Harau dan Dua Rasa yang Tak Lekang Waktu: Goreng Pucuak Koa dan Karabu Baluik
Oleh: Andika Putra Wardana
Di pagi hari, Lembah Harau terasa seperti lukisan hidup. Tebing-tebing granit menjulang bagai dinding alam yang melindungi kampung, sementara kabut tipis menggantung di atas persawahan dan kebun kopi. Suara ayam berkokok berpadu dengan denting wajan dari dapur warga. Harau, yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, memang dikenal karena keindahan alamnya, tapi bagi penduduknya, lembah ini lebih dari sekadar panorama. Ia adalah ruang hidup yang menyatukan alam, budaya, dan rasa.
Di sinilah, di balik tebing batu dan ladang kopi, dua kuliner langka lahir dan bertahan lintas generasi, goreng pucuak koa dan karabu baluik. Keduanya bukan hanya hidangan lezat, tapi juga potret kebijaksanaan masyarakat Harau dalam memanfaatkan alam tanpa merusaknya, menjadikan setiap daun, sungai, dan api dapur sebagai bagian dari kisah panjang mereka.
- Goreng Pucuak Koa: Renyah dari Pucuk Daun Kopi
Tidak banyak daerah di Sumatera Barat yang bisa mengolah pucuk kopi menjadi camilan. Namun, masyarakat Harau justru menjadikannya simbol kreativitas kuliner. Pucuak koa, begitu mereka menyebut pucuk daun kopi, dipetik muda, dicampur dengan kacang tanah dan bumbu, lalu digoreng hingga renyah keemasan.
Sekilas terlihat sederhana, tapi prosesnya memerlukan ketelatenan. Daun kopi harus dipilih yang tidak terlalu tua agar hasilnya tidak getir. Setelah dicampur dengan bumbu bawang, garam, dan sedikit tepung, adonan digoreng hingga kering dan renyah. Hasilnya adalah camilan gurih dengan aroma khas daun kopi yang tak tertandingi.
Bagi warga Harau, goreng pucuak koa bukan sekadar makanan ringan, ia bagian dari tradisi sosial. Hidangan ini sering disajikan dalam baralek (pesta adat) atau saat panen kopi, menjadi simbol gotong royong dan rasa syukur atas hasil bumi.
- Karabu Baluik Asap, Santan, dan Rasa dari Sungai
Sementara itu, dari sungai-sungai kecil yang mengalir di lembah Harau, lahir karabu baluik, olahan belut yang unik dan berlapis rasa. Belut segar dibersihkan, lalu dibakar terlebih dahulu di atas arang tempurung kelapa hingga kulitnya kering dan mengeluarkan aroma asap. Setelah itu, belut dimasak dengan bumbu santan kental, cabai, dan rempah-rempah.
Beberapa keluarga masih mempertahankan cara lama, belut dibakar tanpa minyak, lalu diulek bersama bumbu mentah, menghasilkan versi karabu tanpa santan yang lebih pedas dan segar. Namun di banyak rumah makan sekitar Harau dan Payakumbuh, versi bersantan lebih populer karena kuahnya gurih dan berlemak, cocok disantap dengan nasi hangat.
Karabu baluik bukan hanya soal rasa, tapi juga filosofi. Proses membakarnya mencerminkan kesabaran dan ketelitian, dua nilai yang juga menjadi ciri masyarakat Harau. Setiap gigitan menghadirkan perpaduan rasa asap, pedas, dan gurih, seperti lanskap lembah yang keras tapi indah.
Ketika Alam dan Kuliner Menyatu
Kedua hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Harau hidup selaras dengan alamnya. Dari kebun kopi lahir pucuak koa, dari sungai muncul baluik, dan dari dapur mereka lahir kearifan rasa. Tak ada bahan yang terbuang; semua diolah menjadi sesuatu yang bermakna.
Mungkin di luar sana, banyak orang mengenal Harau karena tebing-tebing granitnya yang megah. Tapi bagi penduduk setempat, lembah ini lebih dari sekadar destinasi wisata, ia adalah dapur raksasa yang mengajarkan keseimbangan antara alam, kerja, dan rasa.

Facebook Comments