Thanksgiving dan Makan Bajamba : Tradisi Syukur di Dua Budaya
KabaSumbar “ Setiap akhir November, masyarakat Amerika Serikat merayakan salah satu momen paling penting dalam budaya mereka: Thanksgiving Day. Jutaan orang Amerika berkumpul bersama keluarga untuk menikmati makan malam khas, sebagai wujud rasa syukur dan kebersamaan setelah kesibukan rutinitas sehari-hari.

Perayaan ini memiliki ciri khas yang mudah dikenali: hidangan utama kalkun panggang, ditemani berbagai menu pendamping seperti kentang tumbuk, saus cranberry, isian roti, dan sayuran seperti Brussel sprouts. Lebih dari sekadar pesta makan, Thanksgiving memperlihatkan bagaimana makanan dan tradisi mampu mempererat nilai-nilai budaya dan hubungan keluarga.
Awalnya, Thanksgiving dikenal sebagai perayaan panen, bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah dan penanda berakhirnya musim dingin. Seiring waktu, maknanya terus berkembang mengikuti kehidupan modern.
Menurut Nadia, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas, œYang saya tahu tentang Thanksgiving adalah sebagai rasa syukur karena winter sudah berlalu dan datangnya musim panen.
Kini, Thanksgiving tak lagi hanya tentang panen, tetapi juga menjadi momen refleksi diri dan kebersamaan keluarga. Hal ini diperkuat oleh pendapat Caca, mahasiswa Sastra Inggris lainnya. œMenurut saya, Thanksgiving punya makna utama sebagai momen untuk bersyukur dan berbagi. Sekarang banyak yang memaknainya sebagai waktu bersama keluarga dan teman untuk mempererat hubungan, refleksi diri, serta ajang berbagi dan kepedulian, ujarnya.

Menariknya, semangat rasa syukur juga hadir dalam budaya Indonesia, salah satunya melalui tradisi Makan Bajamba dari Minangkabau.
Dalam tradisi ini, masyarakat duduk bersama di lantai baselo dan menyantap hidangan menggunakan tangan kanan. Makanan disajikan dalam jumlah besar dan dinikmati secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan kesetaraan sosial.
Menurut Caca, mahasiswa Sastra Inggris, œPerbedaan tradisi Bajamba dengan Thanksgiving itu ada pada budayanya. Pada Bajamba, kita makan duduk baselo di lantai bersama-sama dan makan pakai tangan kanan. Sedangkan Thanksgiving memiliki menu khas seperti kalkun, dan tidak ada aturan adat seperti makan bajamba.
Meski berakar dari nilai luhur, makna Thanksgiving di era modern kerap bergeser. Kini, perayaan tersebut sering dikaitkan dengan Black Friday, tradisi belanja besar-besaran dengan diskon menarik. Pergeseran ini menimbulkan kekhawatiran bahwa semangat syukur tergantikan oleh budaya konsumtif.
Namun, sebagian besar masyarakat Amerika tetap berupaya mempertahankan nilai utama Thanksgiving: bersyukur dan mempererat hubungan antar keluarga.
Hal serupa juga terjadi pada tradisi Makan Bajamba. Dahulu, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam perayaan besar dan upacara adat. Kini, tradisi tersebut mulai jarang ditemui karena masyarakat cenderung memilih cara yang lebih praktis. Meski begitu, nilai kebersamaan dan rasa syukur tetap dijaga oleh masyarakat Minangkabau.
Baik Thanksgiving di Amerika maupun Makan Bajamba di Minangkabau sama-sama menekankan pentingnya rasa syukur, kebersamaan, dan solidaritas sosial. Meski lahir dari latar budaya yang berbeda, keduanya menyampaikan pesan universal bahwa rasa syukur dan hubungan antarmanusia adalah nilai yang tidak lekang oleh waktu.
Kedua tradisi ini mengingatkan kita bahwa, di tengah modernitas dan perubahan zaman, nilai-nilai kemanusiaan seperti kebersamaan dan rasa terima kasih tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat di mana pun berada.
Oleh: Retno Sagita Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas