Irjen Pol Drs H Fakhrizal,MHum, Tokoh Garis Lurus di Jalur Politik

773

KABASUMBAR – Namanya Fakhrizal, jika di kepolisian, nama lengkapnya Irjen Pol Drs H Fakhrizal MHum terakhir menjabat Kapolda Sumbar.

Terlahir di Kamang Mudiak, Pakan Sinayan Agam, Sumatra Barat dan menjadi semenda, urang Sumando Sungai Sirah, Sungai Limau, Padang Pariaman, Sumbar setelah menikahi Ade, gadis cantik yang berprofesi sebagai Peragawati.

Tahun 2020 ini Fakhrizal genap berusia 57 tahun, belum terlalu tua dan masih kuat. Tampilannya masih gagah dengan kumis melintangnya. Itu karena kebiasaan bagus Fakhrizal, berolahraga.

Pensiun dari polisi, memilih jalur politik. Targetnya bisa melanjutkan pengabdian di Sumbar sebagi seorang gubernur.

Kini, bersama Genius Umar, dia merancang impian itu. Maju jadi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dengan nomor urut 3.

Apa yang dicari Fakhrizal? “Saya ingin memperbaiki kampung halaman,” katanya satu kali kepada wartawan.

Fakhrizal memang punya visi negarawan, jika dikampungnya disebut Jenderal Niniak Mamak. Sikap seorang yang tidak suka kampungnya diusik oleh segelintir kelompok saja.

“Pembangunan itu harus merata dan dirasakan semua elemen masyarakat,” tambahnya saat itu.

Polisi Fakhrizal memang tidak suka dengan kesewenang wenangan. Dia adalah penganut garis lurus di jajaran kepolisian.

Saat bertugas sebagai Kapolda Sumbar dia banyak membereskan bengkalai kerja yang telah berusia tahunan.

Dia membayarkan kewajiban negara atas korban salah tembak terhadap warga Pasaman dan Bukittinggi.

Dia membantu mengembalikan tanah Mak Reno di Bypass Padang yang dirampas seseorang tanpa hak.

Ada banyak cerita garis lurus yang telah dibuat Fakhrizal saat jadi kapolda. “Saya paling tidak suka dengan kesewenang wenangan, saya ingin hukum duduk dengan haknya,” katanya mengulang penegasannya.

Fakhrizal orangnya juga tidak tegaan. Jika berhadapan dengan kemiskinan, ketiadaan, musibah dan bencana dia tak pernah tinggal diam.

Saat pasar Lubuk Alung terbakar dia bantu ratusan juta. Saat Sumbar kena tsunami Fakhrizal dan Ade, sang istri, berkeliling menghantar bantuan, uang dan sembako.

Naluri kemanusiaan Fakhrizal terasah sejak kecil. Hidup sebagai anak tentara punya solideritas berkawan tinggi. Jika ada kawannya dipukul seseorang tanpa salah, Fakhrizal tampil melawan.

Di kalangan kepolisian Fakhrizal juga dikenal keras dan tegas. Dia ingin semua urusan berjalan lurus.

Tetapi sayang, saat memasuki dunia politik pilkada, langkah Fakhrizal tidak semulus di kepolisian.

Dia dihadang banyak trik trik politik yang tak pernah kenal kawan maupun lawan. Dia terjungkal di jalur independen.

Saat maju di jalur parpol pun dia juga menghadapi situasi pelik. Fakhrizal dan Genius baru dapat dukungan parpol saat di masa injury time atawa last minute atau di hari hari terakhir menjelang pendaftaran ke KPUD sumbar.

Tetapi konsistensinya mempertahankan pasangannya Genius Umar sangat patut diacungi jempol.

“Saya kalau tidak sama Genius tidak maju, silahkan usung calon lain saja,” kata Fakhrizal mendaftar ke koalisi partai Golkar, Nasdem dan PKB.(Awe)