Beranda Pembangunan Pekerjaan Normalisasi Batang Agam Ala CV. APM Perlu Disikapi

Pekerjaan Normalisasi Batang Agam Ala CV. APM Perlu Disikapi

PAYAKUMBUH | Kaba Sumbar- Sepertinya pekerjaan Normalisasi  Batang Agam Kota Payakumbuh, yang kini tengah dikerjakan CV. Athaya Putra Mandiri (CV. APM), Konsultan Supervisi CV. Afiza, perlu disikapi Institusi terkait.

Pasalnya, kegiatan Pengelolaan SDA dan Bangunan Pengaman Pantai Pada
Wilayah Sungai Lintas Kabupaten/Kota, pada proyek Normalisasi Batang Agam Kota Payakumbuh, bernomor kontrak. 03.17/PPSDA/APBD-SDA.BK/VIl/2021, tanggal 14 Juli 2021, waktu pelaksanaan 170 hari kalender, terindikasi melabrak spesifikasi teknis.

Proyek Normalisasi Batang AgamTerbukti, proyek Normalisasi Batang Agam bernilai Kontrak Rp.1.975.441.974, kini tengah dikerjakan kontraktor CV.Athaya Putra Mandiri, Konsultan Supervisi CV Afiza, diduga dikerjakan asal- asalan. Hal tersebut disebabkan kurangnya pengawasan, baik dari konsultan maupun pengawas dari dinas terkait.

Wajar saja proyek Normalisasi Batang Agam tersebut sarat permainan ini, menuai sorotan berbagai kalangan. Dan diprediksi tak akan bertahan lama.

Kendati ketika tinjauan lapangan oleh Ketua DPRD Sumbar, bulan lalu telah wanti- wanti Namun, tak membuat rekanan jera.

Dengan tegas Supardi mengatakan, jika pekerjaan tidak selesai dan tak mengacu kontrak, akan diblacklist. Termasuk juga orang orang yang terlibat dalam pekerjaan proyek ini, sebut Supardi.

Sedangkan berdasarkan pengamatan media ini dilokasi pekerjaan, terindikasi asal jadi dan melabrak spesifikasi teknis, berpotensi dijerat pidana itu, agar bisa disikapi Pengelolaan SDA dan Bangunan Pengaman Pantai Pada Wilayah Sungai Lintas Kabupaten/Kota,

Seperti halnya pekerjaan pada dinding sungai, tanpa lantai kerja. Batu dipasang di dinding tanah. Alhasil, masih dalam tahap pekerjaan, dinding batu sudah ada yang terban.

Soalnya, Batu yang digunakan juga bercampur tanah, sehingga dinding terlihat menguning. Ironinya lagi, adukan semen diatas tanah berlumpur, tanpa menggunakan kotak.

Wajar saja, adukan semen bercampur tanah. Ada juga adukan menggunakan
molen, itupun takaran diragukan.

Persoalannya, pengadukan semen tanpa kotak takaran dan pasir dimasukkan menggunakan skop. Juga ketika adukan diturunkan terlihat tanpa menggunakan papan luncuran.

Dilain pihak, sistim Manajemen Keselamatan Kerja (SMK3), juga terkesan diabaikan. Karena tak satupun pekerja menggunakaan Alat Pengaman Diri (APD). Baik pekerja yang mengaduk diatas tebing maupun pekerja yang memasang batu dinding.

Anehnya, batu digunakan juga bekas galian bercampur tanah. Tanpa dicuci
sebelum dipasang.

Reno tenaga teknis perusahaan tersebut, Jumat (4/12) lalu ketika dimintakan tanggapan, tak memberi jawaban sama sekali. Dan, berjanji memberikan jawaban untuk bertemu Minggu (5/12).

Saat dikonfirmasikan, Minggu, ia mengaku berada dilokasi pekerjaan dan janji bertemu, Senin, (6/12). Karena media ini.

Kata Reno via WA nya, untuk
menggunakan batu bekas galian
masih berselimut, batu yang
digunakan bukan batu berselimut
tanah, tapi corak/warna batunya
demikian. la telah mendatangkan
sumber batu lain yaitu, Pangkalan
dengan pembelian perton (foto dan
nota terlampir)

Adukan tanpa dolak, intinya telah
dibuat dan ukuran telah kami konfirmasikan ke skop dengan
volume tetap sama. Karena salah
asumsi kami bersedia menggunakan nya yang kami buat.

Untuk pekerjaan lantai kerja, selalu kami lakukan. Mungkin ada sebagian segmen mempunyai perlakuan khusus yang disebabkan banyaknya rembesan air pada dinding tanah. Maka lantai kerja dikerjakan bersamaan dengan
pasangan batu.

Menjawab penggunaan Alat Pengaman Diri ( APD ) tidak satupun pekerja yang mengenakan, Reno katakan, telah disediakan segala sesuatunya untuk pekerja, baik dari helm, rompi dan sepatu, berdalih hal itu disebabkan karakter pekerja, demikian dikutip investigasionline. (NB )

Facebook Comments

Artikulli paraprakEkowisata Sungkai Green Park: Destinasi Wisata Baru 2021
Artikulli tjetërKominfo Kota Padang Laksanakan Peningkatan Kapasitas Aparat Dinas