China memuji langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam mengamankan ekonomi Indonesia

15
BERBAGI

KabaSumbar.net – Song Tao yang datang bersama Direktur Jenderal Biro I IDCPC hingga Duta Besar China untuk Indonesia YM Xiao Qian mengungkapkan bahwa selama masa kepemimpinan Jokowi, ekonomi Indonesia bisa berkembang baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Saya gembira sekali kedua kalinya bertemu dengan yang mulia, dan sudah tiga tahun berlalu dan saya melihat beberapa tahun ini di bawah pimpinan yang mulia, ekonomi Indonesia berkembang dengan bagus,” jelas Song Tao.

Benarkah ekonomi Indonesia sebagus yang dibilang Song Tao? Untuk membuktikannya, kumparan mencoba mengujinya dengan beberapa indikator:

1. Pertumbuhan Ekonomi (2014-2018)
Indikator pertama adalah pertumbuhan ekonomi. Dalam data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 6 Februari 2019, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2018 sebesar 5,17 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 2017 yang hanya 5,07 persen.

Deretan gedung bertingkat di kawasan Petamburan, Jakarta. Foto: Antara/Aprillio Akbar
Jika ditarik tiga tahun kebelakang lagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 merupakan yang tertinggi sejak 2014. Pada 2014 atau kala Jokowi pertama kali menjadi presiden, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,01 persen. Setahun kemudian atau 2015 justru turun menjadi hanya 4,88 persen. Namun pada 2016 berhasil naik menjadi sebesar 5,03 persen.

“Pertumbuhan ekonomi 5,17 persen tertinggi sejak 2014, kalau 2013 kan masih 5,56 persen, jadi tertinggi sejak 2014,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, di kantornya, Jakarta.
2. Realisasi Investasi Asing (2014-2018)
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM), realisasi penanaman modal asing (PMA) yang masuk ke Indonesia sejak 2014 hingga 2018 mengalami naik turun, cenderung stagnan. Pada 2014, realisasi PMA Rp 307 triliun. Pada 2015 naik menjadi Rp 366 triliun. Setahun kemudian atau pada 2016 naik lagi menjadi Rp 396,5 triliun.
Pada 2017, realisasi PMA naik menjadi Rp 430,5 triliun. Sayangnya pada 2018 justru turun menjadi Rp 392,7 triliun.
Kepala BKPM Thomas Lembong kala itu mengatakan, turunnya investasi asing tahun lalu lantaran dipengaruhi lambatnya eksekusi kebijakan di sektor investasi. Menurutnya transisi perizinan ke sistem Online Single Submission (OSS) cukup mempengaruhi pelambatan modal asing masuk Indonesia.

‚ÄúRealisasi tahun 2018 ini merupakan cerminan dari upaya tahun sebelumnya. Kurangnya eksekusi implementasi kebijakan pada tahun lalu berimbas pada perlambatan investasi di tahun ini, di samping adanya hambatan dari faktor eksternal. Transisi perizinan ke sistem OSS sedikit banyak mempengaruhi tren perlambatan investasi di tahun ini,” kata dia, Januari lalu.
3. Angka Pengangguran (2014-2018)
Berdasarkan data BPS, jumlah pengangguran di era pemerintahan Joko Widodo selama empat tahun terakhir (2014-2019) naik turun. BPS mencatat, jumlah pengangguran pada Agustus 2014 sebanyak 7,24 juta jiwa. Angka ini berkurang sebanyak 170.000 jiwa dibanding jumlah pengangguran pada Agustus 2013.
Pada Agustus 2015, jumlah pengangguran terbuka di Indonesia justru merangkak menjadi 7,56 juta orang atau naik 5,94 persen dibandingkan 2014. Peningkatan ini terjadi karena saat itu banyak PHK.

Ilustrasi Pengangguran Foto: Pixabay
Pada Agustus 2016, jumlah pengangguran terbuka pada Februari 2016 mencapai 7 juta jiwa. Angka ini turun tipis dibandingkan Agustus 2015 yang mencapai 7,56 juta orang.
Pada Agustus 2017, BPS mencatat, angka pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,01 juta orang, turun tipis dibanding Agustus 2016. Lalu pada 2018, jumlah pengangguran berkurang 140 ribu orang menjadi 6,87 juta orang dibandingkan 2017.
4. Daya Saing Indonesia di Dunia (2014-2018)
Selama 4 tahun ke belakang, daya saing Indonesia di mata dunia atau The Global Competitiveness Report (GCR) juga mengalami naik turun. Dalam data Forum Ekonomi Dunia World Economic Forum (WEF), pada 2014, daya saing Indonesia di global menduduki peringkat 34 dari 144 negara.
Pada 2015 berada di peringkat 37 dari 138 negara. Pada 2016 turun peringkat menjadi 41 dari 140 negara. Lalu pada 2017 Indonesia menduduki peringkat 36 dari 137 negara dan pada 2018 menduduki peringkat 45 dari 140 negara.
5. Pergerakan Mata Uang Rupiah (2014-2018)
Berdasarkan data Bank Indonesia, sejak 2014 hingga 2018, rata-rata pergerakan mata uang rupiah per tahunnya mengalami kenaikan. Misalnya pada 2014 Rp 11.878 per dolar AS. Pada 2015, naik menjadi Rp 13.391 per dolar AS.
Lalu pada 2016 rata-rata pergerakan rupiah selama setahun turun tipis menjadi Rp 13.307 per dolar AS. Pada 2017, ekonomi dunia mulai dihampiri ketidakpastian membuat pergerakan rupiah sepanjang tahun rata-rata Rp 13.384 per dolar AS.
Pergerakan rupiah selama 2018 semakin liar menjadi Rp 13.882 per dolar AS. Kondisi ini terjadi karena ketidakpastian ekonomi dunia semakin menganga, salah satunya karena perang dagang AS dan China yang tak kunjung reda hingga hari ini.

Jika dibeberkan, sejak Juli hingga Agustus 2018, pergerakan rupiah terus dihantam dolar AS. Misalnya pada minggu pertama Juli 2018 sebesar Rp 14.370 per dolar AS. Lalu pada minggu kedua naik menjadi Rp 14.380 per dolar AS. Minggu ketiga Juli naik lagi menjadi Rp 14.480 per dolar AS dan minggu kelima Juli terus naik menjadi Rp 14.492 per dolar AS.

Petugas melayani penukaran uang dolar Amerika di salah satu gerai penukaran valuta asing, Jakarta. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Pada minggu pertama Agustus 2018, rupiah sedikit menguat menjadi Rp 14.475 per dolar AS. Tapi pada minggu kedua, kenaikan tak terhindarkan menjadi Rp 14.621 per dolar AS.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan, pujian yang dilontarkan China harus dilihat dari dua perspektif. Pertama sebagai bahasa diplomasi di mana pujian itu adalah bagian yang biasa digunakan. Kedua, pujian itu juga memiliki argumentasi yang juga cukup kuat.
China, kata dia, tidak memuji pertumbuhan ekonomi di era Jokowi, sebab harus diakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya tidak begitu luar biasa dalam empat tahun terakhir, bahkan seperti terjebak di kisaran 5 persen.
“Tapi pujian itu lebih ditujukan untuk kemampuan pemerintahan Jokowi mempertahankan pertumbuhan ketika ekonomi global mengalami perlambatan dan harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia jatuh ke tingkat terendah. Sementara struktur ekonomi Indonesia cukup fragile terhadap gejolak global,” jelas dia.(*)

Editor : Yendra.
Sumber : kumparan.