Beranda Mahabbah Qalam Langit Sumber Kecerdasan Manusia

Qalam Langit Sumber Kecerdasan Manusia

Qalam

Oleh .Mulyadi Katinggian

Qalam !.  Bukan pena jika tak bertinta. Dan tidak ada guna pena selain menulis. Sedangkan tulisan juga tidak tercipta  tanpa ada media tampungnya sebagai kanvas. Baik itu berupa kertas, papan, tanah, dan lain sebagainya. Bahkan dengan teknologi dewasa ini di udarapun orang telah bisa menulis.

Tentang Qalam adalah surat yang pertama diturunkan Allah. Allah memberitahu bahwa melalui Qalam itu manusia belajar, agar  manusia pandai membaca, membaca, dan lebih membaca lagi. Karena dengan membaca itulah manusia bisa tahu. Baik itu membaca dengan lidah, dengan hati, dengan fikiran maupun perasaan.

Qalam yang menurut para ulama diartikan dengan pena. Tentu tujuannya untuk menggambarkan perkataan atau kehendak dari sumber kepada objek. Itulah umumnya yang kita ketahui.

Namun, sewaktu surat tentang Qalam ini diturunkan,di gua Hira’.  Barangkali tidak ada satupun sejarah yang menulis dan memberitakan. Bahwa Rasulullah diperlihatkan oleh Jibril sebuah alat tulis ciptaan Allah. Sehingga setiap orang yang telah membaca, membaca dan seterusnya lebih membaca lagi, hatinya pasti jadi bertanya. Seperti apa qalam yang di maksud.

Qalam

Tapi anehnya, Rasulullah langsung paham tentang maksud Jibril yang menerangkan tentang Qalam itu. Buktinya Rasulullah menerangkan tentang Qalam itu dengan hadist hadist beliau.

Ini tentu membuktikan bahwa Rasulullah yakin bahwa itu benar adanya. Karena bukan Rasulullah Namanya, jika sesuatu yang tidak dia Yakini. Selanjutnya keyakinan itu di sampaikan pula pada umatnya. Ini mustahil dilakukan Rasulullah. Sebab sifat Rasulullah itu Siddik sehingga digelari Al Amin dari kecilnya.

Qalam yang diartikan ulama sebagai pena. Tentu sudah bisa dipahami, bahwa dia tidak mutlak berupa pensil. Atau seperti pena yang sehari hari kita pakai sebagai alat tulis. Karena sekarang saja kita menulis di Laptop, dan di hp,  dan tidak lagi semata menggunakan pena. Karena ternyata, sinar juga bisa dirubah orang menjadi bentuk tulisan yang bermakna. Baik itu laser, ultra violet dan lain sebagainya.

Sebegitu pentingnya Qalam itu. Bahkan dalam surat Al ‘alaq dan surat qalam diterangkan, bahwa qalam itulah alat yang dipakai untuk mencerdaskan manusia, yakni makhluk yang cuma berasal dari tanah ini. Sehingga dia mampu menjadi makhluk yang teragung di alam semesta ciptaan Allah ini.

Al Alaq

Tentu suatu hal yang sangat aneh, jika alat sepenting itu tidak pernah difikirkan seseorang. Lantas dengan apa dia bisa cerdas, jika dia tidak tahu dengan perangkat yang membuat kecerdasannya itu,? Dan lebih buruk lagi jika manusia bersangkutantidak punya alat itu?

Dan jika seseorang menyatakan dia bisa cerdas karena belajar melalui proses membaca dan menulis, lewat bangku Pendidikan formal, maka tentu kita akan bertanya,  mengapa kecerdasannya itu bisa tetap ada sejak dia bayi sampai dia mengenal huruf huruf?. Dari mana diperolehnya dan qalam apa yang dibacanya?. Selanjutnya dengan apa dia membaca.

Adalah hal yang sangat tidak masuk akal alias aneh. jika seseorang bisa menguasai alam, sebagai Khalifah di bumi ini, apabila dia tidak memiliki kecerdasan di atas kecerdasan alam itu sendiri. Dan alangkah lebih tidak masuk akal lagi jika manusia bersangkutan bisa cerdas tanpa ada alat pembuat kecerdasan yang dimaksud Allah itu. Lalu alat kecerdasan apa yang dipakainya selama ini? Atau adakah “tuhan lain” yang memberikan qalam atau sejenis alat lain kepadanya, sehingga dia bisa cerdas? Ataukah dia sudah menuhankan dirinya sendiri, sehingga qalam yang disebutkan Allah itu tidak dibutuhkannya?

Dalam surat Al ‘alaq dan surat qalam, jelas diterangkan Allah tentang fungsi qalam untuk mengajar manusia. Maka sebagai manusia pernahkah kita melihat, atau tahu tentang Qalam itu?

“Oh itu tidak perlu, sebab bila kita telah tahu apa yang di tulis, maka pena penulisnya tidak butuh buat diketahui. Sebab yang ditulis yang mesti dibaca bukan penanya. “mungkin itu jawab kita.

Itu benar. Tapi tentu timbul pertanyaan baru. “jika demikian halnya, lantas apa yang yang telah ditulis, di mana di tulis, dan bagaimana membacanya?”

