebut.
Baginya, konsistensi Tanah Datar menggelar kegiatan ini merupakan hal yang patut diapresiasi. Ia berharap kegiatan serupa terus berlanjut dan dapat kembali dihadirinya pada masa mendatang.
“Sungguh luar biasa karena tidak semua daerah bisa melaksanakan kegiatan keagamaan seperti ini. Bahkan, baru Tanah Datar yang memiliki program ini,” katanya.
Sebelas kali pelaksanaan telah dilalui. Ribuan penghafal Al-Qur’an telah terdata, ratusan rumah tahfizh menjadi tempat pembinaan, dan target besar telah dipancangkan untuk 2045.
Kini, tantangan Tanah Datar bukan hanya menjaga agar Waqaf 1000 Hafizh terus terselenggara. Yang lebih penting adalah memastikan semangat yang tumbuh dari program itu tetap hidup di rumah-rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Sebab, generasi Qur’ani tidak dibentuk hanya dalam satu hari perayaan. Ia tumbuh dari hafalan yang dijaga, nilai yang diamalkan, serta komitmen bersama yang tidak berhenti ketika seremoni usai. (reyhan)