Basa-Basi yang Bernilai: Fatis sebagai Cermin Kesantunan Orang Minang
Oleh: Muhammad Fawzan
Orang Minangkabau dikenal pandai berbicara dan berhati-hati dalam bertutur. Bagi mereka, kata adalah cermin hati, dan tutur adalah wajah budi. Dalam kehidupan sehari-hari, kesantunan itu sering hadir dalam bentuk bahasa fatis, yaitu sapaan ringan, basa-basi, atau kalimat tanya yang tampak sederhana, tapi sarat makna sosial.
Dari Sapaan Jadi Silaturahmi
Basa-basi seperti “Ka pai ka pasa, Mak?” atau “Baru pulang kuliah, kawan?” terdengar ringan, tetapi punya fungsi sosial penting. Fatis dalam percakapan Minangkabau menjadi alat menjaga hubungan antarindividu, sekaligus memperhalus interaksi sosial. Tidak ada yang lebih cepat mencairkan suasana selain sapaan kecil yang diucapkan dengan hormat dan ramah.
Dalam budaya Minang, seseorang yang pandai basa jo basi dianggap berilmu dan berbudi. Pepatah “Lamak di dangga, katuju di hati” menggambarkan bahwa tutur yang indah bukan sekadar menyenangkan telinga, tetapi juga mempererat rasa kekeluargaan.
Fatis dan Nilai Sosialnya
Fungsi fatis mengajarkan orang Minangkabau untuk menghargai kehadiran orang lain. Kalimat tanya sederhana bukan hanya alat komunikasi, tapi juga bentuk kepedulian:
“Angek bana hari ko, yo?”
“Iyo, sabana angek bana.”
Percakapan ringan seperti ini mempererat hubungan sosial tanpa harus membicarakan hal besar. Inilah esensi sopan santun Minangkabau, menjalin komunikasi lewat kehangatan kata.
Ketika Basa-Basi Mulai Ditinggalkan
Namun, di era modern ini, tradisi bertutur dengan fatis mulai memudar. Gawai dan pesan singkat menggantikan percakapan tatap muka. Sapaan seperti “Iyo, kawan” atau “Jadih elok-elok yo” mulai jarang terdengar di kampung atau di kampus. Padahal, di balik kesederhanaannya, bahasa fatis adalah alat perekat sosial yang mencegah manusia dari keterasingan.
Revitalisasi bahasa fatis perlu dilakukan, terutama di kalangan generasi muda Minangkabau. Mereka perlu menyadari bahwa berbahasa dengan sopan bukan sekadar tradisi, tapi juga kecerdasan emosional dan budaya.
Sebagaimana dikatakan dalam pepatah lama:
“Kato nan indah baguno, kato nan kasa babinaso.”
(Kata yang indah membawa manfaat, kata yang kasar membawa celaka.)
Fungsi fatis adalah cara orang Minang menjaga keindahan dalam berbicara, dan selama kata masih dipilih dengan hati, bahasa Minangkabau akan tetap hidup, hangat, dan beradab.

Facebook Comments