Habibie, Tokoh Kebebasan dan Kemerdekaan Pers Indonesia

6
BERBAGI

Oleh: Awaluddin Awe*)

KabaSumbar.net – Saya sempat satu kali memanfaatkan nama BJ Habibie untuk satu kepentingan pemberitaan di media tempat saya bekerja yaitu Harian Bisnis Indonesia.

Peristiwa itu terjadi pada saat Ministerial Meeting Forum Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle, yakni forum kerjasama ekonomi tiga Negara Indonesia, Malaysia dan Thailand.

Saat itu, saya bersama delegasi Indonesia plus Propinsi Sumatra Barat yang dipimpin langsung Gubernur Sumbar Alm Hasan Basri Durin, didampingi Uda Basril Djabar, selaku Ketua Kadinda Sumbar, sedang membahas pertemuan akhir rencana penanaman investasi Johor Corporations di Sumbar, yakni berupa pembangunan pabrik pengolahan wood working dan terakhir diberinama PT Padang Industrial Park (PIP).

Konsep investasi ini adalah, PT PIP membeli hasil produksi asal daerah Sumbar dan kemudian mengekspornya ke luar negeri, termasuk ke Johor Corporations.

Rencana investasi Johor Corp,. ke Sumbar ini sempat memancing emosional BJ habibie yang saat itu juga menjabat Ketua Otorita Batam. Wajar saja. Sebab pada saat itu, Otorita Batam, sedang gencar gencarnya menarik investasi asing, termasuk dari Malaysia dan Thailand.

Entah gimana ceritanya. Tiba tiba saja BJ Habibie muncul di satu TV swasta nasional Indonesia, kalau tidak salah SCTV yang siarannya juga sampai ke satu hotel dibawah Gedung Johor Corporations.

Lewat satu program berita TV itu, Pak Habibie membuat provokasi terhadap rencana investasi Johor Corporations ke Sumbar. Saya masih ingat bahasa pak Habibie waktu itu. “Ngapaian Johor Corporation jauh jauh investasi ke Sumbar, kami siap alokasikan lahan seluas 400 ha di Batam jika memang mau investasi,” kata pak Habibie dalam berita wawancara tersebut.

NALURI kewartawanan saya terpancing oleh statemen pak Habibie. Dalam pikiran saya, jika seorang Ketua Otorita Batam sudah berbicara seperti itu, pastilah investor manapun akan tertarik, termasuk Johor Corporations, pikir saya waktu itu.

Idealisme ke daerahan saya muncul seketika saat itu. Jika tidak ada action, bisa jadi rencana investasi Johor Corporations ke Sumbar akan terganggu. Sebab jika dilihat tingkat nilai investasinya jauh lebih menguntungkan di Batam ketimbang di Sumbar.

Saya kemudian menghubungi Yusuf Faisal, yang notabene sumando orang Indonesia, suami penyanyi Hetty Koes Endang. Yusuf saat itu menjabat bagian PublicRelation Johor Corporation, alias juga mengurus komunikasi wartawan peliput IMT-GT.

Kepada Yusuf Faisal saya sampaikan keinginan mewawancarai CEO Johor Corporation Dato Muhammad Ali tentang statemen pak Habibie di SCTV tadi. Yusuf meminta saya membuat surat permohonan wawancara sekaligus memaparkan urgensinya dan dikirim via faks ke Sekretaris Dato Ali.

Tak lama. Jawaban dari Sekretaris Dato Ali tiba. Dia minta saya naik ke lantai paling atas Tower Johor Corporations sebab Dato Ali berkenan menerima permintaan wawancara eksklusif saya.

Jawaban dari Dato Ali sangat membesarkan hati. Meskipun ada tawaran dari Pak Habibie, Dato Ali tetap akan melaburkan investasinya di Sumbar. Sebab itu sudah menjadi komitmen Johor Corporations.

Bahasa Dato Ali kepada saya waktu itu, uang dapat dicari dimana saja tetapi persaudaraan tidak gampang dicari. Oleh sebab itu, Dato Ali lebih mengkedepankan aspek persaudaraan serumpun dibandingkan prospek investasi, meski pada akhirnya keputusan Dato Ali ini harus dia bayar mahal karena banyaknya masalah dalam investasi di PT PIP itu.

ITULAH keperkenalan saya secara tidak langsung dengan pak Habibie. Beliau dikenal pintar memanfaatkan media untuk kepentingan tujuan politis dan ekonomis lembaga yang dipimpinnya.

Hubungan yang begitu dekat antara Habibie dan media, pada akhirnya ditunjukan dengan cara melepaskan semua ikatan dan hambatan dalam hubungan pemerintah dengan Pers, pada saat beliau menjabat sebagai Presiden RI ke 3 setelah pak Harto lengser.

Salah satu belenggu kemerdekaan Pers yakni SIUPP diberangus oleh Presiden Habibie melalui Menteri Penerangan Yunus Yusfiah. Malah pak Habibie meminta semua aturan yang menghambat kemerdekaan Pers dicabut.

Sejak itulah era kemerdekaan Pers mulai terjadi. Jumlah perusahaan media dan Pers tumbuh seperti cendawan di waktu hujan. Bebas sebebasnya. Seorang yang tidak punya keahlian Pers pun bisa mendirikan perusahaan Pers.

Sebagai seorang Demokrat tulen, pak Habibie pun memberikan kebebasan bagi masyarakat Timor Timur untuk menentukan masa depannya sendiri, yang pada akhirnya memang memilih keluar dari NKRI.

Pak Habibie banyak memberikan pelajaran berharga bagi bangsa ini, termasuk dalam hal membangun kebersamaan dengan istri. Film Ainun Habibie sudah memberikan pelajaran bagi bangsa Indonesia, bagaimana seorang teknokrat dan demokrat sejati, membangun rasa cintanya yang begitu besar terhadap seorang wanita bernama Ainun Habibie.

Walaupun pada akhirnya, Habibie juga yang kemudian memberitahu kepada kita semua bahwa setelah semua di dapat, harta, jabatan dan pangkat, tetapi jika kita sudah tua dan hidup sendiri, sementara anak anak jauh, hidup menjadi sangat tidak berarti.

Ya. Sebelum dia pergi meninggalkan kita pada hari Rabu (11/10) pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto Jakarta, pak Habibie sudah memberikan isyarat kepada kita semua, bahwa pada akhirnya kita lahir sendiri dan kita berpulang kepada Sang Khalik juga sendiri.

Harta, pangkat, jabatan dan anak anak tidak pernah mau pergi bersama kita, pada saat Allah SWT memanggil kita. Mereka hanya sebentar menangis dan meratapi diri kita. Dan setelah itu mereka akan kembali ke rumah dan keluarga masing masing. Dan kita, kemudian tidur sendiri di alam kubur.

SELAMAT jalan bapak BJ Habibie. Kami wartawan Indonesia akan terus mengenang hadiah kemerdekaan Pers yang telah engkau berikan.

Semoga hal ini akan menjadi amal ibadah bagimu di alam sana. Aamiin.(*)

*Penulis, adalah Penanggungjawab Redaksi Kabar Media Grup (KMG) Jakarta, dan Wartawan Kabarpolisi.com Sumbar

Editor : Yendra.