Beranda Ciloteh Palanta Surau Muliadi Katinggian Ciloteh Palanta Surau 2 : Pemabuk dan Gurunya

Ciloteh Palanta Surau 2 : Pemabuk dan Gurunya

Pemabuk
Foto Ilustrasi ( ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra ) Surau tertua atap Ijuk di Sicincin Kab Padang Pariaman.
Salah seorang murid pengajian bertanya pada gurunya di palanta suraunya.”Guru..! Saya seorang pemabuk. Orang-orang di sekitar tempat tinggal saya banyak membenci kebiasaan saya itu, 

Apapun alasan saya pemabuk itu, kata mereka, prilaku yang dibenci Allah dan sangat  mengganggu kenyamanan orang-orang di lingkungan tempat saya tinggal.

Jawab sang guru, “tentu saja orang-orang tidak menyukai kebiasaanmu itu !“

Apakah sifat dan perangai saya yang pemabuk itu harus saya  perbaiki dan saya lawan ?. Bukankah segala sesuatu yang terjadi pada mackluk di dunia ini, semuanya atas kehendak dan izin Allah !

Lantas, untuk apa saya  harus melawan kebiasaan saya sebagai pemabuk. Sebab jika saya melawan kebiasaan tersebut, berarti saya melawan Allah, melawan kehendak Allah   itu. melawan kehendak Allah tentu pekerjaan yang mengandung dosa besar ” kata  murid surau itu menguji gurunya.

“Aduh.. Maafkan saya ” , kata sang guru mengomentari pertanyaan dan pernyataan sang murid. ” Karena saya telah telah salah sangka padamu selama ini. Ternyata imanmu sangatlah kokoh. Peganglah erat-erat imanmu yang demikian. Jangan imanmu itu hanya jadikan sebagai alat berhujah denganku. ” ujar sang guru.

Jawaban sang guru yang demikian membuat si murid tercengang heran dan berkata, “saya ini kan orang pemabuk !, mengapa guru katakan saya ini orang yang beriman ? ” tanyanya heran.

“Bukankah kau orang yang tulus? jawab sang guru. Sedangkan untuk berniat melawan Allah saja engkau tidak ada, apalagi untuk melakukan melawan pada Allah?. Buktinya engkau menerima semua prilaku pemabuk itu dengan lapang hati, sehingga engkau bersyukur jadi seorang pemabuk”.

Maka dengan begitu, kata sang guru, pertahankan terus dalilmu itu hingga sampai ke akhirat nanti, jika memang itu adalah kehendak Allah buatmu.  Bukan kehendak Allah pada nafsu syetan yang hidup dalam peredaran darah dan menguasai hatimu? ujar sang guru dengan suara tenang, sambil senyum dan sorot mata yang mengancam.

Dan jika engkau dilemparkan Allah ke neraka, saya pun yakin bahwa engkau tidak akan protes terhadap Allah, sebab engkau orang yang patuh pada Allah, seperti yang engkau katakan tadi, dan tidak patuh pada syetan yang mengajari kau berdalih itu. ” terang sang guru.

Menyadari bahwa sang guru, menolak pernyataan dan dalilnya, si murid terdiam dan menundukkan kepala, karena merasa bersalah, seraya berucapkan, “maafkan saya guru !”.

 

 

Facebook Comments