Menyimak ayat ayat pada surat surat dalam Al-Qur’an tentang Qalam. Maka seakan dapat kita menarik kesimpulan. Belajar itu adalah dengan membaca dan menulis. Karena fungsi pena atau qalam adalah buat menulis, dan guna tulisan adalah untuk dibaca. Sehingga timbullah pengertian dan paham yang menghasilkan kecerdasan.

Namun dengan kemajuan tekhnologi sekarang, rahasia qalam itu semakin dapat dipahami. Sehingga pemahaman terhadap terminology alat tulis itu hanyalah berupa pena. Barangkali sudah tidak begitu lagi. Karena sudah banyak alat canggih yang tidak lagi berupa pena, dapat menghasilkan sesuatu yang bisa di baca.

Seperti satelit ruang angkasa dapat membaca apa-apa yang ada dan terjadi di  planet yang nun jauh di sana,  kemudian mengirimnya ke bumi dengan grafik, dan atau lambang-lambang tertentu, sehingga hasilnya juga bisa dibaca dan dianalisis – yang selanjutnya memberikan sebuah atau lebih kesimpulan. Sekalipun tidak menggunakan tinta ataupun suara, semua isi bumi dan planet -planet lainnya bisa di baca oleh manusia di bumi ini.

Dari pengetahuan dan keilmuan yang dimilik , hasil dari proses membaca dan tingkat keterbacaan manusia , pada gilirannya akan menggiring manusia kepada makna subtantif dari qalam yang dituju Allah lewat firman firman-Nya. Sehingga pada akhirnya kita dapat mengerti bahwa qalam itu dapat diartikulasikan sebagai sesuatu penertian yang sangat universal. Dan pada gilirannya bahwa diksi “membaca”  atau “iqra’ itu merupakan sesuatu aktivitas dan proses yang sangat menakjubkan.

Dengan demikian. Akhirnya tentu dapat dimengerti,  bahwa sebagai suatu proses kemampuan kita memahami baca-tulis itu, adalah sebab akibat adanya kecerdasan. Sehingga manusia mampu meraih  tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari alam itu sendiri, untuk dapat menguasai alam. Sebab Allah telah meletakan tanggungjawab dan kewajiban dipundak manusia selaku Khalifah di alam bumi ini. Mustahil Khalifah yang ditugaskan memimpin, justru memiliki derajat yang rendah disanding derjat alam yang dipimpinnya. Akibatnya tentulah kehancuran bagi kedua-duanya, yakni bagi sang pemimpin dan yang dipimpin.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa, jika alat atau perangkat canggih buatan manusia, bisa membaca dan menulis dengan canggih dan hebat, dapat dipastikan alat atau perangkat ciptaan Allah jauh lebih hebat dan lebih canggih di atas kehebatan hasil yang telah dicapai manusia – yang juga ciptaan Allah.

Seperti lidahpada manusia, jauh lebih pandai menulis, sehingga dia bisa mengukir sesuatu yang bisa di baca pada kanvas hati dan fikiran serta perasaan manusia dan makhluk tuhan lainnya.

Demikian juga sebuah kerlingan mata dan sorot tatapannya,  bisa menghasilkan bermacam bacaan yang bisa di maknai oleh jiwa dan fikiran.

[Gerak tubuh, ekspresi, rasa dan semua yang ada pada diri manusia, merupakan Qalam yang dapat menuliskan bermilyar-milyar bahasa dan interpretasi.

Tidak hanya itu. Udara yang tidak tampak, yang menghasilkan sinyal dan frekwensi, juga bisa berqalam dan bisa di baca. Tumbuhan yang tumbuh, batu, planet dan segala yang ada di alam semesta, bisa berqalam, dan dapat dibaca manusia. Itulah qalam  sekaligus tinta dan kanvas yang menyebabkan bisa dibaca.

Jika hal ini telah kita ketahui, tentu timbul pertanyaan dan pemahaman baru dalam hati kita. Sebab kita adalah qalam yang sedang menebar tinta. Mengukir sesuatu yang dapat dibaca.

Hal ini membuat kita mesti berhati-hati, karena sekecil apapun gerak dan diam kita. Dia menghasilkan tinta yang dapat dibaca. Jika tinta itu telah tergores, maka goresan itu mesti dipertanggung jawabkan. Sebab dia bukan milik kita. Si penggores tinta tentang bacaan apa yang telah diukirnya pasti dituntut dan di tanya kelak.

Kehati-hatian itu bukanlah hanya untuk sebatas pada antar-manusia, melainkan terhadap Allah sang pencipta alam semesta, karena tinta itu juga telah menggores di kanvas langit, dalam genggaman Allah. Dan salinannya juga sedang direcord oleh malaikat Raqib dan Atib, guna pencocolkan dengan  yang ada pada genggaman Allah. Sebab Allah adalah hakim yang Maha Adil dan bijaksana. Dia tidak akan menuntut sesuatu tanpa ada saksi dan bukti.

Maka pada bulan Sa’ban ini. Sebelum catatan itu naik ke langit, kesempatan kita membenahinya. masih ada terbuka, dengan membuat perimbangan. Agar kebaikan tetap pada poin yang lebih tinggi dari segala kesalahan kita yang bermuatan lebih selama ini. sehingga Mizan penimbang menunjukkan hasil memuaskan.

Untuk itu ada dua cara, mengahapusnya dengan tobat, dan memperbanyak kebaikan. Itulah cara yang telah diajarkan Rasulullah.

Editor Bhuyoung Slomak

Facebook Comments