Eskalasi Konflik India-Pakistan: Rentetan Kejadian Dua Tahun Terakhir, Ancaman Nuklir, dan Dampaknya bagi Indonesia

Eskalasi Konflik India-Pakistan: Rentetan Kejadian Dua Tahun Terakhir, Ancaman Nuklir, dan Dampaknya bagi Indonesia

Oleh : Sado

Eskalasi Konflik India-Pakistan: Rentetan Kejadian Dua Tahun Terakhir, Ancaman Nuklir, dan Dampaknya bagi Indonesia

Oleh     : Redaksi Tanggal: 7 Mei 2025

KabaSumbar “ Hubungan India dan Pakistan, dua negara tetangga di Asia Selatan yang sama-sama memiliki senjata nuklir, dan berpotensi meningkatkan eskalasi, terus memanas dalam dua tahun terakhir.

Konflik yang berpusat pada sengketa wilayah Kashmir telah memicu serangkaian insiden berdarah, penurunan hubungan diplomatik, dan ancaman perang terbuka.

Ketegangan ini tidak hanya mengkhawatirkan kawasan, tetapi juga memiliki dampak signifikan bagi Indonesia sebagai negara dengan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan kedua belah pihak.

Rentetan Eskalasi dan Kejadian Dua Tahun Terakhir

Konflik India-Pakistan bukanlah hal baru, namun dua tahun terakhir menyaksikan eskalasi yang mengkhawatirkan, terutama di wilayah Kashmir yang diperebutkan. Berikut adalah rangkuman kejadian utama:

Serangan Pulwama 2019 dan Ketegangan Awal

Meskipun terjadi sebelum periode dua tahun terakhir, serangan bom bunuh diri di Pulwama, Kashmir pada Februari 2019 menjadi titik awal ketegangan modern. Serangan yang menewaskan 40 tentara paramiliter India ini memicu serangan udara India ke wilayah Pakistan, nyaris memicu perang terbuka.

Baca Juga : Asuransi Terbaik Untuk Kesehatan

Pakistan membalas dengan menembak jatuh jet tempur India, dan ketegangan mereda setelah mediasi internasional. Namun, langkah India mencabut otonomi khusus Jammu dan Kashmir pada Agustus 2019 melalui penghapusan Pasal 370 memicu protes keras dari Pakistan, yang menganggapnya sebagai pelanggaran Perjanjian Simla 1972.

Bentrokan di Garis Kontrol (LoC) 2020-2023

Sepanjang 2020 hingga 2023, bentrokan sporadis di sepanjang Garis Kontrol (LoC), perbatasan de facto yang memisahkan Kashmir yang dikuasai India dan Pakistan, terus terjadi. Pakistan menuduh India mendanai terorisme di wilayahnya, sementara India menuding Pakistan mendukung kelompok militan seperti Jaish-e-Mohammed (JeM). Meskipun kedua negara sempat memperbarui gencatan senjata pada 2021, pelanggaran kecil terus berlangsung, menewaskan puluhan tentara dan warga sipil.

Serangan Pahalgam 2025: Pemicu Eskalasi Terkini

Pada 22 April 2025, serangan bersenjata di Pahalgam, Kashmir yang dikuasai India, menewaskan 26 wisatawan, mayoritas warga Hindu. India menuduh kelompok militan yang didukung Pakistan, meskipun The Resistance Front, kelompok yang awalnya dikaitkan, membantah keterlibatannya.

Insiden ini memicu respons keras dari India, termasuk penangguhan Perjanjian Air Indus (IWT) 1960, penutupan perbatasan, dan larangan perdagangan dengan Pakistan.

Pakistan membalas dengan menutup wilayah udara untuk penerbangan India hingga 23 Mei 2025 dan menangguhkan Perjanjian Simla.

Eskalasi Militer dan Ancaman Nuklir

Ketegangan meningkat dengan baku tembak di LoC dan latihan militer Pakistan yang melibatkan peluncuran rudal Abdali pada 3 Mei 2025.

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif memperingatkan bahwa konflik dengan India, dua negara bersenjata nuklir, dapat berakhir tragis.

India, di sisi lain, memberikan kebebasan operasional kepada militernya untuk merespons ancaman. Spekulasi tentang potensi serangan militer besar-besaran terus meningkat, dengan laporan intelijen Pakistan menyebutkan rencana serangan India dalam waktu dekat.

Eskalasi
Eskalasi Nuklir

Ancaman Nuklir: Risiko Global

India dan Pakistan adalah dua dari sembilan negara di dunia yang memiliki senjata nuklir. India diperkirakan memiliki sekitar 160 hulu ledak nuklir, sementara Pakistan sekitar 170, menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) 2024.

Kedua negara telah mengembangkan kemampuan rudal balistik jarak jauh, seperti rudal Agni-V India (jangkauan 5.000 km) dan rudal Shaheen-III Pakistan (jangkauan 2.750 km).

