Harga Minyak Dunia Meledak, Saham Migas Indonesia Bergerak Liar Saat IHSG Tertekan
KabaSumbar - Harga minyak dunia melonjak tajam dalam sepekan terakhir dan memberikan sentimen positif bagi saham sektor minyak dan gas (migas) di pasar modal Indonesia. Namun penguatan tersebut tidak sepenuhnya bertahan karena tekanan besar yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kenaikan harga minyak global sempat mendorong beberapa saham energi naik cukup signifikan. Meski demikian, pelemahan pasar saham domestik secara keseluruhan membuat reli saham migas menjadi terbatas.
Harga minyak dunia menjadi perhatian utama pasar energi global. Dalam perdagangan terbaru, minyak mentah jenis Brent ditutup di level USD92,69 per barel, naik 8,52 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berakhir di USD90,90 per barel, melonjak 12,21 persen pada penutupan perdagangan Jumat.
Jika dihitung dalam periode satu pekan, kenaikan harga minyak bahkan jauh lebih besar. WTI tercatat melonjak 35,63 persen, sedangkan Brent meningkat sekitar 27 persen.
Kenaikan tersebut menjadi lonjakan mingguan terbesar sejak masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik serta kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Saham Migas Masih Menguat di Tengah Tekanan Pasar
Saham migas di Bursa Efek Indonesia sempat mencatatkan penguatan, meskipun tidak semua mampu bertahan di zona hijau.
Saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) menjadi salah satu yang mencatat kenaikan paling tinggi. Dalam sepekan, saham ini melonjak 11,54 persen dan ditutup di level Rp232 per saham.
Penguatan juga terjadi pada saham PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) yang naik 8,06 persen menjadi Rp268 per saham.
Selain itu, saham energi lain juga ikut menguat meskipun kenaikannya tidak sebesar dua emiten tersebut.
Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 3,69 persen dalam sepekan dan berada di level Rp1.825.
Kemudian saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) bertambah 2,32 persen menjadi Rp1.765 per saham.
Sementara itu, saham PT Elnusa Tbk (ELSA) cenderung bergerak stabil. Sepanjang pekan saham ini bertahan di level Rp850, meskipun sempat menyentuh Rp1.050 pada perdagangan sebelumnya.
Beberapa Saham Energi Justru Mengalami Koreksi
Meski harga minyak dunia melonjak, tidak semua saham sektor energi menikmati kenaikan.
Beberapa saham justru mengalami tekanan cukup dalam selama sepekan terakhir.
Saham AKRA tercatat turun 3,09 persen menjadi Rp1.255 per saham.
Penurunan yang lebih besar dialami oleh saham RAJA, yang melemah 16,22 persen dan berada di posisi Rp3.770.
Sementara itu, koreksi paling dalam terjadi pada saham RATU yang anjlok 22,92 persen menjadi Rp5.550 dalam periode yang sama.
IHSG Turun Tajam Tekan Pergerakan Saham Migas
IHSG menjadi faktor utama yang menahan penguatan saham migas. Dalam sepekan terakhir, indeks utama Bursa Efek Indonesia ini tercatat turun tajam 7,89 persen.
IHSG akhirnya ditutup di level 7.585,69, setelah hanya mencatat satu hari penguatan selama lima hari perdagangan.
Pelemahan ini menunjukkan tekanan yang cukup besar di pasar saham domestik.
Ketika indeks utama melemah, biasanya sebagian besar saham di pasar juga ikut terdampak, termasuk sektor energi yang sebenarnya sedang mendapat sentimen positif dari kenaikan harga minyak dunia.
Sejumlah sentimen negatif turut memperburuk kondisi pasar saham Indonesia.
Salah satunya adalah eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Ketegangan ini meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
Selain itu, penurunan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat kredit juga menjadi perhatian investor.
Sorotan terhadap transparansi pasar saham domestik turut menambah kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Kombinasi faktor tersebut membuat investor menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Tekanan di pasar saham semakin besar setelah investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar.
Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat melepas saham senilai sekitar Rp2,48 triliun di pasar reguler.
Aksi jual ini memperkuat tekanan terhadap IHSG dan membuat penguatan saham sektor energi tidak bisa bergerak lebih jauh.
Ke depan, pergerakan saham migas di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia.
Jika harga minyak tetap tinggi atau terus naik, sektor energi berpotensi kembali mendapatkan perhatian investor.
Namun kondisi pasar saham domestik, stabilitas ekonomi global, serta arus dana investor asing juga akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan saham sektor ini.
harga minyak dunia saham migas IHSG hari ini saham energi Indonesia APEX MEDC ENRG ELSA pasar saham Indonesia berita ekonomi terbaru