Penjelasan Epyardi Asda Soal Marah Saat Pembagian Sembako Di Nagari Sirukam Kab Solok

108
BERBAGI

KabaSumbar.net – Video mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Epyardi Asda marah-marah kepada personel kepolisian dan Satpol PP beredar di media sosial, khususnya WhatsApp. Peristiwa itu diketahui terjadi di Jorong Gantiang, Nagari Sirukam, Kabupaten Solok, Sumatra Barat (Sumbar), Kamis (30/4/2020).

Dalam video itu, politisi PAN tersebut tampak tak menerima kegiatannya membagikan sembako dibubarkan. Padahal di nagari sebelum nya tidak ada masalah.

Menanggapi hal itu, Epyardi Asda membenarkan bahwa saat itu ia terbawa emosi saat pembagian sembako yang akan dilakukan di nagari ke-20 dari 74 nagari yang telah ia rencanakan. Sembako itu merupakan zakat tahunan Epyardi Asda.

Loading...

Pembagian sembako seperti ini juga merupakan kegiatan rutin yang ia lakukan Epyardi Asda bersama keluarga besarnya setiap tahun.

“Ketika saya datang ke Sirukam, saat itu pukul 15.00 WIB, awalnya, kami datang ke kantor wali nagari, namun kosong. Lalu, ditelepon wali nagari, kata wali nagari tempatnya (pembagian sembako) dipindahkan,” ujarnya ketika dihubungi kabaSumbar.net

Lalu, Epyardi bersama rombongan mendatangi lokasi yang ditentukan wali nagari tersebut. Tapi, sampai di lokasi, ia menjumpai banyak anggota polisi dan Satpol PP.

“Saya jadi bingung, ada apa? Lalu, saya pergi ke masjid untuk menunaikan salat, karena waktu asar sudah masuk. Saat jalan ke masjid, banyak ibu-ibu yang mengeluh dan menangis kepada saya. Mereka mengaku diintimidasi dan diusir oleh Satpol PP, mereka datang ke lokasi hanya untuk melihat, dan itu tidak berkerumunan,” ucapnya.

Karena itulah, jelas Epyardi, ia merasa emosi. “Mungkin karena sudah sore dan saya juga capek, bulan Ramadhan juga, sebagai manusia biasa, akhirnya emosi juga saya mendengar banyaknya keluhan dari orang tua kepada saya, Kata mereka acara ini dihalang-halangi oleh petugas,” jelasnya.

Epyardi juga tidak menyangka juga hal itu terjadi. Padahal, di 19 nagari sebelumnya yang dilakukan pembagian sembako, tidak pernah Satpol PP datang. “Darurat kata-kata saya, akhirnya saya bilang, anda Satpol PP seharusnya melindungi masyarakat, bukan menakut-nakuti,” ujarnya.

Padahal, kata Epyardi, ia datang ke nagari tersebut untuk menunaikan zakat demi meringankan beban masyarakat. “Harusnya, dijelaskan (Satpol PP) sejak awal kami datang, ini boleh dan ini tidak boleh. Memang keluar kata-kata saya, kami ke sini untuk menunaikan zakat. Kenapa (Satpol PP dan Polisi) ramai-ramai seperti ini, seperti mau nangkap maling, nggak ada maling di sini,” katanya.

Ditegaskan Epyardi, selama 15 tahun menjadi anggota DPR, ia tidak pernah melanggar aturan. Ia mengaku paham dengan aturan. “Saya Epyardi Asda, 15 tahun jadi anggota DPR, tidak ada saya melanggar aturan. Semua saya ikuti aturan ini, dan saya ikut membahas masalah ini. Saya juga orang partai dan saya tahu bagaimana aturannya. Insyaallah, saya tidak ingin masyarakat saya di Kabupaten Solok ini kena Corona,” ujarnya.

Sementara itu, kata Epyardi, dalam kegiatan sebelumnya, juga didatangi wakil bupati, kapolsek, serta pihak wali nagari. Namun, saat di Sirukam, tidak ada yang datang. “Saya memang agak emosi sedikit. Saya mohon maaf kepada pihak terkait, karena mungkin bulan Ramadhan. Saya juga sudah capek serta saya juga sudah agak terlambat salat, makanya saya berkata seperti itu,” katanya.

Pembagian sembako yang dilakukan Epyardi Asda merupakan kegiatan rutin yang ia lakukan bersama keluarga besarnya setiap tahun. “Sudah menjadi tradisi bagi saya dan keluarga besar saya untuk mengeluarkan zakat setiap tahunnya. Dan tidak asing lagi bagi masyarakat di Kabupaten Solok dan juga Sumatera Barat. Semasa saya menjadi anggota DPR RI dari PPP, di mana setiap tahun saya selalu membayarkan zakat saya. Tapi biasanya saya bagikan di 11 kabupaten kota sesuai kapling saya dan di Jakarta di mana tempat perusahaan saya berada,” jelasnya.

Lalu, mengingat pada saat ini, di seluruh Indonesia, khususnya Kabupaten Solok ditimpa musibah COVID-19, maka Epyardi beserta keluarga besarnya sepakat untuk menyerahkan zakatnya lebih banyak untuk warga di kampung halamannya, Kabupaten Solok.

Pembagian sembako itu, katanya, dimulai 28 April, bertepatan dengan hari pernikahannya ke-29. “Di nagari sebelumnya aman saja, tidak ada kendala. Kami menyerahkan sembako hanya secara simbolis, kemudian akan dilanjutkan oleh tim atau perangkat nagari. Cuma di hari ke tiga pembagian itu saja yang bermasalah,” ungkapnya.

Epyardi mengatakan proses pembagian sembako yang ia lakukan hanya dalam rentang waktu 15 menit sampai setengah jam saja. “Kami juga tidak lama-lama, hanya sebentar, kita serahkan secara simbolis, lalu kita pergi,” katanya. (yendra/ZE)

Loading...
loading...