KabaSumbar – Nyaris sejauh mata memandang, dampak bencana Hidrometeorologi hanya menyisakan puing-puing bekas banjir bandang dan galodo di lahan pertanian masyarakat di Kecamatan Junjung Sirih, Kabupaten Solok.
Dilingkungan pemukiman, di dalam rumah hingga ke tempat mandi, sendimen lumpur terus dibersihkan dengan cara bergotoroyong, bahkan dibantu personil TNI dan mobil pemadam kebakaran bagai. Hingga lebih satu pekan bencana tiba, duka lara masih membekas di wajah-wajah warga yang menahan derita.
Musibah banjir. seketika telah membuat hidup warga berubah. Semua luluh lantak. Bahkan ketika air telah mengecil, yang tertinggal bukan hanya lumpur, batu dan potongan kayu, tetapi juga trauma.
Tatkala puing-puing masih menjadi problema, maka bantuan bukan lah sekadar benda. Ia menjadi penyangga hati, tanda bahwa duka tak ditanggung sendiri.
Terbaru, bentuk kepedulian dengan empati yang tinggi datang tanpa aba-aba. Asosiasi Pedagang Parfum Refill Indonesia (APPRINDO) yang bermarkas di Cimahi Jawa Barat, menyalurkan empati melalui gerakan APPRINDO Peduli.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 522 item bantuan berupa kasur, karpet, dan surpet disalurkan langsung ke nagari-nagari terdampak di Kabupaten Solok, Sabtu (13/12/2025).
Terhadap itu, Ketua DPP APPRINDO, Wendra Friadi, menyebutkan donasi yang terkumpul nyaris menyentuh Rp 600 juta dan masih terus mengalir hingga saat ini. Bantuan itu dibagi untuk tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Alhamdulillah, teman-teman APPRINDO peduli bisa menghimpun donasi dan menyalurkannya kepada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Mudah-mudahan bantuan ini meringankan beban mereka,” ujarnya. Nada suaranya tenang, namun empati terasa kuat.

Kata Wendra, bantuan ini bukan kali pertama salurkan..Sebelumnya tahun 2024 silam, APPRINDO juga turun untuk membantu warga yang terdampak bencana di Pasaman Barat. Sebanyak 2 ton beras juga disalurkan kala itu.
Di Solok, bantuan menyasar Nagari Kotobaru, Salayo, Gantung Ciri, Koto Hilalang, Koto Sani, Saningbaka, Muaro Pingai, dan Paninggahan serta Gawan Kota Solok.
Di Agam, distribusi difokuskan ke Nagari Palembayan. Peta kebutuhan dibaca dengan cermat. Bukan dari balik meja, melainkan dari tapak sepatu relawan yang menyusuri lumpur.
Koordinator APPRINDO Peduli Kabupaten Solok, Indra Jaya, memilih memaksimalkan peran relawan lapangan ketimbang menumpuk bantuan di posko-posko resmi. “Kami menyesuaikan dengan kebutuhan riil warga. Banyak rumah rusak parah bahkan hilang. Sebagian warga masih bertahan di pengungsian atau menumpang dengan fasilitas seadanya,” tuturnya.
Ia juga menyebutkan kekuatan kolaborasi relawan nagari, komunitas motor trabas SoHard, hingga relawan Muhammadiyah. Ada yang datang membawa tenaga, ada yang menyumbang armada. Semua bergerak dengan satu niat, meringankan beban sesama.
Di Paninggahan, Gio Fanesta, seorang relawan muda, melihat langsung celah kebutuhan yang sering luput.
“Sembako kadang menumpuk di posko. Tapi kasur dan tikar masih sangat kurang. Banyak rumah sampai hari ini tertutup lumpur dan genangan. Orang-orang tidur seadanya. Bantuan kali ini, tepat sasaran,” katanya.
Takala menyisir salah satu sudut Nagari Paninggahan yang terdampak parah, Yanti (48) warga setempat, menerima kasur dengan mata berkaca-kaca. Sejak galodo datang, ia menumpang di rumah kerabat. Rumahnya tempat berteduh keluarga, lenyap tanpa sisa.
“Waktu itu datang sore hari. Alhamdulillah kami sempat menyelamatkan diri,” ucapnya lirih.
Ia terdiam, menarik napas. Lalu berkata lirih.
“Sekarang, tempat rumah kami dulu tinggal kerikil, batu besar, dan kayu gelondongan. Kalau terjadi malam hari, entah apa yang akan terjadi.” ujarnya dalam sabak.
Kasur dan karpet itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi Yanti dan banyak warga lain, bantuan
APPRINDO adalah awal dari pemulihan tempat merebahkan tubuh, menata napas, dan menyusun kembali hari esok.
Ditengah lingkungan dan rumah terdampak bencana yang masih dibungkus lumpur yang basah, solidaritas APPRINDO menjelma menjadi penyemangat dan harapan. Cahaya hidup mulai menghangatkan malam-malam panjang para penyintas dan menumbuhkan keyakinan bahwa bangkit pasti terjadi. ( */Irman Kuto)

Facebook Comments