BerandaHukumMahasiswa Pelaku Aborsi dan Pemilik Apotek di Kota Padang Terancam Hukuman 15...

Mahasiswa Pelaku Aborsi dan Pemilik Apotek di Kota Padang Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Aborsi
Mahasiswa pelaku aborsi dan pemilik Apotek Indah Farma di Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar) telah ditetapkan sebagai tersangka dan terancam hukuman 15 tahun penjara.

Tersangka terbukti telah menjual obat tidak sesuai resep dokter kemudian digunakan untuk aborsi.

Sementara, empat orang mahasiswa berinisial AHS (20), ND (20), FS (20) dan AS (25) juga ditetapkan sebagai tersangka. Mereka merupakan pasangan yang hamil di luar nikah, kemudian melakukan tindakan aborsi.

Kapolresta Padang, Kombes Pol Imran Amir mengatakan, para tersangka dikenakan pasal berlapis. Di antaranya undang-undang kesehatan dan perlindungan anak.

“Undang-undang pokoknya adalah kesehatan dan juga undang-undang perlindungan anak. Kami lapis juga pasal ikut serta dan ikut membantu,” ujar Imran di Polresta Padang, Senin (15/2/2021).

Para tersangka dikenakan pasal 194 juncto pasal 196 undang-undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan juncto pasal 55 juncto pasal 56 KUH-Pidana. Dalam pasal ini tersangka diancam 15 tahun penjara.

Kemudian mereka juga dipersangkakan adalah pasal 77 ayat (1) undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Dari pasal ini tersangka terancaman 10 tahun penjara.

Imran juga menegaskan setelah kasus ini terungkap, pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makan terkait upaya penyegelan apotek milik tersangka. Penyelidikan juga dilakukan kepada apotek lainnya yang kemungkinan melakukan hal yang sama.

Sementara, penyelidikan kasus ini terus berlanjut. Termasuk mengungkap adanya indikasi keterlibatan tenaga kesehatan dalam tindakan menggugurkan kandungan tersebut.

“Sementara kami dalami yang bersangkutan (tersangka) untuk mengungkap siapa lagi di belakang yang mengajarkan pemilik apotek untuk tindakan aborsi ini. Kami dalami tentang keterlibatan adanya tenaga kesehatan,” ujarnya.

Sebelumnya diketahui, pemilik apotek telah menjual obat-obatan untuk aborsi sejak 2018. Imran menduga, telah banyak tersangka melayani pasangan remaja yang hamil di luar nikah membeli obat untuk aborsi.

“Awal tahun ini saja, dari tersangka pasangan suami istri ini sudah 60 orang mengugurkan kandungan. Sedangkan apotek ini menjual obat telah beroperasi sejak 2018, mungkin sudah lebih 500 sampai seribu orang melakukan aborsi,” ungkapnya.

Facebook Comments