Beranda Pariwisata Kelok Sembilan dan Lapak-lapak liar Kecewakan Wisatawan.

Kelok Sembilan dan Lapak-lapak liar Kecewakan Wisatawan.

Kelok Sembilan
Tenda tenda dari lapak liar yangmemenuhi panorama Jalan Layang Kelok sembilan.

Kelok Sembilan sebagai salah satu ikon wisata Sumatera Barat, kondisinya semakin mengecewakan. Pemandangan di pinggiran jembatan layang itu kini dikotori oleh tenda dan lapak lapak liar. Kawasan itu sepertinya tidak lagi dipehatikan pemerntah Sumatera Barat.

Kelok sembilan di Kab.Limapuluh-kota itu tidak lagi mampu membanggakan warga Sumatera Barat. Lokasi tempat pengunjung menikmati alam raya pebukitan sudah dipenuhi oleh lapak-lapak pedagang minuman. Yang tersisa hanyalah lokasi yang kurang pas untuk memandangi alam di sekitarnya.
Ketika media mendampingi wisata domestik dari Jakarta Kamis (24-!!) tampak sejumlah pengunjung  alami kesulitan mencari posisi yang menarik untuk mengambil foto . Posisi strategis di jembatan layang kelok Sembilan itu sudah tertutup oleh  puluhan lapak dan tenda yang liar di sepanjang piggiran jembatan layang itu. Bahkan diantaranya ada yangmenggunkan kursi plastik untuk berpijak agar bisa berswa foto dengan latar belakang lika liku kelok sembilan yang ada di bawah sana.

kelok sembilan

Setidaknya terdapat 70-an lapak yang didirikan pedagang secara tidak teratur. Seperti  yang diungkapkan Ayub  (64 ) bahwa lapak-lapak itu mengganggu lalulintas dan pengunjung di sana. Lapak itu katanya terlalu mepet ke  bahu jalan sehingga mengganggu kelancaran lalu lintas di sana.

 

Warga Ulu Aie yang juga pernah punya lapak di sana, mengaku, tahun lalu pernah  dirazia dan  bangunan lapaknya dipaksa petugas untuk dibongkar. Biasanya razia dilakukan jika ada pejabat tinggi negara yang akan lewat. Jika tidak, maka tidak akan ada razia.
Menurut Muis (56 )  Sejak acara Tour De Singkarak pada September 2019 tidak pernah lagi ada razia. Jika ada razia maka bangunan lapak di sini pasti dibongkar. Untuk membangunnya kembali, masing-masing pedagang alami kesulitan mambayar tukang untuk membuat kerangka lapak yang baru lagi. Setdaknya biaya yang dikeluarkan buat lapaknya, kata Muis menghabiskan uang Rp 8 hungga Rp 10 juta.

kelok sembilan

”Razia itu memang menakutkan kami”, ungkap Adi (40 ) “Tapi mau bagaimana lagi, kita butuh biaya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga”. Itulah sebabnya  warga Ulu aie yang satu ini lebih memilih mendirikan bangunan lapaknya di kawasan kelok sembilan yang lama. Di sini katanya, perasan kami terasa aman berjualan. Meskipun penghasilan kami jauh lebih rendah dibanding buka laak di kawasan jembatan layang itu, tapi kami tidak was was untuk membangun lapak yang lebih baik ketimbang di sana, katanya menunjuk arah ketinggian jembatan Layang kelok Sembilan..\

kelok sembilan

Salah seorang pengunjung  Muas ( 70 ) dari Jakarta, menyarankan kiranya Pemda Limapuluh Kota ataupun Pemprov Sumbar mengelola para pedagang yang membuat lapak liar tersebut . Pemerintah dapat mengaalokasikan tempat dan menetapkan design lapak yang lebih baik dan teratur.

 

Merazia dan melarang mereka bukanlah  solusi yang bijak. Pengunjung  juga memerlukan  keberadaan pedagang di sana. Namun jangan sampai  mereka para pedagang merusak estetika alam dan keindahan yang dibangun dengan uang Triliunan itu ujarnya.

Facebook Comments

Artikulli paraprakTower Telkomsel Desa Pengabean Diduga belum Ngantongi IMB
Artikulli tjetërPT. Anam Koto Rusak Puluhan Hektar Lahan Masyarakat 27/11/21