Ancaman penggunaan senjata nuklir, meskipun kecil, menjadi kekhawatiran global karena potensi dampaknya yang katastrofik. PBB, melalui juru bicara Stephane Dujarric, mendesak kedua negara untuk menahan diri pada 24 April 2025, memperingatkan bahwa eskalasi dapat memperburuk situasi di kawasan yang sudah labil.

Baca Juga : Panduan Memilih Asuransi yang Tepat

Dampak bagi Indonesia

Konflik India-Pakistan memiliki implikasi signifikan bagi Indonesia, baik dari sisi diplomatik, ekonomi, maupun sosial. Berikut adalah dampak utama:

Hubungan Diplomatik dan Posisi Indonesia

Indonesia memiliki hubungan historis yang erat dengan kedua negara. Dengan India, hubungan diperkuat melalui kemitraan strategis dalam G-20, ASEAN, dan Gerakan Nonblok.

Sementara itu, Indonesia dan Pakistan terikat oleh solidaritas keislaman dan kerja sama bilateral. Pada masa lalu, Indonesia di bawah Presiden Soekarno sempat mendukung Pakistan selama perang 1965 dengan menawarkan bantuan militer, meskipun hubungan dengan India pulih pada 1966.

Konflik saat ini menempatkan Indonesia dalam posisi sulit untuk tetap netral. Sebagai anggota Dewan HAM dan mantan anggota Dewan Keamanan PBB, Indonesia memiliki potensi untuk mendorong mediasi, seperti yang disarankan oleh anggota DPR Teuku Riefky Harsya terkait konflik Hindu-Muslim di India pada 2020. Namun, pemerintah Indonesia cenderung berhati-hati karena isu minoritas di dalam negeri dapat menjadi bumerang.

Dampak Ekonomi

India adalah mitra dagang penting Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai $21 miliar pada 2023, terutama dalam sektor minyak sawit, batu bara, dan tekstil. Pakistan, meskipun lebih kecil, memiliki perdagangan senilai $2,5 miliar, terutama tekstil dan produk pertanian.

Eskalasi konflik dapat mengganggu rantai pasok global, meningkatkan harga komoditas seperti minyak dan gas, yang berdampak pada inflasi di Indonesia. Krisis finansial Asia 1997 menunjukkan betapa rentannya Indonesia terhadap gejolak regional, dan situasi serupa dapat terulang jika konflik berlarut-larut.

Eskalasi
Eskalasi Perang

Isu Sosial dan Keamanan

Konflik India-Pakistan dapat memicu polarisasi agama di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Ketegangan Hindu-Muslim di India, seperti yang dipicu oleh kebijakan anti-Muslim di bawah pemerintahan Narendra Modi, dapat memicu sentimen anti-Hindu atau anti-India di Indonesia.

Sebagaimana yang dikhawatirkan oleh pengajar Universitas Pelita Harapan, Yosef Djakababa, pada 2020. Media sosial dapat memperburuk situasi ini, sebagaimana terlihat dalam debat panas di platform X pasca-serangan Pahalgam.

Selain itu, eskalasi konflik dapat meningkatkan risiko terorisme di kawasan, yang berpotensi menyebar ke Indonesia melalui jaringan militan transnasional.

Langkah Indonesia ke Depan

Indonesia dapat mengambil peran proaktif dengan memanfaatkan posisinya di forum internasional seperti PBB dan ASEAN untuk mendorong dialog damai antara India dan Pakistan.

Baca Juga : Panduan Memilih Proxy yang Aman dan Praktis

Sebagai negara dengan pengalaman mediasi konflik, seperti dalam krisis Kamboja 1991, Indonesia dapat mengusulkan pembentukan saluran diplomasi multilateral. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan perdagangan untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok dan menjaga stabilitas ekonomi.

Di dalam negeri, pemerintah harus memantau narasi media sosial yang berpotensi memicu polarisasi agama. Kampanye moderasi beragama, seperti yang dicanangkan oleh Kementerian Agama, perlu diperkuat untuk mencegah konflik sektarian yang dapat dipicu oleh ketegangan di India-Pakistan.

Eskalasi konflik India-Pakistan dalam dua tahun terakhir, yang dipuncaki oleh serangan Pahalgam 2025, telah membawa kedua negara ke ambang perang dengan ancaman nuklir yang mengintai. Bagi Indonesia, konflik ini bukan hanya isu geopolitik, tetapi juga ancaman terhadap stabilitas ekonomi dan sosial. Dengan pendekatan diplomasi yang bijak dan langkah antisipatif, Indonesia dapat meminimalkan dampak negatif sambil tetap menjaga hubungan baik dengan kedua negara. Dunia kini menanti apakah dialog damai dapat mencegah bencana yang lebih besar.