BerandaPendidikanPenguatan Pemahaman Sila Ke-4 Pancasila Berbasis Kajian Sejarah untuk Meningkatkan Nasionalisme Generasi...

Penguatan Pemahaman Sila Ke-4 Pancasila Berbasis Kajian Sejarah untuk Meningkatkan Nasionalisme Generasi Muda Melalui Sosialisasi di SMA Negeri 9 Padang

Artikel ini disusun sebagai Output Proyek MKWK Pancasila – Universitas Andalas

Nasionalisme Generasi Muda_1
Sosialisasi di SMA Negeri 9 Padang (Sumber: Dokumetasi salah satu siswa SMA Negeri 9 Padang)

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan arah kehidupan bangsa. Setiap sila mengandung nilai moral, etika, dan pedoman yang dapat dijadikan landasan untuk membangun masyarakat yang berkeadilan, harmonis, dan demokratis. Namun, seiring perkembangan teknologi dan globalisasi, tantangan terhadap internalisasi nilai Pancasila semakin besar, terutama di kalangan generasi muda. Banyak siswa yang memahami Pancasila hanya sebatas teori, bukan sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Dalam konteks inilah kegiatan sosialisasi mengenai “Penguatan Pemahaman Sila Keempat Pancasila Berbasis Kajian Sejarah” yang dilakukan di SMA Negeri 9 Padang menjadi sangat relevan. Melalui pendekatan sejarah, siswa diajak untuk melihat bahwa nilai demokrasi dan musyawarah dalam sila keempat tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari proses panjang perjuangan para pendiri bangsa. Pemahaman sejarah membuat siswa lebih mampu menangkap makna filosofis sila tersebut dan menghubungkannya dengan tantangan zaman sekarang.

Pentingnya Memahami Sila Keempat di Era Modern

Sila keempat Pancasila, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, mengandung nilai demokrasi, kebijaksanaan dalam bertindak, toleransi terhadap perbedaan pendapat, serta komitmen terhadap keputusan bersama. Nilai-nilai ini menjadi sangat penting dalam kehidupan pelajar yang setiap hari berinteraksi dengan teman sebaya dari latar belakang yang beragam.

Kemajuan teknologi dan media sosial membuat arus informasi semakin cepat dan terbuka. Di satu sisi, hal ini memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan. Namun, di sisi lain, tanpa pemahaman nilai Pancasila yang kuat, generasi muda mudah terpengaruh budaya luar, hoaks, konflik opini, serta pola pikir individualis. Fenomena seperti menurunnya semangat gotong royong dan rendahnya rasa nasionalisme pun mulai terlihat.

Karena itu, penguatan pemahaman sila keempat melalui pendidikan, pembiasaan, dan diskusi menjadi langkah penting. Sekolah, sebagai ruang pembentukan karakter, memiliki peran strategis dalam hal ini. Siswa bukan hanya dipersiapkan untuk cerdas secara akademik, tetapi juga agar memahami nilai sosial, demokrasi, dan kebangsaan.

SMA Negeri 9 Padang sebagai Ruang Penguatan Nasionalisme

SMA Negeri 9 Padang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena lingkungannya yang multikultural. Sekolah ini berada di kawasan yang ramai dan dekat dengan perguruan tinggi, sehingga siswa memiliki akses yang luas terhadap berbagai informasi dan budaya. Situasi ini memberikan peluang perkembangan pengetahuan, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap cara pandang siswa tentang identitas kebangsaan jika tidak diimbangi dengan pemahaman nilai Pancasila.

Sosialisasi di SMA Negeri 9 Padang (Sumber: Dokumetasi Raffi Maulana Bilhaqi)

Melalui kegiatan sosialisasi, siswa diajak memahami bahwa nasionalisme bukan hanya tentang simbol, tetapi tentang sikap dan perilaku, seperti menghargai perbedaan, bekerja sama, serta menjaga persatuan. Dengan memahami sila keempat dari perspektif sejarah, siswa dapat mengetahui bagaimana bangsa Indonesia membangun sistem demokrasi yang sesuai dengan karakter masyarakatnya.

Pelaksanaan Kegiatan dan Antusiasme Siswa

Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada Kamis, 20 November 2025 pukul 13.00–14.00 WIB dengan melibatkan siswa kelas 12. Meskipun mengalami kendala teknis karena ruangan tidak memiliki infokus untuk menampilkan PowerPoint dan kuis Kahoot, kegiatan tetap berjalan dengan baik melalui penyesuaian. Materi akhirnya disampaikan secara lisan, dan kuis dilakukan dalam bentuk pertanyaan langsung.

Penyampaian materi dibuat sederhana agar mudah dipahami, mulai dari makna sila keempat, sejarah lahirnya Pancasila, hingga pentingnya demokrasi dalam kehidupan siswa. Selama sesi berlangsung, siswa terlihat aktif, responsif, dan tertarik ketika diberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sesi tanya jawab pun berjalan lancar, di mana satu orang siswa mengajukan pertanyaan yang kemudian dijawab oleh tim pemateri. Setelah itu, kuis dilakukan sebagai bentuk evaluasi singkat. Meskipun dilakukan secara manual, antusiasme siswa sangat tinggi. Banyak yang berebut mengangkat tangan, menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi yang baru saja dijelaskan. Tiga siswa yang menjawab paling cepat dan tepat diberikan hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi.

Salah satu siswa berprestasi (Sumber: Dokumetasi Raffi Maulana Bilhaqi)

Sebagai penutup kegiatan, kelompok juga membagikan kue Putu Ayu, salah satu makanan tradisional Indonesia. Selain sebagai bentuk penyemangat, pembagian kue ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal dan mendukung UMKM, yang merupakan salah satu bentuk kecil dari implementasi nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Sosialisasi sebagai Langkah Penguatan Karakter

Dari kegiatan tersebut, dapat terlihat bahwa pemahaman siswa terhadap sila keempat meningkat melalui metode penyampaian yang interaktif. Siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga turut terlibat melalui diskusi dan kuis. Proses pembelajaran seperti ini lebih efektif karena menggabungkan pengetahuan, pemikiran kritis, dan pengalaman langsung.

Pembentukan sikap nasionalisme memang tidak dapat dilakukan dalam satu waktu, tetapi kegiatan semacam ini menjadi pijakan awal. Ketika siswa diajak memahami sejarah, berdiskusi mengenai demokrasi, serta melihat relevansi Pancasila dalam kehidupan mereka, maka nilai-nilai tersebut akan lebih mudah meresap dan diterapkan.

Kesimpulan

Penguatan pemahaman sila keempat Pancasila melalui kajian sejarah merupakan langkah penting dalam membangun kembali nasionalisme generasi muda. Di tengah tantangan globalisasi, pemahaman nilai Pancasila perlu terus diperkuat agar siswa tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Sosialisasi di SMA Negeri 9 Padang menunjukkan bahwa, dengan metode yang interaktif, siswa dapat memahami nilai demokrasi, musyawarah, dan kebersamaan secara lebih mendalam. Antusiasme mereka menjadi bukti bahwa generasi muda sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan yang menjunjung tinggi persatuan dan nilai kebangsaan.

Padang, 25 November 2025

Disusun oleh kelompok 4 dan kelompok 12

 

Facebook Comments

- Advertisement -
- Advertisement -